eco-airport ? apa itu ?

ilustrasi bandaraAlhamdulillah bisa nulis lagi di sini, padahal sebelumnya saya upload rencana menulis tentang Cara Sederhana Merancang Rumah, sampai sekarang belum terwujud. Mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan waktu. Sekarang saya justeru tertarik dengan istilah baru eco-airport [mungkin anda pun baru mengetahui atau justeru lebih banyak tau dari saya]

ECOLOGY, ekologi, sebagai penyandaran kata untuk menunjukkan topik lingkungan, saat ini menjadi bahasan yang hangat di masyarakat. Mudah-mudahan ini menjadi ciri tumbuhnya kesadaran kelestarian lingkungan. Berbagai konsep ekologi diikutkan ke dalam aspek-aspek kehidupan. Misalnya eco-river yang maksudnya adalah mengarah pada kelestarian sungai. Eco-urban yang mengarah pada kelestarian lingkungan perkotaan. Dalam urusan perencanaan wilayah juga ada istilah eco-planning sebagai upaya memberikan muatan lingkungan dalam perencanaan. Demikian juga eco-building yang mirip konteksnya dengan green building. Eco dan green memiliki kemiripan.

Ada lagi istilah baru yaitu eco-airport. “Ke depan kami akan menuju kepada `eco-airport` atau `smart airport`,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bhakti dalam konferensi pers International Green Aviation Conference 2013 di Jakarta, Rabu. [ini linknya]

Bandara juga menjadi sumber polusi sehingga perlu penerapan eco-airport. Wajar saja, pesawat dengan dimensi yang lumayan besar telah menggunakan BBM jenis avtur yang besar juga. Lebih melebar sedikit kita bahas bagaimana bandara jika dikaitkan dengan isu lingkungan. Bandara berfungsi sebagai terminal penumpang angkutan udara. Dimensi yang besar mencerminkan kebutuhan untuk menampung manusia dalam jumlah besar. Dari tahun ke tahun bandara terus mengalami pengembangan, penambahan, perluasan dikarenakan desakan kebutuhan. Hari demi hari pengguna jasa pesawat terbang semakin meningkat. Maka, wajarlah jika memunculkan efek lainnya seperti bertambah sesaknya parkir kendaraan. Apakah parkir bukan sumber panas? Ya. Menjadi sumber panas dan sumber bising. Efek rumah kaca yang merusak lapisan ozon, dipermisalkan seperti mobil ber AC. Pengguna mobil di dalamnya tetap merasa sejuk, namun mobilnya melepaskan panas ke sekitarnya dengan panas yang berlipat ganda. Makin banyak penumpang pesawat menuntut perluasan ruangan; ruang cek in, ruang tunggu, ruang keberangkatan, dll. Semua ruang distandarkan dengan sistem AC. Ada ga bandara tanpa AC? Bahkan bandara perintis pun menggunakan AC walaupun tipe AC split. Bandara Internasional sekelas Bandara Soetta sudah jelas menggunakan AC central, mau ga mau harus jenis AC ini, untuk menghemat biaya dan memudahkan kontrol. Siapa sangka AC menjadi sumber boros energy no. 1?

Kembali ke eco-airport tadi, jika pembahasannya bagaimana pesawat mengkonsumsi BBM yang ramah lingkungan mungkin tepat jika disebut eco-airplane. Bagaimana mungkin menempatkan istilah eco-airport hanya pada BBM pesawat sedangkan inovasi sistem AC belum mengarah ke eco-AC? Demikian juga dengan parkir yang menampung ribuan mobil ber AC belum bisa menjadi eco-park.

Mari kita bahas, mungkin ada yang memiliki ide cemerlang untuk pencerahan kita semua…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *