Green Building Ternyata Juga Disukai Oleh Negara 4 Musim

Semula ada persepsi bahwa green building hanya di negara tropis, yang hanya mengenal 2 musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Di daerah tropis seperti negara kita, justeru panasnya yang lebih panjang dari pada dinginnya. Jadi wajarlah kalau perlu penerapan green building di daerah tropis.

Ternyata fakta yang berkembang membalik persepsi tadi. Nun jauh di sana, di Perancis negara yang memiliki 4 musim justeru menerapkan green building. Green building di Indonesia diterapkan untuk mengurangi efek panas dan juga untuk melakukan penghematan energi, sedangkan di sana tujuan penerapan juga terkait iklim. Saat panas tiba, bangunan bisa mendinginkan, sebaliknya saat dingin tiba bangunan dapat menghangatkan. Perlindungan dari panas dan efek lainnya dari musim salju diantisipasi dengan menerapkan teras atau balkon di sekeliling bangunan. Bahkan, tangga turut serta menjadi komponen pelindung artistik sekaligus memiliki nilai shelter.

Perhatikan pada gambar bagaimana keberadaan tangga yang sengaja di ekspos di luar. Bukan berarti di dalam tidak ada tangga. Saat musim dingin dan salju tangga otomatis tidak terpakai, sehingga tangga di dalam yang berfungsi. Perhatikan juga vegetasi yang ada di antara bidang atap dan dinding, itu bukan sekedar hiasan, tetapi sebagai penjaga stabilitas iklim mikro. Vegetasi juga menjadi komponen view yang menyehatkan mata.

green building di perancis perspektif

green building di perancis

green building di perancis balkon

Sumber : www.archdaily.com

Arsitektur Horisontalisme

Pengembangan design arsitektur dapat dimulai dari hal yang sederhana, seperti dari karakter garis horizontal dan vertikal. Dominasi garis horizontal atau mendatar akan menghasilkan bentuk yang datar, rendah dan berkesan dekat dengan alam. Sebagaimana yang telah dirancang oleh Frank Llyod Wright sebuah bangunan cukup dikenal The Falling Water.

Design horizontal sangat cocok diterapkan pada konteks alamiah. Sedikit mengalah dengan keadaan alam, menyesuaikan diri dengan karakter alamiah.

Berikut karya horizontal yang cukup baik, di New Zealand.

Projects Houses Extension Auckland, New Zealand

Architect: Herbst Architects

Photographer: Lance Herbst

Materials: Wood Steel

Arsitektur Horisontalisme

Arsitektur Horisontalisme 2

Arsitektur Horisontalisme 3

Arsitektur Horisontalisme 4

Arsitektur Horisontalisme 5

Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

Rupa-rupanya seiring pergantian generasi arsitek juga diiringi perubahan cara design. Model digital grafis saat ini yang makin membumi menjadi bumerang yang tidak terelakkan bagi calon arsitek sekarang ini. Dulu, para pelopor arsitek nusantara harus berjuang keras untuk bisa mewujudkan imaginasinya ke dalam media grafis agar gambar bisa dimengerti oleh semua orang. Berbagai sudut pandang diolah, direndring memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menghasilkan gambar yang sempurna.
Teknik gambar perspektif man eyes view, bird eye’s view, vermes eye’s view, perspektif 1 titik hilang, 2 titik hilang, axonometri, menjadi makanan pokok arsitek dulu. Tangan mereka menjadi saksi bisu. Tangan mereka terlatih bertahun-tahun di masa kuliah. Tangan mereka bergerak secara reflex seakan ada instrument otomatis yang mengatur proses grafis. Hasilnya, sangat memuaskan. Dahulu, mereka tidak mengenal komputer, bahkan belum mengenal mesin gambar. Jadilah mereka arsitek mumpuni dan dikenal wujud nyata karyanya.
Kemudian, beralihlah nuansa jaman. Industrialisasi juga turut andil menghasilkan alat mekanik gambar, untuk memudahkan para arsitek memproduksi karya grafis. Saat itu merupakan peralihan gradual dari free hand ke sistem mekanik. Maksudnya mesin gambar telah mengurangi beban tangan mereka dari kelelahan. Jadilah keterpaduan yang harmonis antara intuisi free hand nya dengan kemudahan yang ada pada mesin gambar. Para arsitek saat itu mengerahkan imaginasinya di hadapan meja gambar yang lengkap dengan mesin gambar bermerk seperti mutoch, plan master, bofa, tracker, dll.
Bagaimana dengan calon arsitek “next generation”?
Semuanya telah berubah, banyak yang bergeser. Mesin gambar no way, sudah jadul. Bagaimana dengan free hand? Masih berlaku, tetapi berubah wujud. Kalau dulu free hand itu kaitan antara tangan dan pena, sekarang antara tangan dan mouse. Jujur saja, calon arsitek sekarang jika diminta menggambar dengan pena akan glagapan, seperti orang baru belajar gambar, tetapi kalau disuruh menggambar di komputer seperti pakar arsitek kenamaan. Meskipun tidak semua begitu, tetapi mayoritas yang dirasakan para dosen arsitektur mahasiswa mereka seperti tidak bisa menggambar jika tanpa komputer.
Gambaran miris wajah calon arsitek “next generation”. Mereka seperti terjebak dengan obsesi teknologi grafis tetapi melupakan potensi diri. Sesungguhnya bakat sebagai potensi diri arsitek diwarnai kemampuan free hand yang asli. Komputer dengan aplikasi dan softwarenya hanyalah media untuk mempermudah produksi design dan bukan inti penentu design.
Kita tidak bisa juga menutup diri dari kemajuan software design grafis, namun jangan sampai melupakan hak mendasar arsitek dalam merancang adalah kemampuan freehand yang diiringi dengan nalar ilmu design.
Selamat merenungkan..

Siapa Bilang Membuat Website Gampang?

Pertanyaan ini saya ajukan kepada para arsitek atau mahasiswa arsitektur secara khusus. Di tengah kesibukan sebagai ahli rancang bangun, menyebabkan hampir tidak ada waktu untuk menggeluti dunia online. Bahkan bukan menjadi sesuatu yang menarik. Sebagian kecil diantara mereka ternyata masih ada yang suka dengan dunia online. Mungkin karena hobby bawaan yang terpendam dalam intuisinya sehingga yang awalnya hobby berubah menjadi aktivitas rutin.

Sebutlah di sini penulis salah satu diantara yang sebutan arsitek yang menyukai online. Saya kira ini bukan salah jurusan kenapa ada seorang arsitek lebih banyak waktunya di internet. Memang demikian kenyataan yang berlaku bahwa internet lebih tepat sebagai urusan mereka yang menggeluti belajar di bagian informatika. Tetapi itu bukan klaim mutlak. Arsitek yang dulu belajar di jurusan arsitektur sudah terlatih untuk mampu beradaptasi ke bidang apa saja.

Berangkat dari ketidak tahuan tentang internet, dulu di tahun 1998 saya mengenal pertama kali email, dengan nama wasantara net. Di Banjarmasin dibawah pengelolaan PT POS Indonesia. Saya harus membayar email Rp.15.000 per bulan. Kemudian tahun 1999 di Bandung saya diajari kawan lebih intensif tentang internet khususnya email. Di sana lebih banyak hal menarik untuk dipelajari. Ternyata ada email gratis. Akhirnya email wasantaranet saya tutup berpindah ke plasa.com, kemudian buka akun lagi di hotmail.com. Selanjutnya seiring dengan waktu buka lagi akun email di yahoo.com. hingga sekarang saya lebih banyak menggunakan akun gmail.com.

Sebelum saya lanjutkan, perlu diulang kembali statement di atas bahwa saya adalah seorang arsitek.

Sekitar tahun 2005 saya terobsesi sebuah blog yang memotivasi pembaca tentang potensi besar bisnis online. Tidak perlu saya sebutkan nama blognya, karena bukan blog ini yang menjadi bobot penulisan. Hanya satu kesimpulan saya waktu itu bahwa orang memerlukan internet karena memerlukan INFORMASI. Banyak juga yang bercerita bahwa internet dapat menghasilkan uang. Waktu itu saya hanya berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang tanpa banyak modal dan waktu yang dikorbankan. Usaha apa ya?

Hampir tiap malam saya ke warnet, mencari segala informasi tentang internet, tentang bagaimana dapat menghasilkan uang dari internet, dll. Membuka internet bagi yang baru mengenal bagaikan masuk ke dalam hutan belantara, tanpa kita tau dari mana awal langkah dan berakhir ke mana. Masuk sini, keluar di sana, bercabang-cabang, liku-likunya. Masuk website tentang cerita ada yang mendapatkan ratusa bahkan ribuan dollar hanya melakukan klik iklan, seperti PTC, pay to click. Kemudian ada info potensi bisnis affiliasi, diikut juga. Kemudian ada satu tawaran yang benar-benar melelahkan, yaitu menjadi dropshipper di pasar dunia, Ebay. Berhubung Ebay ini berlaku internasional, maka sistem yang diikuti menggunakan dollar. Untuk bisa berjualan di Ebay, harus memiliki akun Paypal. Untuk membuka aku paypal harus memiliki kartu kredit. Berhubung tidak memiliki kartu kredit, bisa menggunakan kartu kredit virtual (VCC). Untuk mendapatkan VCC harus menggunakan jasa pembuat VCC. Waktu itu saya harus mengeluarkan uang 250.000. setelah didapatkan semua, saya pun memiliki rekening paypal yang terintegrasi dengan akun di yahoo.com. Langkah lanjutannya, membuka toko di ebay, registrasi dan buka. Barangnya dari mana? Yang namanya dropshipper seperti makelar juga. Barang milik orang lain kemudian kita yang jual. Caranya? Misalnya ingin jual baju kaos, cari perusahaan pembuat kaos di negara mana saja melalui internet, cek bahan dan ukuran yang tersedia. Selanjutnya baju kaos tadi didesain gambar atau tulisannya agar menarik. Proses design harus menggunakan program design seperti photoshop. Setelah baju kaos dengan design selesai, diupload ke toko Ebay untuk dijual. Jika konsumen tertarik, mereka akan melakukan pemesanan yang selanjutnya pesanan tersebut akan terkoneksi ke perusahaan produsen baju kaos tadi dan melanjutkan ke perusahaan sablon sesuai design. Sebagai makelar kita dapat keuntungan dari selisih harga. Alhamdulillah saya hanya kebagian capek, waktu habis, uang habis, dan saya sangat bersyukur ternyata cara jual beli model dropshipper tersebut dilarang oleh syariat.

Itulah yang sangat melelahkan. Sekarang lupakan ebay. Perhatian saya kemudian tertuju ke website. Karena ternyata kalau mau bisnis online harus ada website sendiri. Bingung lagi. Bagaimana caranya membuat website? Banyak tulisan menyatakan bahwa membuat website gampang. Saya katakan tidak gampang. Pengalaman sudah membuktikan.

Bermodal ketertarikan akhirnya saya coba membuat website gratisan. Awalnya menggunakan ekstension co.cc, jenis website dengan hosting luar negeri tetapi gratisan. Dengan penuh perjuangan untuk mendapatkan tutorialnya, dan akhirnya dapat juga. Tetapi setelah dicoba ternyata sulit. Selanjutnya ada informasi wordpress gampang. Saya coba dengan membuka pertama kali thzarch.wordpress.com. ya benar ternyata gampang. Semangat saya bertambah naik. Semakin semangat menulis. Setelah itu baru sadar ini bukan website tetapi sekedar blog biasa saja. kurang mantap.

Selanjutnya saya coba buka blog gratisan di blogspot. Tidak bertahan lama, saya juga mengalami kesulitan dan kurang tertarik. Akhirnya saya putuskan untuk sekalian membuat website berbayar, domain bayar, hosting bayar. Kalau boleh disebut saya melakukannya otodidak, tanpa kursus dan tanpa pembimbing. Ternyata membuat website dengan berbayar lebih memberi keleluasaan. Awalnya saya menggunakan website murah, dengan platformnya CMS. Kemudian beralih ke wordpress.org. sampai sekarang beberapa website saya tetap menggunakan wordpress.

Sekarang ini 2015 saya baru bisa mengatakan membuat website gampang. Tetapi setelah melewati masa-masa yang panjang. Ini sebagai pesan kepada para pemula bahwa membuat website itu tidak mudah. Untuk bisa membuat website secara instan harus ada instruktur khusus.

InsyaAllah ada tulisan lanjutannya berkaitan dengan wesbite, sepertinya diperlukan para arsitek

Cara Mudah Merubah Batas Maksimum File Upload di WordPress

File yang diupload atau diunggah ke dalam website banyak jenisnya, semuanya tidak terlepas dari 4 jenis yaitu file tulisan, file gambar, file audio dan file video. File yang cukup besar adalah dua file yang disebutkan terakhir yaitu audio dan video.
Dampak dari file yang terlalu besar adalah proses unggah yang lambat dan tentu saja memakan kuota data internet. Selain itu, file terlalu besar tidak bisa diunggah begitu saja ke dalam website. Website yang berbasis pada wordpress memiliki batasan maksimal unggah file. Pengaturan batas maksimal file yang diunggah bisa saja sudah diatur oleh pengelola hosting. Biasanya maksimal file 8 mb.
Kebanyakan dari file audio untuk durasi di atas 1 jam kapasitas file melebih 8 mb. Ini menjadi problem tersendiri bagi pemiliki website. Saat diupload, selalu gagal, karena melebihi kapasitas yang telah diatur maksimal 8 mb. Padahal file tersebut sangat perlu untuk ditampilkan ke halaman website. Beberapa cara dapat dilakukan seperti membuat link ke web penyedia layanan file kapasitas besar seperti yang disediakan oleh dropbox atau google drive. Cara ini sebenarnya bagus untuk menghemat kapasitas space hosting yang dimiliki. Namun, kekurangannya pembaca website saat klik link audio yang telah disediakan beralih ke website lain.
Banyak cara agar kapasitas upload file bisa melebih dari 8 mb, seperti dengan melakukan tambahan php.ini di dalam folder cpanel, atau melalui ftp-access, atau melalui kode-kode html lainnya. Tetapi cara-cara tersebut tidak mudah difahami oleh pemula.
Berikut cara mudah agar file lebih dari 8 mb bisa diunggah tanpa harus melalui website lain sebagai perantara. Caranyaharus masuk lewat c-panel. Sebelum melanjutkan penjelasan ini, cara mudah ini hanya berlaku untuk website dengan platform wordpress, bukan blog wordpress gratis.
Langkah selanjutnya :

1. Cari icon php, klik “select PHP version”

gambar select PHP version

2. Setelah klik “select PHP version” klik “Switch to PHP Settings”

Gambar switch to php settings

3. Arahkan kursor ke tulisan “post_max_size” kemudian klik kotak pilihan angka 2M / 128M. Silahkan pilih angka mana yang sesuai kebutuhan. Misalnya memilih 64M, selanjutnya save.

gambar post max size

Inilah hasilnya setelah memilih 32M

gambar select files upload

Pentingkah Arsitek Menguasai Ilmu Mekanika?

Ilmu mekanika beragam cabangnya, ada mekanik fluida, mekanika teknik, mekanika rekayasa, dll. Paling erat kaitannya dengan arsitektur adalah mekanika teknik. Beberapa perguruan tinggi arsitektur ada yang memberi nama matematika teknik. Mata kuliah tersebut termasuk yang tidak disukai para mahasiswa arsitektur. Hanya sebagian kecil dari mereka yang cukup rileks dengan mata kuliah ini, selebihnya terlalu banyak yang stress menerima pelajaran ini. Entah apa sebab utamanya. Mungkin memang dari semasa SLTA mereka tidak menyukai nya. Padahal, pelajaran ini penting. Buktinya menjadi mata kuliah wajib disajikan di dalam kurikulum arsitektur.

Saudara tua jurusan arsitektur adalah jurusan sipil, dikenal dengan penguasaan ilmu-ilmu hitung seperti mekanika teknik. Dulu, semasa kuliah S1 arsitektur, dosen-dosen arsitektur juga menghindar untuk mengajar mata kuliah ini. Akhirnya perlu pengajar impor dari jurusan sipil. Kami dulu, diajari oleh dosen sipil pada mata kuliah mekanika teknik 1,2,3, serta mata kuliah bahan bangunan. Saat itu, semasa kuliah kondisinya pun sama seperti sekarang mahasiswa menerima pelajaran itu, bosan dan stress. Dosen sipil biasa mengajari mahasiswa arsitektur sama seperti mereka mengajari mahasiswa sipil. Beberapa istilah dan konteks tidak nyambung.

Setelah puluhan tahun berlalu, barulah sadar pentingnya ilmu mekanika. Arsitek yang biasa berpraktek di dunia rancang bangun, selalu dituntut untuk berpikir cepat dalam membuat estimasi biaya, estimasi dimensi, estimasi struktur konstruksi. Kalau seandainya arsitek tidak menguasi berarti harus bergantung dengan orang sipil. Mencari dulu kenalan orang sipil, berhari-hari baru keluar hasil estimasi. Ini kerja yang tidak optimal. Bagi perusahan besar, biro konsultan arsitek, problem ini teratasi karena tersedia SDM yang lengkap. Meskipun demikian, tetap saja arsitek menguasai ilmu mekanika.

Terkadang kita harus berhadapan dengan klien yang ingin membeli jasa arsitek. Saat itu klien akan bertanya estimasi-estimasi. Kalau jawaban kita selalu ditunda seperti kalimat: “nanti kami hitung dulu”, maka bisa jadi klien meragukan bobot kepakaran si arsitek. Oleh karena itu minimal ilmu mekanika yang dikuasai arsitek menyentuh prinsip global tanpa harus masuk ke urusan detil. Dimensi balok/kolom atau bentuk kuda-kuda atau rangka lainnya secara prinsip dapat diyakini aman melalui penilaian global tadi. Selanjutnya rincian mendetil seberapa besar beban atau gaya yang bekerja pada komponen bangunan diserahkan kepada orang sipil. Kalau pun estimasi global meleset masih bisa dilakukan feedback. Tetapi yakinlah kalau sudah menguasai prinsip ilmu mekanika, biasanya deviasi dari hasil hitung sipil tidak terlalu jauh.

Pengalaman empiris dan teoritis terkadang tidak berimbang. Pada dunia kerja pengalaman empiris memiliki peran yang lebih penting dari teori. Itulah profesi ahli. Kita lihat seorang dokter senior akan beda dengan yang baru lulus kemaren. Demikian juga seperti pilot. Penggambaran pilot yang bagus diukur dari berapa lama jam terbangnya. Makin lama berarti menunjukkan lebih professional dalam keahliannya.

Seperti apakah pengetahuan prinsip dalam ilmu mekanika?
Kemampuan seseorang dalam membuat diagramatik yang memperlihatkan gaya apa saja yang bekerja pada komponen konstruksi sudah termasuk pengetahuan prinsip. Gaya tekan, tarik, geser, puntir, momen, friksi, dll termasuk sebutan yang sering didapati pada prinsip mekanika. Misalnya ada gedung bertingkat banyak, gaya apa saja yang bekerja padanya? Demikian juga dengan beban, ada istilah beban statis dan beban dinamis. Apa bedanya? Arsitek mestinya memiliki pengetahuan tentang hal ini. Pada beberapa jenis konstruksi kuda-kuda atap, arsitek mestinya dapat menunjukkan mana balok tarik, balok tekan dan balok netral.

Demikian juga pada konstruksi bawah, pengetahuan tentang daya dukung tanah atau sigma tanah perlu ditanamkan. Sigma tanah diatas 1 menunjukkan tanah tersebut cukup kuat, sedangkan dibawah 1 menujukkan tanah tersebut labil, sehingga harus ada stabilisasi tanah atau model pondasi yang sesuai. Juga, prinsip pancangan kayu galam untuk daerah rawa pun menjadi bagian ilmu mekanaika. Pada rawa yang memiliki kandungan lempung berbeda dengan rawa berpasir. Pada rawa mengandung lempung seperti di Kota Banjarmasin dan beberapa wilayah di Kalimantan tengah, antar pancangan galam harus memiliki jarak, tidak boleh bersentuhan. Kenapa? Padanya berlaku gaya tekan ke samping, yaitu gaya kohesi dan adhesi, merupakan gaya rekat seperti lem sehingga mampu menahan galam tidak bergerak dan berkedudukan stabil di dalam tanah rawa.

Menguasai Hal Detail, Menjadikan Arsitek Makin Mumpuni

 

Dalam sebuah majalah tentang bangunan (saya lupa namanya), di Jakarta ada seorang arsitek yang unik. Dia bekerja tidak sekedar menjadi tukang gambar, tetapi juga benar-benar merancang bangunan dengan penuh kejelian. Bahkan, lebih dari itu dia pun sekaligus berperang sebagai pelaksana pembangunan.

Beberapa karya telah dia hasilkan. Setelah membaca majalah tersebut, saya terus memikirkan keunikan arsitek tadi. Apa uniknya?

Mungkin profesi seperti dia ini sangat langka. Klien yang ingin order rancang bangun harus bersabar dengannya, karena agak lama dalam penyelesaian produk gambar dan pelaksanaan pembangunan. Hal ini sudah dia nyatakan dengan jelas kepada klien. Ternyata, klien tetap saja membutuhkan keahlian arsitek ini. Diantara perkara detil yang dimaksud : skoneng dari kusen, alur air pada dinding, sudut siku pertemuan bidang (bahasa Banjar : benangan), nat keramik, sistem perpipaan, dll.

Keberhasilan dalam menyelesaikan perkara detil telah menjadikan arsitek ini semakin mumpuni wawasan dan pengalamannya. Klien pun puas dengan hasil kerjanya.

Bagaimana dengan anda wahai calon arsitek? Sudahkan siap dengan unsur detil?

Tentu, harus bisa. Semasa kuliah mahasiswa arsitek sudah digembleng dengan unsur detil. Di semester awal sudah diminta membuat garis lurus vertikal dan horizontal yang harus sejajar satu sama lain, tanpa bantuan penggaris. Kehati-hatian dalam urusan detil pada tugas kuliah membawa tradisi yang bagus pada praktek arsitek di dunia nyata.

Emergency Exit, Bagian Dari Design yang Tidak Boleh Diabaikan

Emergency exit (EE) atau jalur evakuasi penyelamatan manusia dari bahaya sangat penting diperhatikan dalam prtangga emergency 1oses desain. Desain tidak hanya sebatas pada bangunan saja melainkan juga meliputi kawasan yang luas, seperti kawasan wisata, kawasan permukiman dan lain-lain.
Pada bangunan bertingkat, EE biasanya berada pada core bangunan. Jika terjadi kebakaran penghuni bangunan harus bisa mencapai core tersebut dengan mudah. Pengguna bangunan harus mengetahui ke mana harus bergerak cepat agar selamat dari bahaya kebakaran tadi. Demikian juga di kawasan tertentu yang diperuntukkan untuk publik, saat kondisi emergency pengunjung kawasan harus memiliki pengetahuan tentang jalur evakuasi.
Tragedi di Mina yang baru saja terjadi yang telah menewaskan 700 lebih jama’ah haji yang ingin melaksanakan proses melempar jumrah, merupakan contoh betapa berbahayanya keadaan yang ada. Meninggalnya jama’ah tersebut karena terinjak-injak oleh sekian banyak jama’ah lainnya. Mereka berada di sebuah jalur sirkulasi yang padat menuju titik yang sama. Pemicunya, diantara mereka ada yang berhenti sehingga menimbulkan tumbukan dari jama’ah belakangnya yang terus bergerak maju, sehingga terjadilah aksi saling berdesakan. Keadaan diperparah dengan adanya sekelompok jama’ah yang berjalan berbalik arah. Dalam keadaan ini, mereka yang lemah secara fisik akan menjadi korban. Meskipun kecepatan berjalan tidak seperti kendaraan, tetapi karena ribuan orang berjalan bersamaan menghasilkan tumbukan yang luar biasa, seakan tidak bisa dihentikan gerakannya. Banyak masalah yang melatarbelakangi kejadian Mina tersebut. Namun, secara arsitektural ini termasuk problem sirkulasi.
Sirkulasi terbagi dua, yaitu searah dan berlawanan arah. Pada sirkulasi kendaraan, model sirkulasi berlawanan arah lebih rawan terjadi kecelakaan dibandingkan sirkulasi searah. Pada sirkulasi searah, yang menubruk adalah kendaraan yang di belakang. Demikian juga pada jalur pejalan kaki, yang menubruk adalah pejalan kaki yang di belakang. Biasanya pada jalur sirkulasi yang panjang ditempatkan zona istirahat, sehingga arus kendaraan atau pejalan kaki tidak terganggu. Zona istirahat ini dapat difungsikan sekaligus sebagai jalur EE. Zona EE ini dapat dipermisalkan dari sebuah tangga. Sesuai standar, setelah menaiki 11 anak tangga diperlukan area istirahat yang disebut bordes, kemudian lanjut lagi naik hingga anak tangga ke 22.
Jalur EE, sesuai standar keselamatan, harus terpisah dengan jalur umum. EE ini menyangkut nyawa manusia. Fisik orang yang celaka harus segera mendapatkan pertolongan. Pada rumah sederhana sekalipun, pintu akses keluar mestinya ada dua buah. Tidak cukup hanya satu buah pintu yang ada di depan saja, tetapi bagian belakangpun harus tersedia. Gunanya, saat ada emergency mudah untuk menyelamatkan diri. Di setiap kamar hotel atau apartment, pintu penyelamatan pun tersedia dipinggir-2 bangunan. Bahkan, balkon kamar dapat dijadikan sebagai jalur EE.
koridor 3Bagian dari bangunan yang merupakan area sirkulasi dikenal dengan istilah selasar dan koridor. Selasar mirip teras, sedangkan koridor mirip lorong. Problem sirkulasi sering terjadi di koridor. Koridor yang terlalu sempit cukup berbahaya kalau terjadi kondisi keadaan darurat. Koridor banyak ditemukan pada hotel atau apartment. Bentuk hotel yang memanjang, koridornya pun panjang. Kalau koridor yang panjang tidak disediakan area EE akan membahayakan pengguna bangunan jika ada keadaan darurat. Terlebih lagi koridor panjang dan sempit, para pengguna bangunan dalam keadaan darurat harus berdesakan dan berebut untuk selamat. Bisa jadi diantara mereka jatuh, pingsan dan kemudian tewas terinjak-injak di koridor itu. Tewas bukan karena faktor darurat tetapi justru karena terinjak-injak. Ini adalah kondisi yang ironis.
Pada keadaan yang lain, sebagus apa pun bangunan atau kawasan yang dirancang, tetap saja terbuka peluang kejadian darurat. Arsitek yang benar, telah memikirkan EE sejak proses design ia lakukan. Nah, kondisi lainnya menyangkut keadaan darurat adalah pengguna bangunan atau kawasan tidak memperdulikan posisi EE. Padahal bangunan atau kawasan itu memiliki EE yang telah memenuhi standar design. Pengguna jalan tol harus memperhatikan rambu lalu lintas jalan tol. Mereka harus mengetahui di mana letak rest area. Terkadang pengendara diserang kantuk atau ada masalah dari kendaraannya. Jika pengguna jalan tol tidak memperhatikan hal tersebut, bisa jadi akan mengalami masalah di tengah jalan, tiba-tiba berhenti di jalur yang tidak boleh berhenti. Sementara pengendara lain merasa pada jalur yang ia lewati adalah jalur cepat. Tabrakan sangat sulit untuk dihindari.
selasarJadi, ada dua pelaku yang harus memperhatikan EE yaitu arsitek dan pengguna bangunan atau kawasan. Kalau arsitek tidak memperhatikan EE ini sangat keterlaluan, bahkan tidak bisa disebut arsitek. Adapun jika pengguna tidak memperhatikan EE masih bisa dimaklumi, karena banyak sebab seperti tingkat pendidikan rendah, tidak faham, tidak peduli, kurang sosialisasi atau penjelasan tentang bangunan atau kawasan.
Seperti tragedi Mina, ada beberapa jama’ah Indonesia yang menjadi korban. Padahal, jalur yang dilewati bukan jalur yang digunakan jama’ah haji Indonesia. Petugas haji Indonesia terus mengingatkan jama’ah untuk mengikuti himbauan petugas. Termasuk waktu-waktu pelaksanaan lempar jumrah yang relatif aman. Ini adalah upaya sosialisasi. Adanya jama’ah haji Indonesia yang terikut ke jalur yang menjadi Tragedi Mina, disebabkan mereka tersesat atau terpisah dari rombongan jama’ah Indonesia.

Bencana Asap, Tantangan Baru Bagi Para Arsitek

Sebenarnya telah lama kita diserang oleh asap. Bencana asap telah menjadi menu rutin tahunan, saat musim kemarau tiba. Sorotan tajam pemberitaan media saat itu selalu mengarah ke 2 pulau Kalimantan dan Sumatera. Apa sebabnya? Dari 2 pulau inilah terdeteksi ribuan titik api. Akibat terbakarnya lahan, baik hutan maupun lahan rawa gambut. Jika sekedar pepohonan yang terbakar, setelah batang menjadi arang asap pun hilang. Namun, jika lawan rawa gambut yang terbakar, asap bertahan hingga waktu yang lama.

Tahun 2015 ini bencana asap datang kembali. Sebelum bencana asap ini muncul, beberapa ciri sudah terdeteksi seperti gelombang udara panas yang melanda Pakistan, India, Banglades, dan sebagian negara Timur Tengah, El Nino. Setelah itu berlanjut pada peningkatan suhu udara, kelembaban semakin turun, udara kering meningkat. BMKG pun telah menyampaikan informasi durasi panas tahun ini bakal lebih lama menimpa Indonesia. Informasi demi informasi telah disampaikan, termasuk himbauan untuk berhemat air. Selanjutnya muncul titik pas di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Dari hari ke hari titik panas ini semakin bertambah hingga mencapai angkar ribuan hotspot. Beberapa hutan terbakar, lahan pertanian terbakar, hutan galam terbakar, lahan gambut terbakar. Kebakaran demi kebakaran hutan dan rawa ini semakin tidak terkendali karena pengaruh el nino yang telah mengeringkan udara. Sampailah giliran berikutnya, asap mengepul di area hotspot, kemudian menyebar ke segala penjuru sesuai hembusan angin yang membawanya. Akumulasi asap pun tidak terkendali hingga merata di seluruh ruang udara kota-kota di Kalimantan dan Sumatera.

Rasa was-was bahaya asap menghantui masyarakat. Penyakit ISPA menjadi top trending di Kalimantan dan Sumatera. Ribuan orang telah terkena ISPA. Rumah sakit bahkan tidak sanggup menampung mereka karena melebih kapasitas yang tersedia. Sepertinya ISPA ini sepele, karena tidak ada data signifikan yang menunjukkan kematian akibat ISPA. Tetapi, penyakit pernafasan ini dapat membunuh manusia secara perlahan. Mulai dari batuk, hingga menjadi penyakit paru (TBC). Jika asap pekat terhirup, sama artinya menghirup zat beracun seperti CO ke dalam pernafasan, dan bahkan menyebabkan perut mual, muntah dan kepala pusing.

Asap telah menjadi bencana nasional tahunan. Bencana yang terus berulang. Ini menjadi tantangan baru bagi para arsitek. Bagaimana merencana dan merancang lingkungan binaan yang sehat? Ini menjadi pertanyaan bagi para arsitek. Variabel terbaru yang harus masuk ke dalam proses perencanaan dan perancangan adalah bencana asap. Asap bukan bagian dari iklim. Tetapi asap merupakan partikel yang mengisi udara menjadi udara yang tidak sehat. Mungkin ada saja yang nyeletuk:

“ngapaian asap diurusi dalam rancangan arsitektur? Toh nanti hilang juga saat musim hujan tiba”

Pernyataan ini perlu kita tanggapi. Prolog dari tulisan ini telah menyebutkan bahwa asap adalah musibah yang terus berulang-ulang mengiringi musim kemarau. Berarti pola kemunculannya mirip dengan munculnya musim panas dan musim hujan. Sama seperti banjir tahunan yang melanda Jakarta, toh nanti akan hilang kalau musim panas tiba. Tetapi banjir terus ada tiap musim hujan. Apakah tidak perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan perancangan? Nah, demikian juga dengan musibah asap karena terus berulang-ulang, maka harus dipertimbangkan.

Di Jepang misalnya, karena gempa terus berulang menggoyang negaranya, maka muncullah karya arsitek bangunan tahan gempa dan mereka (Jepang) benar-benar mewujudkannya. Maka, tidak lah salah jika arsitek Indonesia membuat karya bangunan tahan asap. Bagaimana maksudnya bangunan tahan asap? Inilah tantangannya. Mari kita berpikir mulai dari lingkup mikro. Di saat musim asap melanda ruang kota, khususnya kota-kota yang selalu menerima dampak asap, penghuni rumah menutup lubang udara (ventilasi) dengan berbagai bahan agar asap tidak masuk ke dalam rumah. Upaya ini agak merepotkan, tetapi harus dilakukan. Kalau keluar rumah harus pakai masker, demikian juga rumah kita juga harus memiliki masker pelindung asap. Masker bagi manusia menutup lubang pernafasan yaitu hidung dan mulut. Demikian juga rumah, memiliki lubang udara ibarat lubang pernafasan yang harus diberi masker. Sangat lucu jika penghuni rumah terus menerus pakai masker di dalam rumahnya. Berarti lubang udara (biasanya disebut ventilasi) menjadi vital perannya. Disinilah mestinya para arsitek memikirkan bagaimana ventilasi dapat memiliki fungsi yang optimal, sebagai lubang udara, lubang cahaya dan penangkal masuknya zat/gas di udara yang merusak kesehatan penghuninya.

“daripada repot, mendingan pasang AC saja”

Tampaknya pernyataan itu sangat gampang bagi yang berduit. Bagaimana dengan mereka yang secara ekonomi terbatas? Namun terlepas dari kaya atau miskin, AC saat ini masih tercatat sebagai perangkat elektrik yang boros listrik. Hasil penelitian menunjukkan 40% energi digunakan untuk AC. Rumah yang paling boros energy adalah rumah yang ber AC. Semakin dingin suhu ruang yang diinginkan semakin boros energy yang dikeluarkan. 2 derajat saja suhu AC diturunkan energy semakin besar harus dikeluarkan. Tentunya listrik semakin boros. Sesuai dengan fungsinya AC adalah perangkat untuk mengkondisikan suhu udara, bukan menstabilkan asap. Sistem AC bekerja mengolah udara dari luar kemudian memasukan hasil udara olahan yang lebih sehat dan nyaman ke dalam ruangan. Pertanyaannya : udara mana yang akan diolah AC?

Kondisi asap dapat juga dikurangi oleh pepohonan yang ada di sekitar rumah. Perlu kecerdasan memilih jenis pohon yang tepat untuk ditanam. Semakin beragam vegetasi makin bagus untuk iklim mikro sekitar rumah termasuk mengurangi dampat efek asap. Arsitek telah memiliki ilmu dalam perencanaan lanskap.

Selamat berkarya

Fungsi dan Kenyamanan Ruang Sebagai Faktor Utama Arsitektur

“rumah ini terasa panas karena tidak ada udara mengalir. Mestinya ada ventilasi di atas sana dan dinding seberangnya juga ada. Terlebih lagi rumah ini menghadap Barat….dst”

Itulah beberapa kalimat yang saya dengar langsung dari seorang ustadz yang kebetulan menginap di salah satu rumah kawan yang sengaja mengosongkan anggota keluarganya agar sang ustadz bisa istirahat. Ustadz tadi memang sengaja diundang untuk mengisi kajian Islam atau muhadharah. Beliau datang jauh dari luar pulau sana. Kebanyakan para ustadz tidak suka menginap di hotel atau penginapan dan lebih suka jika istirahat di ma’had atau pondok pesantren atau rumah biasa.

Kembali ke beberapa kalimat di atas tadi…

Saat beliau berbicara saya ada di hadapannya. Mungkin ustadz tadi tidak tau atau mungkin juga lupa kalau saya seorang arsitek. Bisa jadi seperti itu,… beliau tidak menyadari. Kalau pun sadar setidaknya akan melontarkan kalimat untuk mendapatkan dukungan dari saya. Tetapi saat itu tidak ada kalimat minta dukungan. Nggak masalah… saat itu saya cukup salut, seorang ustadz faham dengan masalah fisika bangunan yang terkait dengan masalah termal. Beliau juga faham bagaimana aliran udara bekerja yang dalam bahasa arsitek disebut cross ventilation atau ventilasi silang. Saya hanya bisa berkata di dalam hati, ustadz tersebut pintar dan perhatian terhadap kenyamanan ruang.

Saya mengenal beliau ini bukan sekali itu saja, sudah sering ketemu. Beliau seorang ustadz senior yang sarat dengan ilmu agama. Kegiatan beliau begitu padat, baik di pondok pesantren yang dikelola maupun harus memenuhi permintaan menjadi pembicara di berbagai daerah di Indonesia hingga negeri tetangga kita Malaysia dan Singapura. Jadwal padat, undangan banyak, masih perhatian dengan masalah kenyamanan ruang.

Kalimat beliau di atas tadi termasuk kritik arsitektur. Ini menjadi pesan bagi para arsitek. Penting untuk memperhatikan masalah kenyamanan ruang. Bagi saya, bangunan tidak penting berbentuk “wah” tetapi yang penting bagaimana bangunan itu berdiri dan digunakan hingga penggunanya merasa nyaman.

Perhatikan juga kalimat di bawah ini dalam konteks lain :

 “…yang membuat saya tidak tertarik adalah bentuk denah rumahnya terlalu sempit dan makin ke belakang makin sempit …”

Kalimat tersebut terlontar dari salah satu family saya yang awam tentang ilmu bangunan. Dia ingin membeli sebuah rumah di Kota Banjarbaru. Berawal membaca info rumah di jual di situs OLX.com kemudian langsung COD ke alamat rumah untuk survey langsung. Setelah melihat langsung keadaannya akhirnya terlontarlah kalimat di atas tadi. Apa maknanya dari sisi ilmu arsitektur?

Ruang sempit berdampak ketidaknyamanan karena terganggunya sirkulasi penghuni rumah. Padahal sirkulasi bagian penting pembentuk kenyamanan ruang. Merancang tidak bisa asal-asalan, perlu kejelian, penuh dengan intuisi yang visioner. Maksudnya, mampu memikirkan dampak dari bentuk desain kepada pengguna bangunan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Seorang klien pernah minta dirancangkan rumahnya, berikut kalimat yang saya ingat :

“… yang penting rumahku nyaman dan ruang keluarganya luas menjadi pusat ruang lain …”

Seorang arsitek harus mampu memahami dan menterjemahkan maksud dari kalimat klien tersebut. Jangan terlalu banyak bertanya-tanya kepadanya karena bisa jadi dia batal menggunakan jasa disain. Apa kira-kira konteksnya bagi arsitek? Tidak lain konteksnya menyangkut fungsi ruang agar penghuninya merasa nyaman. Sekali lagi ini penting menjadi faktor utama dalam desain … FUNGSI ….