Energi 6 – 6

Mari kita sedikit peduli dengan perilaku manusia di peradaban akhir zaman. Khususnya terkait konsumsi energi yang makin memprihatinkan, namun semakin dicari dan diperebutkan. Bagaimana kita bisa menghindarinya, kalau ternyata energi menjadi kebutuhan vital hidup kita. Urusan hidup adalah juga urusan mati. Artinya, jelas kita tidak mau mati hanya karena gara-gara anti energi. Menolak listrik? bisa? berat …. Mungkin jam 6 pagi masih perlu lampu, mungkin belum jam 6 sore sudah menyalakan lampu. Kalau sekedar untuk penerangan, lilin atau lampu minyak sudah cukup, tetapi jika untuk perihal lain yang lebih penting, tidak bisa sekedar lilin. siswa dan mahasiswa sekarang sudah banyak PR yang harus dikerjakan malam hari. Apalagi mahasiswa arsitektur sudah bukan rahasia umum menggambar hingga subuh hari. Semakin banyak tugas dan PR semakin besar kebutuhan energi listrik.

Enak juga orang dulu, hidup tanpa listrik. Beraktifitas efektif mulai jam 6 pagi dan berakhir jam 6 sore, selebihnya istirahat di rumah. Besok subuhnya bangun dengan badan segar bugar kembali dengan rutinitas 6 – 6 tadi. Tanpa PR dan tugas rumah. Aktifitas cukup, istirahat pun cukup. Pantas saja jika nenek kakek moyang dulu panjang umur dan sehat. Rutinitas 6 – 6 hemat energi. Kebutuhan penerangan memanfaatkan pencahayaan alami. Kebutuhan udara segar memanfaatkan angin yang terus berhembus mengalir melewati jendela dan keluar jendela seberangnya. Di masa lalu hidup tanpa kaca jendela sehingga tidak mengenal radiasi matahari yang mengenai kaca.

Mari bandingkan dengan rutinitas 6 – 12 yaitu mulai beraktivitas jam 6 pagi dan berhenti di jam 12 malam atau lebih hebat lagi rutinitas 6 – 6×2 yaitu beraktifitas dari jam 6 pagi hingga jam 6 pagi berikutnya alias begadang. Perubahan peradaban telah menggiring manusia untuk bekerja non stop bagaikan detak jantung terus berdetak selama hidup. Apa yang dilakukan? bekerja, belajar, kerjakan tugas, kerjakan PR, hura-hura, huru-hara, suka-suka. Aktivitas di atas jam 6 sore memerlukan listrik minimal untuk lampu, kipas angin, komputer, ac, TV, radio, dispenser. Berapakah energi yang diperlukan jika terus menyala hingga jam 12 malam dan terus berlanjut hingga jam 6 pagi besoknya? Pesan moral bagi para arsitek, bahwa kecenderungan begadang semakin besar, karena mut nya muncul jika sudah larut malam. Inilah celah borosnya energi akibat kebiasaan. Mari kita manfaatkan pola rutinitas 6 – 6 agar energi bisa “sedikit” diselamatkan

DIMANA BATAS KOTA BERTUMBUH DAN BERKEMBANG?

Hampir bisa dipastikan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan pada judul tulisan ini. Kalaupun ada jawabannya bersifat perkiraan saja. Siapa yang bisa menduga suatu kawasan semula sunyi senyap, tiba-tiba berubah menjadi kawasan yang penuh hiruk pikuk karena saking ramainya dalam waktu relatif singkat. Bisa lihat bukti nyata ke kawasan pertambangan batu bara seperti di wilayah Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Semula di pegunungan Binuang di wilayah ini hanyalah kawasan perkebunan karet, kebun pisang, dihuni beberapa KK peserta transmigrasi dan orang-orang lokal. Namun setelah diketahui dari hasil eksplorasi di bawah pegunungan tersebut terdapat kandungan batu bara yang cukup besar. Serta merta investasi besar-besaran tumpah ke pegunungan ini. Bagaikan hujan emas menimpa mereka yang ada di sana. Tiba-tiba menjadi kaya raya dalam hitungan bulan. Luar biasa. Para OKB (orang kaya baru) muncul ke permukaan. Berubahlah strata ekonomi mereka. Berubah juga sistem ekologi lingkungan di sana. Semula mereka hanya bisa berladang, berkebun kalaupun diperjualbelikan hasilnya cukup 1 atau 2 hari makan, namun kemudian tiba-tiba mereka dapatkan ratusan juta hingga milyaran rupiah dalam waktu yang belum pernah terbayangkan. Potensi tambang batu bara yang semakin terkuak telah membawa Kalimantan Selatan menjadi lirikan investor besar dalam dan luar negeri. Perubahan demi perubahan tidak hanya terjadi di area pertambangan tetapi juga ternyata merubah wajah kota secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi kota meningkat tajam. Indikator lapangan memperlihatkan perubahan tersebut. Mobil mewah lalu lalang, hotel menjamur, perumahan elit bermunculan. Efek lainnya menimbulkan booming ruko di setiap jalan utama kota. Meskipun batu bara bukanlah satu-satunya sektor yang mendongkrak ekonomi daerah, namun karena pengaruhnya yang cukup signifikan sehingga perhatian tertuju ke sektor ini. Efek beruntun muncul akibat satu sektor ekonomi yang berkembang dengan cepat. Termasuk efeknya terhadap ruang kota.

Continue reading “DIMANA BATAS KOTA BERTUMBUH DAN BERKEMBANG?”

Arsitek Termalis

Judul artikel ini untuk mensifati sisi lain dari para arsitek. Kebanyakan khalayak memandang arsitek adalah profesi yang bergengsi, pakar bangunan, jago rancangan, dan beberapa jargon lainnya yang melekat. Pada alur lain arsitek ternyata juga memperhatikan pelajaran dari alam yang penuh dengan sumber inspirasi. Meskipun hanya sedikit yang berminat ke arah jalur ini. Salah satu topik pelajaran alam adalah aspek klimatologi. Iklim, suhu, udara, angin, merupakan aspek kehidupan yang telah berjalan dengan sendirinya tanpa diatur oleh manusia tetapi dikendalikan langsung oleh Penciptanya yaitu Allah Ta’alaa. Adanya atau tanpa adanya arsitek aspek klimatologi tetap berjalan dengan tatanan yang sudah ditetapkan.

Di masa lalu, suasana termal cukup menyenangkan. Udara yang dihirup cukup segar dan menyehatkan pernafasan. Berbeda jauh sekali dengan suasana sekarang, semakin meningkat penyakit pernafasan, semakin banyak manusia kepanasan. Dampaknya adalah muncul upaya beradaptasi dengan bantuan kecanggihan intelektual manusia. Jika udara panas solusinya pasang AC atau pasang kipas angin. Sebenarnya jika mau sedikit bersabar diluar sana terdapat solusi alamiah, hembusan angin masih berlimpah. Namun, sifat ketidaksabaran manusia terhadap udara panas didukung oleh teknologi pengkondisian udara.

Di ruang manakah yang panas? Tentu jawabnya di dalam bangunan. Di luar bangunan pun sebetulnya juga panas, tetapi masih banyak pohon pelindung dan angin berhembus sehingga efek udara panas diminimalisir oleh kedua faktor tersebut. Sangat disesalkan kondisi sekarang pepohonan pun semakin berkurang, ruang terbuka hijau semakin terdesak pembangunan, angin pun terhalang produk arsitektural yang menjulang. Ruang dalam dan ruang luar sekarang sudah semakin panas. Solusi instan sudah tampak di hadapan kita. AC, AC, AC ! Instan, cepat, praktis, murah, mudah didapatkan. Tidak usah terlalu muluk-2, tidak perlu pusing memikirkan solusi udara panas. Kata “mereka” time is money, buat apa habiskan waktu merancang bangunan agar sejuk di dalamnya kalau toh kondisi iklimnya sudah panas? Kata “mereka” lagi, udara panas akibat global warming, urusannya mendunia, kita tidak bisa mencarikan solusinya, berat!. Mendingan sibukkan dengan permainan bidang, tampilkan gaya arsitektur kekinian, puas dipandang mata, klien puas, anda senang dapat $$$ Rp. Natural? No way, no comment…

Continue reading “Arsitek Termalis”

Rumah Massal dan Lingkungan

Tanpa disangka, revolusi industri yang terjadi di Inggris di abad-19 menjalar ke Indonesia di abad-20. Padahal kejadian itu hanyalah dikarenakan ketidakpuasan para buruh industri terhadap kondisi rumah sewa mereka. Mereka protes kepada tuan tanah (landlord), para bangsawan, karena telah membiarkan lingkungan rumah mereka tidak sehat, padahal mereka selalu bayar sewa. Ribuan buruh pun mogok, indutri terlantar. Landlord pun sadar, dikembangkanlah rumah massal untuk para buruh dengan memperhatikan kesehatan lingkungannya. Bayangkan, para buruh sadar dengan lingkungan yang buruk. Mereka sadar bahwa akibat lingkungan yang tidak sehat mempengaruhi masa depan mereka dan keluarganya. Itulah yang terjadi di abad lalu. Konsep rumah massal pun menjadi perhatian dunia. Tidak luput di Indonesia setelah berlalu 1 abad revolusi industri.

Jaman penjajahan kolonialisme – Belanda – terkumpul rumah-rumah khusus bangsawan Eropa. Terbentuk batas yang jelas dengan rumah pribumi. Tampak nyata perbedaan kualitas ruang diantara kedua nya. Komplek rumah bangsawan penjajah berada di lingkungan pilihan terbaik di antara yang terbaik. Bebas banjir, tanah berkontur, view yang potensial, banyak open space, taman mengelilingi rumah-rumah mereka, pandangan leluasa seluas mata memandang ke hamparan, hijau asri, dan segala apa saja yang belum tersebutkan yang intinya dunia adalah surga mereka. Adapun rumah-rumah pribumi, berada di lingkungan terbaik diantara yang terburuk bahkan terburuk di antara yang terburuk, ruang sisa, dataran rendah potensi banjir, datar, sempit, sumpek, penuh keprihatinan, sanitasi lingkungan buruk, ga ada pikiran hijau asri, dan segala hal yang belum tersebutkan yang intinya dunia adalah penjara bagi mereka. Maklumlah kondisi saat itu, penguasanya penjajah, apa mau dikata.

Continue reading “Rumah Massal dan Lingkungan”

Jangan Tanya Dimana Boleh Membangun

Setiap detik, manusia lahir ke dunia. Tiap detik terjadi pertumbuhan penduduk dunia. Indonesia menjadi negara terbesar dunia karena jumlah penduduk yang luar biasa. Wajarlah kiranya jika kebutuhan ruang untuk membangun meningkat drastis. Dilain sisi Negeri kita sampai sekarang dikenal sebagai paru-paru dunia. Banyak hutan masih terhampar di pulau Kalimantan, Sumatera dan Irian. Terutama Kalimantan, perhatian berlebih dunia tertuju ke pulau ini. Maklum, ukurannya cukup luas sementara jumlah penduduknya masih tergolong sedikit. Keragaman hayati masih bisa dilihat di rimba Kalimantan. Masih ada beberapa area yang bertahan sebagai cagar alam, hutan konservasi yang mati-matian dilindungi.

Tetapi, apa yang terjadi di pulau ini? Sepintas kilas hutan masih alamiah, sepintas kilas seperti hutan ‘perawan’ belum ada yang meng ‘utak-atik’. Itu sepintas kilas, bagaimana jika diteropong lebih dekat lagi? Ambil contoh pegunungan Meratus sebelah timur Kalimantan yang memanjang utara selatan. Saat pesawat terbang rendah, hendak take-off dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru ke arah ke timur, tampaklah warna-warni hamparan alam. Saya yakin dulu di jaman pesawat masih baling-baling, yang terlihat dominan warna hijau. Tetapi sekarang warna hijau+coklat+abu-abu+hitam berpadu seperti mozaik yang terhampar di mana-mana.

Continue reading “Jangan Tanya Dimana Boleh Membangun”

Arsitek Tanpa Kertas

Sekitar 8 tahun lalu saya membaca sebuah berita di Jepang, diselenggarakan konfrensi tanpa audien. Tanpa dihadiri manusia. Konfrensi diselenggarakan secara digital diikuti dari berbagai negara. Tanpa kehadiran manusia dan tanpa kertas. Untuk era sekarang berita seperti ini biasa saja tetapi untuk 8 tahun yang lalu, terus terang saya heran, bagaimana bisa?

Nah, sekarang saya berpikir bagaimana dengan profesi seorang arsitek yang dikenal identik dengan gambar. Dulu, kira-kira 10 tahun yang lalu alat gambar berupa mesin gambar merk bofa, mutoch, masterplan, dll sangat dikenal mahasiswa teknik [arsitektur]. Di waktu itu harga cukup mahal, banyak mahasiswa tidak sanggup memilikinya. Tetapi sekarang mesin gambar sudah ‘dimuseumkan’ menjadi besi tua rongsokan. Adalah komputerisasi yang menggantikannya. Bahkan kemampuannya jauh lebih praktis, bisa dibawa ke mana-mana. Dukungan software pun semakin canggih menjadikan gambar lebih hidup, realistis. Terlebih lagi kecanggihan program animasi yang membuat mata yang melihat akan terkesima.

Tampaknya peradaban manusia berubah dari suatu kondisi ke kondisi lain, pola ke pola lain, model ke model lain. Seiring dengan itu sifat manusia memiliki kecenderungan mencari mana yang paling instan dan praktis. Demikian juga para arsitek. Apakah zaman sekarang pertanda arsitek tanpa memerlukan kertas? Kemungkinan ke arah itu memang terlihat. Karya disain cukup disimpan dalam flashdiks atau HD eksternal, masukkan di saku – selesai. Mau presentasi di luar daerah atau luar negeri tidak memenuhi bagasi.

Jika arsitek mampu tanpa kertas, maka secara tidak langsung mengurangi bebam energi dunia. Untuk mendapatkan kertas harus membabat hutan untuk dijadikan pulp – bubur kertas – diolah pabrik. Bisa diperhitungkan berapa energi untuk menggerakkan pabrik.

Oleh karenanya ada pesan moral, manfaatkan inovasi teknologi canggih untuk kemaslahatan manusia dan selebihnya dari perkara negatif harus mampu dihindari oleh diri-diri manusia.

Unsur-unsur Permukiman

Permukiman mengandung unsur isi dan unsur wadah. Unsur isi terdiri dari manusia sebagai individu (man) dan manusia sebagai makhluk sosial (society). Sedangkan unsur wadah terdiri dari tiga bagian yaitu alam (nature), lindungan (shells) dan jejaring (network).

Man-society-nature memiliki makna yang mudah untuk difahami. Namun shells dan network perlu penjelasan lebih rinci. Model shells cukup beragam dari jaman ke jaman. Mulai dari gua sampai gedung bertingkat, mulai dari pepohonan hingga kumpulan bangunan.

  1.  
    1. Awal peradaban manusia shells berfungsi untuk memenuhi rasa aman dari gangguan luar.
    2. Pada masa modern fungsi lindungan tidak hanya sebagai pemenuhan rasa aman tetapi bisa berfungsi secara wadah komoditas, wadah ekonomi, wadah untuk mewujudkan eksistensi individu atau pun sekelompok individu, wadah untuk mewujudkan status sosial budaya, dll.

Continue reading “Unsur-unsur Permukiman”

Energi Bangunan Arsitektur

Setiap berdiri bangunan selalu diiingi dengan kebutuhan energi. Sekitar 30% hingga 60% kebutuhan BBM untuk listrik digunakan untuk bangunan. Hal inilah yang menjadi bahasan penting di dalam arsitektur, karena arsitektur berkaitan erat dengan bangunan yang secara tidak langsung juga akan terkait dengan energi.

Di dalam situs www.arsitektur.blog.gunadarma.ac.id disebutkan bahwa rumah yang boros energi 80% disebabkan oleh kesalahan disain arsitektur. Setiap bangunan membutuhkan penerangan dan penghawaan. Pola aktivitas manusia mengalami tren baru yakni berjalan 24 jam. Artinya sebagian aktivitas terjadi pada malam hari yang tentunya sangat membutuhkan penerangan buatan. Lampu adalah salahsatu obyek di dalam bangunan yang membutuhkan energi. Pada bangunan rumah sederhana seluas 36 m², minimal dibutuhkan 4 lampu yaitu 2 buah di ruang tidur, 1 buah di ruang tengah dan 1 buah di teras depan. Jika setiap lampu berdaya 15 watt, artinya energi yang dibutuhkan untuk menerangi rumah tersebut adalah 60 watt. Kalkulasi daya seperti ini relatif sederhana, karena terkait dengan kesederhanaan disain rumah ukuran 36 m². Mungkin contoh seperti ini adalah kebutuhan yang wajar dan tidak bisa dikurangi.

Continue reading “Energi Bangunan Arsitektur”

Arsitek yang Manusiawi

Setiap saya menulis atau menjelaskan suatu bahasan, saya berusaha untuk menjelaskan judulnya. Coba anda perhatikan judul artikel ini. Mungkin ada pertanyaan, apakah ada arsitek yang tidak manusiawi? Mari kita kupas. Arsitektur merupakan satu kata yang menunjuk kepada sebuah ilmu, yaitu ilmu design, ilmu rancang bangun, ilmu ruang, ilmu bangunan, dll. Intinya arisitektur adalah ilmu. Sedangkan pelakunya disebut arsitek, yaitu orang yang mempraktekkan ilmu arsitektur. Mungkin definisi ini mirip dengan kedokteran dan dokter, psikologi dan psikolog.

Artikel ini ditulis, karena melihat fakta yang ada bahwa para pengemban ilmu arsitektur (arsitek) mulai mengabaikan lingkungan sekitarnya. Yaa, lingkungan yang dihuni banyak manusia. Ada yang terkena imbas buruk dari kehadiran ‘produk’ arsitektur.

Continue reading “Arsitek yang Manusiawi”