Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

23

Oct

Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

Rupa-rupanya seiring pergantian generasi arsitek juga diiringi perubahan cara design. Model digital grafis saat ini yang makin membumi menjadi bumerang yang tidak terelakkan bagi calon arsitek sekarang ini. Dulu, para pelopor arsitek nusantara harus berjuang keras untuk bisa mewujudkan imaginasinya ke dalam media grafis agar gambar bisa dimengerti oleh semua orang. Berbagai sudut pandang diolah, direndring memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menghasilkan gambar yang sempurna.
Teknik gambar perspektif man eyes view, bird eye’s view, vermes eye’s view, perspektif 1 titik hilang, 2 titik hilang, axonometri, menjadi makanan pokok arsitek dulu. Tangan mereka menjadi saksi bisu. Tangan mereka terlatih bertahun-tahun di masa kuliah. Tangan mereka bergerak secara reflex seakan ada instrument otomatis yang mengatur proses grafis. Hasilnya, sangat memuaskan. Dahulu, mereka tidak mengenal komputer, bahkan belum mengenal mesin gambar. Jadilah mereka arsitek mumpuni dan dikenal wujud nyata karyanya.
Kemudian, beralihlah nuansa jaman. Industrialisasi juga turut andil menghasilkan alat mekanik gambar, untuk memudahkan para arsitek memproduksi karya grafis. Saat itu merupakan peralihan gradual dari free hand ke sistem mekanik. Maksudnya mesin gambar telah mengurangi beban tangan mereka dari kelelahan. Jadilah keterpaduan yang harmonis antara intuisi free hand nya dengan kemudahan yang ada pada mesin gambar. Para arsitek saat itu mengerahkan imaginasinya di hadapan meja gambar yang lengkap dengan mesin gambar bermerk seperti mutoch, plan master, bofa, tracker, dll.
Bagaimana dengan calon arsitek “next generation”?
Semuanya telah berubah, banyak yang bergeser. Mesin gambar no way, sudah jadul. Bagaimana dengan free hand? Masih berlaku, tetapi berubah wujud. Kalau dulu free hand itu kaitan antara tangan dan pena, sekarang antara tangan dan mouse. Jujur saja, calon arsitek sekarang jika diminta menggambar dengan pena akan glagapan, seperti orang baru belajar gambar, tetapi kalau disuruh menggambar di komputer seperti pakar arsitek kenamaan. Meskipun tidak semua begitu, tetapi mayoritas yang dirasakan para dosen arsitektur mahasiswa mereka seperti tidak bisa menggambar jika tanpa komputer.
Gambaran miris wajah calon arsitek “next generation”. Mereka seperti terjebak dengan obsesi teknologi grafis tetapi melupakan potensi diri. Sesungguhnya bakat sebagai potensi diri arsitek diwarnai kemampuan free hand yang asli. Komputer dengan aplikasi dan softwarenya hanyalah media untuk mempermudah produksi design dan bukan inti penentu design.
Kita tidak bisa juga menutup diri dari kemajuan software design grafis, namun jangan sampai melupakan hak mendasar arsitek dalam merancang adalah kemampuan freehand yang diiringi dengan nalar ilmu design.
Selamat merenungkan..

2 thoughts on - Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

  • Alfaiz Design
    Reply Dec 5, 2015 at 7:26 am

    Setuju banget……..ide dasar konsep adalah sketsa….yg dijabarkan dlm bentuk coretan tangan free hand …..

  • Handeni
    Reply Nov 30, 2015 at 5:55 am

    merenung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *