RUPIAH ANJLOK TERHADAP DOLAR, PROBLEM BAGI ARSITEK?

Tentu saja segala hal yang terkait bahan bangunan berpengaruh kepada arsitek. Penyelesaian desain tidak berhenti pada gambar semata. Setelah itu arsitek harus mampu menghitung seberapa besar biaya yang diperlukan untuk mewujudkan ide desainnya. Berapa banyak klien mundur teratur setelah tau ternyata biaya pembangunan sangat mahal diluar kemampuannya. Kalau sudah seperti itu kondisinya, desain tidak ada artinya, karena tidak dipakai oleh klien.

Arsitek kreatif akan memilih material bangunan sesuai budget yang dimiliki kliennya. Penguasaan taraf affordability klien sangat diperlukan, bukan saja karena pertimbangan fee arsitek tetapi lebih dari itu yaitu mempertimbangkan keberhasilan gambar yang diteruskan pada tahap pembangunan. Tidak sedikit arsitek kecewa berat akibat desainnya dikembalikan oleh klien gara-gara terlalu mahal. Si klien memilih arsitek lain yang bisa menyajikan pilihan harga yang murah.

Ironisnya, keadaan ekonomi makro turut mendongkrak tingginya harga material bangunan. Hampir merata di seluruh jenis material. Bahan berbasis besi, baja, aluminium sudah bisa dipastikan terus melonjak karena komponen impor. Sementara impor tergantung kurs mata uang.

Mata uang Indonesia sangat rentan terhadap perubahan kurs dolar Amerika. Hampir seluruh aktivitas ekonomi dagang menjadikan dolar AS sebagai pedoman. Kontrak ekspor-impor menggunakan kurs dolar, biaya transportasi dengan dolar, umroh dan haji juga berpatokan dengan dolar, termasuk jangan dilupakan hutang Indonesia juga dihitung berdasarkan kurs dolar. Saat dolar kuat rupiah melemah. Tentu saja banyak sebabnya.

Beberapa ulasan ahli ekonomi mengatakan bahwa rupiah tidak bisa membendung kuatnya dolar bukan disebabkan keadaan internal tetapi karena pengaruh eskternal. Diantaranya perubahan kebijakan moneter makin ketat yang dilakukan Bank Central Amerika atau disebut The Fed. Indonesia termasuk negara yang terpengaruh dengan kebijakan moneter The Fed dengan menaikkan suku bunga. Pasar modal sangat tertarik dengan suku bunga yang tinggi dan mengalihkan sekian banyak modalnya ke Bank Central Amerika tersebut agar mendapatkan keuntungan yang tinggi. Dolar makin diuntungkan dengan kondisi tersebut.

Sektor industri paling terkena dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Wajarlah jika kemudian mempengaruhi harga material bangunan. Hingga tulisan ini dibuat, dolar berada pada level yang tidak wajar terhadap rupiah yaitu hampir Rp.13.800 per USD sangat jauh dari estimasi ekonomi fundamental yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berkisar Rp.13.200 per USD. Masih menukil pendapat ahli ekonomi, bahwa efek penguatan dolar terhadap naiknya harga material diperkirakan terjadi beberapa bulan ke depan [april-mei-juni 2018].

Peringatan tentang dampak melemahnya rupiah terhadap dolar penting diketahui. Arsitek pun harus jeli menghitung anggaran biaya pembangunan dari desain yang dihasilkan. Bisa jadi setelah mengajukan anggaran biaya dan langsung disetujui oleh klien, saat belanja material ternyata harga sudah terlanjur naik. Ini sebagai contoh arsitek yang langsung menangani pembangunan fisiknya. Antisipasi terhadap perubahan harga material bangunan arsitek perlu membuat perjanjian kerja yang di dalamnya menyebutkan tentang batas kenaikan harga material yang perlu dikoreksi. Misalnya jika ada jenis bahan naik 20% maka anggaran biaya yang diajukan harus dilakukan perubahan.

Kegagalan arsitek tidak hanya gagal desain tetapi juga bisa mengalami gagal biaya. Akibat biaya yang dianggap tinggi klien mundur teratur dan desain arsitek tidak dipakai. Klien bahkan tidak membayar biaya desain karena merasa tidak memerlukan desain tersebut. Arsitek harus  kreatif menawarkan opsi desain dan opsi pemilihan material agar klien tidak mundur gara-gara biaya bangunan.

KONSTRUKSI BAJA RINGAN UNTUK ATAP YANG RINGAN

Dua fenomena yang saling berlawanan muncul dalam dunia konstruksi, yaitu langkanya kayu dan perkembangan bahan pengganti kayu. Jika dibuat grafik, ketersediaan kayu makin menurun sedangkan bahan pengganti kayu melejit naik. Meskipun demikian fenomenanya, kayu masih tetap diburu untuk pembangunan. Seakan tidak ada bahan yang lebih unggul dibandingkan kayu. Ada benarnya juga, sifat fisik, mekanik dan kimiawi kayu tidak dimiliki bahan buatan lainnya.

Melihat tren penggunaan kayu, pada akhirnya akan terhenti pada titik nol alias tidak ada lagi kayu untuk bahan konstruksi. Entah tahun berapa terjadi. Saat itulah pengguna beralih ke bahan non kayu. Diantara contoh bahan selain kayu yang saat ini menjadi booming adalah atap baja ringan. Permintaan jenis bahan ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Semakin banyak dicari dan digemari. Diantara alasan yang paling kuat adalah harga murah dan mudah dalam pemasangan.

Para tukang kayu yang terbiasa menerima order pemasangan konstruksi kayu terpaksa “banting stir” keahlian mereka. Mereka terdorong untuk menjadi ahli dalam pemasangan konstruksi baja ringan. Jika memasang konstruksi kayu banyak menggunakan palu, sedangkan pemasangan baja ringan banyak menggunakan bor listrik. Banyak bermunculan tukang dadakan, mengaku dengan pede nya ahli memasang rangka atap baja ringan. Padahal modal ilmu mereka hanya karena melihat. Sebagaimana prinsip ATM “amati tiru dan modifikasi”. Di sisi lain, para ahli dadakan ini sangat disayangkan minim pengetahuan tentang mekanika. Padahal rangkaian konstruksi baja ringan memiliki batas-batas kemampuan. Rangkaian batang baja seperti susunan segita yang bertautan. Dalam mekanika ada istilah segitiga Cremona, yang prinsipnya menetralisir gaya tarik dan gaya tekan. Dengan prinsip Cremona ini lah rangkaian konstruksi baja ringan yang benar menjadi kokoh tanpa ada lenturan.

Namun disayangkan lagi, prinsip Cremona ini tidak bisa difahami dg hanya sekedar pakai “ATM” tadi. Harus belajar atau kursus atau pelatihan. Kenapa? Bentang atap bisa beragam ada yang pendek dan ada yang pajang. Bentang panjang ini yang perlu diwaspadai. Selain itu, beban atap pun perlu diperhitungkan.

Beban atap tidak terlepas dari jenis penutup atap. Beragam jenis penutup atap banyak dijual di toko-toko bangunan. Kebanyakannya dijual jenis atap metal dikenal dengan metal roof. Diantara kelebihan metal roof adalah ringan. Padahal metal roof ini tidak ada bedanya dengan seng jika ditinjau dari ukuran berat. Berhubung atap seng mudah mengalami korosi, sehingga dilakukan inovasi teknologi hingga menghasilkan metal roof yang diklaim anti korosi. Dengan mengkombinasikan bahan seng dan aluminium kemudian dilapis cat anti korosi menghasilkan bahan yang terlindungi dari korosi.

Mari kita perhatikan sedikit pada aspek berat atap. Konstruksi atap baja ringan sesuai sifatnya yang ringan memiliki batas kemampuan. Beberapa kejadian atap ambruk seringkali kita baca dan dengar informasinya. Muncul pertanyaan kenapa bisa? Banyak sebab. Diantara sebabnya adalah atap terlalu berat, gagal konstruksi karena kesalahan dalam pemasangan, dan angin yang menyebabkan terjadinya getaran atap.

Perhatikanlah sifat baja ringan. Bandingkan dengan sifat kayu. Apa yang berbeda? Banyak sekali kekurangan pada baja ringan dibandingkan kayu. Jika baja ringan bersendirian tanpa ada rangkaian, maka kelemahannya banyak, seperti tidak kuat menahan gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen. Tetapi baja ringan jika dirangkai dengan benar mampu menahan gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen. Jika terjadi atap baja ringan runtuh berarti itu terjadi karena konstruksi tidak mampu menahan gaya tekan atau gaya tarik atau gaya momen.

Tidak sepadannya berat atap dengan kemampuan konstruksi atap menjadi sebab munculnya gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen yang berlebih. Dalam rangkaian konstruksi  baja ringan jika terjadi bengkok pada satu batang saja, menyebabkan gagalnya prinsip Cremona yaitu menetralisir gaya. Sementara bobot penutup atap terus menekan konstruksi baja ringan. Cepat atau lambat konstruksi rangka mengalami jenuh. Makin lama terjadi kebengkokan pada beberapa segmen batang dan makin bertambah. Keadaan akan diperparah jika terjadi hujan dan angin. Hujan menambah bobot atap, sedangkan angin mengganggu kestabilan konstruksi atap. Akhirnya konstruksi atap menjadi runtuh.

Pada jenis atap metal, air hujan tidak terserap. Artinya bobatap gentengot atap metal tetap stabil meskipun hujan. Berbeda dengan atap genteng [baik genteng tanah liat maupun beton], jika diguyur hujan, air terserap dan menambah bobot atap.

Jika ingin membandingkan bobot jenis atap antara metal roof dan genteng, sungguh mencengangkan. Atap genteng memiliki bobot hingga 48kg/m2 sedangkan atap metal hanya sekitar 5,5 kg/m2. Memang benar, ada atap metal yang lebih berat karena ada tambahan lapisan anti berisik dan panas. Namun bobotnya tidak seberat bobot genteng yang mencapai 10 kali berat atap metal.

atap metalBeberapa kejadian atap runtuh menggunakan atap genteng. Umumnya orang tidak diketahui sebabnya. Dahulu, di masa konstruksi kayu hampir tidak terdengar kejadian atap genteng runtuh. Sekarang, di masa konstruksi baja ringan sering mendengar berita atap genteng runtuh. Selain itu, jarang terdengar atap metal runtuh, atap seng runtuh, atap sirap runtuh. Dari sini logika nalar bisa menjawab. Supaya aman jangan menggunakan atap yang berat. Jika menggunakan konstruksi baja ringan gunakanlah penutup atap yang ringan. Tidak mesti metal roof.

atap ondulineSekarang sudah ada inovasi teknologi bangunan, atap tanpa metal, lebih ringan, sejuk dan memiliki insulasi bunyi alias anti bising, serta ringan dengan berat hanya sekitar  3kg/m2. Cerdaslah memilih atap. Jangan malu bertanya kepada ahlinya yaitu para arsitek, yang jaman sekarang mudah anda temui di sekitar anda.

Warna Berpengaruh Besar Pada Eksistensi Design Di Tengah Konfigurasi Ruang Kota

Desain dipengaruhi oleh bermacam model bentuk, tekstur, jenis bahan dan warna. Semuanya memiliki peran membentuk karakter desain. Ada bentuk yang sederhana menjadi menarik karena ketepatan memilih warna. Untuk bangunan berlantai banyak, warna yang mengandalkan cat cukup riskan dan rentan. Musuh utama cat tembok adalah jamur dinding yang akan membuat kusam bangunan. Demikian juga partikel debu tranportasi lambat laun akan mengotori dinding bangunan. Akibatnya, bangunan berlantai banyak tadi setiap tahun memerlukan pemeliharaan. Alat-alat pembeliharaan bangunan menghiasi bangunan tiap tahun dan desain pun menjadi hilang.

Nah, jika ingin warna awet gunakanlah warna asli bahan atau material. Namun, perlu kecerdasan memilih warna material sebelum terpasang. Kombinasi warna yang tepat menghasilkan nilai desain yang bermutu, meskipun bentuk sederhana.

Sebuah bangunan multi fungsi di London, hasil karya Renzo Piano , merupakan contoh bangunan yang berhasil mengkombinasi warna dengan tepat sesuai keadaan lingkungan sekitarnya. Proyek ini dimulai tahun 2010 yang lalu.

stringio

Konsep yang dipersiapkan untuk lokasi untuk mentransformasikan sebuah bangunan tunggal yang berfungsi campuran seperti perkantoran, retail, restaurant dan hunian dan mengintegrasikannya dengan area sekitar.
Arsitek memilih situasi sekitar bangunan sebuah courtyard yang berada di tengah site, yang terhubung dengan akses publik dan lantai bawah public menuju jalan dan ruang sekelilingnya.

stringio situation of site

Kunci elemen dari pola yang ada ini adalah memperkenalkan aktivitas di dalam area ini, menyediakan fungsi campuran seperti retail, restauran perumahan yang berlangsung siang dan malam, serta membuat sebuah pengelolaan yang tepat dan kontrol lingkungan yang sesuai dengan pendekatan urban design berkaitan dengan unit retail, space dan jalur pedestrian.

stringio pedestrian

stringio pedestrian 2
Tiap sisi bangunan unik, berbeda ketinggian, orientasi, warna dan hubungan cahaya alamiah. Kaca, besi dan keramik merupakan elemen utama kulit bangunan. Tiap bidang keramik menggunakan posisi dan warna yang berbeda untuk merespon sekeliling bangunan.

stringio detil

Courtyard di tengah bangunan ini sangat mendukung aktivitas pengguna

stringio courtyard concept

Perhatikan coretan konsep arsitek. Bangunan sengaja dibuat berbeda pada masing-masing segmen, baik bentuk, warna maupun bahan.

stringio sketsa 2

stringio sketsa 1

Sumber : www.archdaily.com

Mobil Tabrak Tembok Pembatas Setelah Menuruni Ramp Area Parkir dan Terjun Bebas; Salah Siapa?

Berita seperti judul di atas telah terjadi berulang kali. Dini hari tadi di Depok Town Square (Detos) mobil Honda jazz terjun bebas dari ketinggian 9 meter lebih, setelah menabrak tembok parkir, 2 orang di dalamnya tewas. Kejadian serupa juga pernah terjadi. Pada bulan Mei 2007, di ITC Permata Hijau Jakarta Selatan, sebuah Honda jazz menuruni ramp parkir dan masuk ke jalur kendaraan naik, sehingga menabrak tembok pembatas dan terjun bebas dari ketinggian 20 m, 3 orang tewas. Honda Accord juga pernah terjun bebas dari parkir lantai 8, gedung Jamsostek Jakarta Selatan pada bulan Januari 2008, pengemudi tewas. Bulan Juli 2009 Suzuki Swift jatuh dari lanti 2 Hyper Mall Bekasi  setelah menabrak dinding pembatas gedung parkir. Bulan Juli 2012, Honda Jazz jatuh dari lantai tiga Gedung Honda Cakra Pengukir, pengemudi tewas. Januari 2016 yang lalu mobil box juga jatuh dari lantai 3 Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta. Menimpa pedagang, 1 orang tewas diduga pedagang pasar tersebut.

Muncul pertanyaan ini salah siapa? Mungkinkah salah si pengemudi saja? atau kah ada kesalahan konstruksi tembok pembatas yang tidak aman atau kah kesalahanan disain bangunan? Berikut uraian analisa sederhana beberapa kemungkinan siapa yang bersalah.

  1. Kesalahan Pengemudi

Pengemudi menjadi pelaku utama sebagai subyek yang paling bersalah. Kesalahan bisa disebabkan oleh kemampuan mengemudi yang sangat minim, rendahnya pengetahuan tentang rambu-rambu area parkir dan bisa juga permasalahan mekanik atau elektrik pada mobil itu sendiri. Untuk menuruni parkir dari beberapa lantai membutuhkan skill mengemudi yang handal. Pengemudi tentu saja harus ekstra hati-hati mengatur kecepatan mobil tanpa menginjak pedal gas dan kaki selalu waspada di posisi pedal rem. Jika mobil manual ada 3 pedal di area kakinya yaitu pedal kompling, rem dan gas. Mobil matic hanya 2 yaitu pedal gas dan rem. Lebih baik pelan asal selamat, dari pada bergaya pembalap tapi mendapatkan bala. Ini masalahnya menuruni gedung parkir bukan jalan umum. Human error merupakan faktor terbesar kesalahan mengemudi hingga mobil terjun bebas.

  1. Keamanan konstruksi bangunan

Tiap bangunan memiliki angka keamanan konstruksi, baik aman dari keambrukan, miring, retak juga aman terhadap pengguna bangunan. Pengendara adalah diantara sekian pengguna bangunan. Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah terlalu padat dan tidak memungkinkan lagi mengembangkan parkir secara horizontal. Penyelesaiannya harus secara vertikal. Gedung parkir adalah solusi menyelesaikan masalah lahan parkir. Mobil yang masuk ke dalam bangunan terhitung sebagai beban statis dan beban bergerak. Perhitungan konstruksi gedung parkir sudah memperhitungkan berapa ton beban statis dan dinamis tersebut. Umumnya yang diperhatikan adalah komponen konstruksi seperti kolom dan balok lantai besar flat lantainya. Mungkin saja komponen ini telah memenuhi syarat konstruksi. Apakah tembok pembatas memenuhi angka keamanan konstruksi. Mengingat, mobil sebagai benda bergerak yang suatu saat bisa menghantam tembok pembatas.

Mobil yang bergerak turun, menuruni ramp menghasilkan energi kinetik yang besar dan menjadi energi momentum. Berbeda dengan mobil naik. Logika ini bisa difahami sebagian besar orang. Jika energi momentum ini menghantam tembok bata saja sudah bisa dipastikan tembok langsung jebol. Energi momentum tadi tidak habis setelah menghantam tembok tetapi terus melaju yang menyebabkan mobil terjun bebas.

Peraturan Kepala Dinas P2B DKI Jakarta Nomor 50 Tahun 2007 tentang Pedoman Perencanaan Struktur dan Geoteknik, dinding penahan benturan harus berkekuatan 2,7 ton dengan tinggi 46 sentimeter dari lantai parkir. Perhitungan kekuatan konstruksi dinding ini merupakan hasil riset mendalam. Jika angka kekuatan tersebut terpenuhi, maka mobil yang menabrak tembok tidak terjun bebas keluar gedung. Mobil bisa saja penyok hancur, tetapi masih di dalam gedung. Kerusakan pada dinding penahan hanya retak atau pecah-pecah dan tidak sampai berhamburan jebol sedemikian rupa. Sesuai peraturan di atas tadi bahwa dinding mampu menahan kekuatan 2,7 ton, berarti kecil kemungkinannya dinding berupa pasangan batu bata. Kalaupun dengan batu bata tentu tipe pasangan hingga 3 batu, seperti ketebalan bangunan kolonila Belanda dulu. Apakah cocok pada dinding gedung modern menggunakan pasangan 3 batu? Tidak. Berarti penggantinya adalah dinding cor beton.

Anggaplah menggunakan dinding beton. Apakah menjamin keamanan konstruksi? Belum tentu. Bagaimana kualitas betonnya? Tulangan besi ada, tetapi ukuran besi terlalu kecil. Sebutan untuk besi 10 mestinya diameter besi benar-benar 10 mm, tetapi sekarang bisa dilihat di toko bangunan, besi 10 kalau diukur dengan sigma besi hanya 6-7 mm saja. Kemana 3 mm nya? Bentuk permainan para penjual bahan bangunan. Akibatnya,

  1. Design Bangunan

Hasil karya arsitek dilalui dengan penuh energi. Mempertimbangkan sekian banyak faktor agar terwujud bangunan yang memberikan rasa nyaman dan aman. Arsitek dituntut melakukannya dengan sempurna. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Berkaitan dengan jalur sirkulasi kendaraan di gedung parkir, tentu saja harus memperhatikan standar keleluasaan gerak mobil dan keamanannya. Perencanaan pola area parkir bukan perkara sederhana. Bukan sekedar berpikir supaya bisa menampung mobil secara maksimal, tetapi termasuk keamanan sirkulasi. Ruang gerak parkir yang terlalu sempit berpotensi menimbulkan benturan. Demikian juga ramp naik-turun yang terlalu curam cukup membahayakan. Ramp turun yang berhadapan secara frontal dengan tembok penahan/pembatas berpotensi menimbulkan tumbukan jika si pengemudi gagal mengendalikan mobil. Sebaiknya ramp turun tidak berhadapan langsung dengan tembok tersebut.

Desain ruang parkir yang menyebabkan kebingungan dari pengemudi juga termasuk kesalahan fatal. Meskipun simbol-simbol menjadi cara untuk memberikan informasi, namun konfigurasi ruang tetap memberikan pengaruh terbesar bagi pengguna area parkir mobil di lantai atas. Terlebih lagi yang memasuki area gedung parkir baru pertama kali, maka pengalaman ruangnya menjadi nihil. Kekeliruan menggunakan jalur keluar-masuk pun bisa berakibat fatal.

Model parkir menyudut 30 atau 45 derajat lebih aman dibanding tegak lurus dengan dinding pembatas. Sopir pemula, bisa saja keliru menginjak pedal gas sehingga awal dia starter mobil sudah terlanjur menginjak pedal gas terlalu dalam. Akibatnya akan menghantam apa saja yang ada di depannya atau di belakangnya, apakah itu tembok penahan ataukah mobil lainnya. Seandainya saja parkir menyudut, efek tumbukan ke tembok pembatas lebih aman dibandingkan menumbuk tembok secara frontal 90 derajat.

Sistem penerangan pun menjadi bagian penting mengarahkan sirkulasi mobil di dalam gedung parkir. Terlalu redup dan terlalu silau berefek pada mata pengemudi. Akibat fatalnya mengganggu konsentrasi hinga pengemudi pun kehilangan arah. Saat mengantuk kondisi semakin parah. Berbagai jenis lampu, seperti lampu TL, SL, downlight, halogen, bahkan pijar dapat dikombinasikan, tetapi dengan ilmu lighting yang tepat. Bagaimana kondisi siang hari? Pencahayaan siang hari cukup bagus dari alam, kecuali kondisi bangunan sangat tertutup. Namun, umumnya gedung parkir bersifat terbuka, sehingga cahaya alamiah sangat optimal.

Penggunaan warna dinding dan lantai pun turut berperan meminimalisir kecelakaan di dalam gedung parkir. Warna-warna kontras yang mudah ditangkap penglihatan manusia, dapat memberikan efek waspada dan berhati-hati. Sebaliknya warna kalem dan redup, seperti abu-abu dan coklat justru menimbulkan rasa kantuk dan jenuh.

Demikian sekelumit analisa yang penting diperhatikan dan dievaluasi, untuk menilai faktor-faktor terkait dengan seringnya kecelakaan mobil jatuh dari gedung parkir.

Arsitektur Bambu, Potensi Alam yang Menjanjikan

Arsitektur Bambu

Bambu sangat dikenal masyarakat kita dari desa hingga kota, yang miskin hingga kaya. Semua sepakat tentang potensi bambu. Namun, sayangnya ada yang tidak peduli dengan keberlanjutan bambu. Tidak terlihat upaya untuk membudidayakan bambu secara serius. Mungkin sebabnya bambu bisa tumbuh alamiah secara mudah.

Diantara potensi bambu adalah menjadi bahan arsitektur, bagian dari design yang memberikan nuansa alamiah. Selain itu, tanaman bambu dapat meredam panas terik matahari, sehingga iklim mikro menjadi nyaman.

Tanpa memperbanyak kalimat lagi, berikut saya sajikan gambar arsitektur bambu yang sangat bagus. Biarkan gambar yang “berbicara”

  

bambu di veitnam_naman-conference_night-view

bambu di veitnam_naman-conference_interior

bambu di vietnam_naman-conference_foyer

bambu di veitnam_naman-hay-hay-restaurant-bar

bambu di vietnam_naman-hay-hay-restaurant-bar_bamboo-structure

bambu di vietnam naman-beach-bar_night-view

bambu di veitnam_naman-hay-hay-restaurant_interior

bambu di veitnam_naman-conference_facade

sumber gamnbar: www.archdaily.com

One Airport Square di Ghana (2015)

One Airport Square adalah bangunan multifungsi di kawasan airport di Ghana yang dirancang olehKarya Mario Cucinella Bandara Di Ghana Mario Cucinella dari Italia. Pekerjaan ini ditangani oleh team work dari berbagai disiplin ilmu.
Memiliki area komersial yang terletak di ground floor dan di dalam blok 10 lantai. Jika dilihat dari arah gurun tampak sekali bangunan ini sangat kontras dengan keadaan lingkungan perkotaan. Total luasnya 17.000 m2. Elemen estetik dan design terinspirasi seni tradisional lokal dan bentuk dari daun pohon palm/kurma sekitarnya, sebagai respon kedekatan dengan lingkungan dan menjadi solusi problem iklim.

Selimut bangunan merupakan elemen penentu yang memperlihatkan keterpaduan antara bentuk, struktur dan lingkungan. Bangunan adalah bentuk yang kompak, terdiri dari sebuah hall yang cukup luas berfungsi sebagai penyediaan pencahayaan dan ventilasi alamiah di dalam ruangan.
Bangunan juga terdiri dari struktur beton masif, dengan tiang yang riqid, sekaligus sebagai unsur dekorasi.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana elemen bangunan

One airport square ini merupakan bangunan pertama di Ghana yang menerima penghargaan bintang 4 dalam bidang design oleh Building Council of South Africa (GBCSA).
Seluruh elemen pada bangunan ini bertujuan menjadi design yang terpadu, menyeimbangkan antara arsitektural dan pertimbangan teknis dalam kaitannya dengan bangunan hemat energi dan mengoptimalkan pencahayaan alamiah. Teknologi termodern telah disesuaikan dengan keadaan tradisi lokal, menjadikang design sangat efisien. Semuanya itu menimbulkan ide baru tentang keindahan bahwa ekologi adalah keindahan.

Perhatikanlah gambar arsitektur di bawah ini

Bentuk denah tampak sangat organik dan tidak simetris, tetapi masalah struktur konstruksi dapat terselesaikan dengan baik. Bentuk seperti ini merupakan hasil dari proses design yang cukup panjang. Dari gambar potongan di samping ini, ada perbedaan kontras antara bagian depan bangunan dan dengan bagian belakannya. Bagian belakang seperti standar bangunan biasa untuk bangunan bertingkat, namun bagian depan memiliki tampilan yang agak berbeda. Gambar axonometri ini menjelaskan bagaimana bangungan ini memiliki nilai penting dari aspek fisika bangunan yaitu terkait dengan pencahayaan dan penghawaan alami yang masuk melalui atrium bangunan.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana denah

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana tampak

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana sistem ventilasi

Green Building Ternyata Juga Disukai Oleh Negara 4 Musim

Semula ada persepsi bahwa green building hanya di negara tropis, yang hanya mengenal 2 musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Di daerah tropis seperti negara kita, justeru panasnya yang lebih panjang dari pada dinginnya. Jadi wajarlah kalau perlu penerapan green building di daerah tropis.

Ternyata fakta yang berkembang membalik persepsi tadi. Nun jauh di sana, di Perancis negara yang memiliki 4 musim justeru menerapkan green building. Green building di Indonesia diterapkan untuk mengurangi efek panas dan juga untuk melakukan penghematan energi, sedangkan di sana tujuan penerapan juga terkait iklim. Saat panas tiba, bangunan bisa mendinginkan, sebaliknya saat dingin tiba bangunan dapat menghangatkan. Perlindungan dari panas dan efek lainnya dari musim salju diantisipasi dengan menerapkan teras atau balkon di sekeliling bangunan. Bahkan, tangga turut serta menjadi komponen pelindung artistik sekaligus memiliki nilai shelter.

Perhatikan pada gambar bagaimana keberadaan tangga yang sengaja di ekspos di luar. Bukan berarti di dalam tidak ada tangga. Saat musim dingin dan salju tangga otomatis tidak terpakai, sehingga tangga di dalam yang berfungsi. Perhatikan juga vegetasi yang ada di antara bidang atap dan dinding, itu bukan sekedar hiasan, tetapi sebagai penjaga stabilitas iklim mikro. Vegetasi juga menjadi komponen view yang menyehatkan mata.

green building di perancis perspektif

green building di perancis

green building di perancis balkon

Sumber : www.archdaily.com

Arsitektur Horisontalisme

Pengembangan design arsitektur dapat dimulai dari hal yang sederhana, seperti dari karakter garis horizontal dan vertikal. Dominasi garis horizontal atau mendatar akan menghasilkan bentuk yang datar, rendah dan berkesan dekat dengan alam. Sebagaimana yang telah dirancang oleh Frank Llyod Wright sebuah bangunan cukup dikenal The Falling Water.

Design horizontal sangat cocok diterapkan pada konteks alamiah. Sedikit mengalah dengan keadaan alam, menyesuaikan diri dengan karakter alamiah.

Berikut karya horizontal yang cukup baik, di New Zealand.

Projects Houses Extension Auckland, New Zealand

Architect: Herbst Architects

Photographer: Lance Herbst

Materials: Wood Steel

Arsitektur Horisontalisme

Arsitektur Horisontalisme 2

Arsitektur Horisontalisme 3

Arsitektur Horisontalisme 4

Arsitektur Horisontalisme 5

Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

Rupa-rupanya seiring pergantian generasi arsitek juga diiringi perubahan cara design. Model digital grafis saat ini yang makin membumi menjadi bumerang yang tidak terelakkan bagi calon arsitek sekarang ini. Dulu, para pelopor arsitek nusantara harus berjuang keras untuk bisa mewujudkan imaginasinya ke dalam media grafis agar gambar bisa dimengerti oleh semua orang. Berbagai sudut pandang diolah, direndring memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menghasilkan gambar yang sempurna.
Teknik gambar perspektif man eyes view, bird eye’s view, vermes eye’s view, perspektif 1 titik hilang, 2 titik hilang, axonometri, menjadi makanan pokok arsitek dulu. Tangan mereka menjadi saksi bisu. Tangan mereka terlatih bertahun-tahun di masa kuliah. Tangan mereka bergerak secara reflex seakan ada instrument otomatis yang mengatur proses grafis. Hasilnya, sangat memuaskan. Dahulu, mereka tidak mengenal komputer, bahkan belum mengenal mesin gambar. Jadilah mereka arsitek mumpuni dan dikenal wujud nyata karyanya.
Kemudian, beralihlah nuansa jaman. Industrialisasi juga turut andil menghasilkan alat mekanik gambar, untuk memudahkan para arsitek memproduksi karya grafis. Saat itu merupakan peralihan gradual dari free hand ke sistem mekanik. Maksudnya mesin gambar telah mengurangi beban tangan mereka dari kelelahan. Jadilah keterpaduan yang harmonis antara intuisi free hand nya dengan kemudahan yang ada pada mesin gambar. Para arsitek saat itu mengerahkan imaginasinya di hadapan meja gambar yang lengkap dengan mesin gambar bermerk seperti mutoch, plan master, bofa, tracker, dll.
Bagaimana dengan calon arsitek “next generation”?
Semuanya telah berubah, banyak yang bergeser. Mesin gambar no way, sudah jadul. Bagaimana dengan free hand? Masih berlaku, tetapi berubah wujud. Kalau dulu free hand itu kaitan antara tangan dan pena, sekarang antara tangan dan mouse. Jujur saja, calon arsitek sekarang jika diminta menggambar dengan pena akan glagapan, seperti orang baru belajar gambar, tetapi kalau disuruh menggambar di komputer seperti pakar arsitek kenamaan. Meskipun tidak semua begitu, tetapi mayoritas yang dirasakan para dosen arsitektur mahasiswa mereka seperti tidak bisa menggambar jika tanpa komputer.
Gambaran miris wajah calon arsitek “next generation”. Mereka seperti terjebak dengan obsesi teknologi grafis tetapi melupakan potensi diri. Sesungguhnya bakat sebagai potensi diri arsitek diwarnai kemampuan free hand yang asli. Komputer dengan aplikasi dan softwarenya hanyalah media untuk mempermudah produksi design dan bukan inti penentu design.
Kita tidak bisa juga menutup diri dari kemajuan software design grafis, namun jangan sampai melupakan hak mendasar arsitek dalam merancang adalah kemampuan freehand yang diiringi dengan nalar ilmu design.
Selamat merenungkan..

Pentingkah Arsitek Menguasai Ilmu Mekanika?

Ilmu mekanika beragam cabangnya, ada mekanik fluida, mekanika teknik, mekanika rekayasa, dll. Paling erat kaitannya dengan arsitektur adalah mekanika teknik. Beberapa perguruan tinggi arsitektur ada yang memberi nama matematika teknik. Mata kuliah tersebut termasuk yang tidak disukai para mahasiswa arsitektur. Hanya sebagian kecil dari mereka yang cukup rileks dengan mata kuliah ini, selebihnya terlalu banyak yang stress menerima pelajaran ini. Entah apa sebab utamanya. Mungkin memang dari semasa SLTA mereka tidak menyukai nya. Padahal, pelajaran ini penting. Buktinya menjadi mata kuliah wajib disajikan di dalam kurikulum arsitektur.

Saudara tua jurusan arsitektur adalah jurusan sipil, dikenal dengan penguasaan ilmu-ilmu hitung seperti mekanika teknik. Dulu, semasa kuliah S1 arsitektur, dosen-dosen arsitektur juga menghindar untuk mengajar mata kuliah ini. Akhirnya perlu pengajar impor dari jurusan sipil. Kami dulu, diajari oleh dosen sipil pada mata kuliah mekanika teknik 1,2,3, serta mata kuliah bahan bangunan. Saat itu, semasa kuliah kondisinya pun sama seperti sekarang mahasiswa menerima pelajaran itu, bosan dan stress. Dosen sipil biasa mengajari mahasiswa arsitektur sama seperti mereka mengajari mahasiswa sipil. Beberapa istilah dan konteks tidak nyambung.

Setelah puluhan tahun berlalu, barulah sadar pentingnya ilmu mekanika. Arsitek yang biasa berpraktek di dunia rancang bangun, selalu dituntut untuk berpikir cepat dalam membuat estimasi biaya, estimasi dimensi, estimasi struktur konstruksi. Kalau seandainya arsitek tidak menguasi berarti harus bergantung dengan orang sipil. Mencari dulu kenalan orang sipil, berhari-hari baru keluar hasil estimasi. Ini kerja yang tidak optimal. Bagi perusahan besar, biro konsultan arsitek, problem ini teratasi karena tersedia SDM yang lengkap. Meskipun demikian, tetap saja arsitek menguasai ilmu mekanika.

Terkadang kita harus berhadapan dengan klien yang ingin membeli jasa arsitek. Saat itu klien akan bertanya estimasi-estimasi. Kalau jawaban kita selalu ditunda seperti kalimat: “nanti kami hitung dulu”, maka bisa jadi klien meragukan bobot kepakaran si arsitek. Oleh karena itu minimal ilmu mekanika yang dikuasai arsitek menyentuh prinsip global tanpa harus masuk ke urusan detil. Dimensi balok/kolom atau bentuk kuda-kuda atau rangka lainnya secara prinsip dapat diyakini aman melalui penilaian global tadi. Selanjutnya rincian mendetil seberapa besar beban atau gaya yang bekerja pada komponen bangunan diserahkan kepada orang sipil. Kalau pun estimasi global meleset masih bisa dilakukan feedback. Tetapi yakinlah kalau sudah menguasai prinsip ilmu mekanika, biasanya deviasi dari hasil hitung sipil tidak terlalu jauh.

Pengalaman empiris dan teoritis terkadang tidak berimbang. Pada dunia kerja pengalaman empiris memiliki peran yang lebih penting dari teori. Itulah profesi ahli. Kita lihat seorang dokter senior akan beda dengan yang baru lulus kemaren. Demikian juga seperti pilot. Penggambaran pilot yang bagus diukur dari berapa lama jam terbangnya. Makin lama berarti menunjukkan lebih professional dalam keahliannya.

Seperti apakah pengetahuan prinsip dalam ilmu mekanika?
Kemampuan seseorang dalam membuat diagramatik yang memperlihatkan gaya apa saja yang bekerja pada komponen konstruksi sudah termasuk pengetahuan prinsip. Gaya tekan, tarik, geser, puntir, momen, friksi, dll termasuk sebutan yang sering didapati pada prinsip mekanika. Misalnya ada gedung bertingkat banyak, gaya apa saja yang bekerja padanya? Demikian juga dengan beban, ada istilah beban statis dan beban dinamis. Apa bedanya? Arsitek mestinya memiliki pengetahuan tentang hal ini. Pada beberapa jenis konstruksi kuda-kuda atap, arsitek mestinya dapat menunjukkan mana balok tarik, balok tekan dan balok netral.

Demikian juga pada konstruksi bawah, pengetahuan tentang daya dukung tanah atau sigma tanah perlu ditanamkan. Sigma tanah diatas 1 menunjukkan tanah tersebut cukup kuat, sedangkan dibawah 1 menujukkan tanah tersebut labil, sehingga harus ada stabilisasi tanah atau model pondasi yang sesuai. Juga, prinsip pancangan kayu galam untuk daerah rawa pun menjadi bagian ilmu mekanaika. Pada rawa yang memiliki kandungan lempung berbeda dengan rawa berpasir. Pada rawa mengandung lempung seperti di Kota Banjarmasin dan beberapa wilayah di Kalimantan tengah, antar pancangan galam harus memiliki jarak, tidak boleh bersentuhan. Kenapa? Padanya berlaku gaya tekan ke samping, yaitu gaya kohesi dan adhesi, merupakan gaya rekat seperti lem sehingga mampu menahan galam tidak bergerak dan berkedudukan stabil di dalam tanah rawa.