Terang Langit, Merupakan Sumber Cahaya Alamiah yang Berlimpah Ruah

Meskipun pakar fisika bangunan berbeda pendapat tentang nilai kekuatan penerangan di ruang terbuka, tetap saja angka terkecil dari pendapat mereka 5000 lux merupakan nilai yang sangat kuat. Tidak ada lampu yang mampu menyamai kekuatan penerangan alamiah tersebut. Dalam perhitungan, pedoman yang dijadikan sumber cahaya adalah terang langit. Suatu keadaan langit bersih, biru tanpa awan, atau langit tertutup awan putih bersih. Rupanya 2 keadaan ini sebagai sumber cahaya alamiah yang bermanfaat bagi umat manusia di bumi. Subhanallah.

Lucu saja kalau ternyata ada yang menutup diri dari penerangan alamiah. Meminimalkan jendela sehingga ruang dalam bangunan menjadi gelap atau remang-2 di siang hari. Syarat kekuatan penerangan minimal 150 lux saja, padahal di luar sudah tersedia 5000 lux, tidak sampai 10% nya. Beda halnya dengan kondisi bangunan yang terhimpit di antara bangunan lain atau bangunan yang berdiri diatas kavling sempit, wajar jika mendapati problem pencahayaan alamiah. Itu pun masih bisa disiasati dengan memanfaatkan cahaya dari atas atap.

Ada tiga istilah seputar cahaya alamiah ini yang terkait dengan bangunan arsitektur yaitu skylight, atrium dan void. Bagi awam arsitektur perlu juga mengetahui definisinya. Skylight kalau diartikan secara harfiah artinya cahaya langit. Tapi makna dalam arsitektur adalah celah di tengah ruangan yang sengaja direncanakan untuk memasukkan cahaya alamiah atas masuk ke dalam bangunan.

Skylights artinya mirip dengan atrium. Namun atrium lebih mengarah kepada fungsi ruang dalam yang berfungsi sebagai hall menampung banyak pengguna. Bagian atasnya sengaja dipasang kaca agar cahaya dari atas bisa maksimal menembus ke dalam ruangan hingga ke lantai dasar. Terkadang atrium juga sebagai pengarah sirkulasi pengunjung di dalam fasilitas publik. Sepanjang sirkulasi yang berbentuk koridor, bagian atasnya juga demikian.

Void, artinya rongga. Yaitu lubang besar di dalam ruangan menerus ke atas hingga beberapa lantai. Dengan adanya void, orang yang berada di lantai dasar bisa melihat orang yang ada di lantai atas. Void lebih kepada fungsi view, dan tidak mutlak harus tersedia cahaya dari atas.

One Airport Square di Ghana (2015)

One Airport Square adalah bangunan multifungsi di kawasan airport di Ghana yang dirancang olehKarya Mario Cucinella Bandara Di Ghana Mario Cucinella dari Italia. Pekerjaan ini ditangani oleh team work dari berbagai disiplin ilmu.
Memiliki area komersial yang terletak di ground floor dan di dalam blok 10 lantai. Jika dilihat dari arah gurun tampak sekali bangunan ini sangat kontras dengan keadaan lingkungan perkotaan. Total luasnya 17.000 m2. Elemen estetik dan design terinspirasi seni tradisional lokal dan bentuk dari daun pohon palm/kurma sekitarnya, sebagai respon kedekatan dengan lingkungan dan menjadi solusi problem iklim.

Selimut bangunan merupakan elemen penentu yang memperlihatkan keterpaduan antara bentuk, struktur dan lingkungan. Bangunan adalah bentuk yang kompak, terdiri dari sebuah hall yang cukup luas berfungsi sebagai penyediaan pencahayaan dan ventilasi alamiah di dalam ruangan.
Bangunan juga terdiri dari struktur beton masif, dengan tiang yang riqid, sekaligus sebagai unsur dekorasi.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana elemen bangunan

One airport square ini merupakan bangunan pertama di Ghana yang menerima penghargaan bintang 4 dalam bidang design oleh Building Council of South Africa (GBCSA).
Seluruh elemen pada bangunan ini bertujuan menjadi design yang terpadu, menyeimbangkan antara arsitektural dan pertimbangan teknis dalam kaitannya dengan bangunan hemat energi dan mengoptimalkan pencahayaan alamiah. Teknologi termodern telah disesuaikan dengan keadaan tradisi lokal, menjadikang design sangat efisien. Semuanya itu menimbulkan ide baru tentang keindahan bahwa ekologi adalah keindahan.

Perhatikanlah gambar arsitektur di bawah ini

Bentuk denah tampak sangat organik dan tidak simetris, tetapi masalah struktur konstruksi dapat terselesaikan dengan baik. Bentuk seperti ini merupakan hasil dari proses design yang cukup panjang. Dari gambar potongan di samping ini, ada perbedaan kontras antara bagian depan bangunan dan dengan bagian belakannya. Bagian belakang seperti standar bangunan biasa untuk bangunan bertingkat, namun bagian depan memiliki tampilan yang agak berbeda. Gambar axonometri ini menjelaskan bagaimana bangungan ini memiliki nilai penting dari aspek fisika bangunan yaitu terkait dengan pencahayaan dan penghawaan alami yang masuk melalui atrium bangunan.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana denah

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana tampak

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana sistem ventilasi

Green Building Ternyata Juga Disukai Oleh Negara 4 Musim

Semula ada persepsi bahwa green building hanya di negara tropis, yang hanya mengenal 2 musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Di daerah tropis seperti negara kita, justeru panasnya yang lebih panjang dari pada dinginnya. Jadi wajarlah kalau perlu penerapan green building di daerah tropis.

Ternyata fakta yang berkembang membalik persepsi tadi. Nun jauh di sana, di Perancis negara yang memiliki 4 musim justeru menerapkan green building. Green building di Indonesia diterapkan untuk mengurangi efek panas dan juga untuk melakukan penghematan energi, sedangkan di sana tujuan penerapan juga terkait iklim. Saat panas tiba, bangunan bisa mendinginkan, sebaliknya saat dingin tiba bangunan dapat menghangatkan. Perlindungan dari panas dan efek lainnya dari musim salju diantisipasi dengan menerapkan teras atau balkon di sekeliling bangunan. Bahkan, tangga turut serta menjadi komponen pelindung artistik sekaligus memiliki nilai shelter.

Perhatikan pada gambar bagaimana keberadaan tangga yang sengaja di ekspos di luar. Bukan berarti di dalam tidak ada tangga. Saat musim dingin dan salju tangga otomatis tidak terpakai, sehingga tangga di dalam yang berfungsi. Perhatikan juga vegetasi yang ada di antara bidang atap dan dinding, itu bukan sekedar hiasan, tetapi sebagai penjaga stabilitas iklim mikro. Vegetasi juga menjadi komponen view yang menyehatkan mata.

green building di perancis perspektif

green building di perancis

green building di perancis balkon

Sumber : www.archdaily.com

Bencana Asap, Tantangan Baru Bagi Para Arsitek

Sebenarnya telah lama kita diserang oleh asap. Bencana asap telah menjadi menu rutin tahunan, saat musim kemarau tiba. Sorotan tajam pemberitaan media saat itu selalu mengarah ke 2 pulau Kalimantan dan Sumatera. Apa sebabnya? Dari 2 pulau inilah terdeteksi ribuan titik api. Akibat terbakarnya lahan, baik hutan maupun lahan rawa gambut. Jika sekedar pepohonan yang terbakar, setelah batang menjadi arang asap pun hilang. Namun, jika lawan rawa gambut yang terbakar, asap bertahan hingga waktu yang lama.

Tahun 2015 ini bencana asap datang kembali. Sebelum bencana asap ini muncul, beberapa ciri sudah terdeteksi seperti gelombang udara panas yang melanda Pakistan, India, Banglades, dan sebagian negara Timur Tengah, El Nino. Setelah itu berlanjut pada peningkatan suhu udara, kelembaban semakin turun, udara kering meningkat. BMKG pun telah menyampaikan informasi durasi panas tahun ini bakal lebih lama menimpa Indonesia. Informasi demi informasi telah disampaikan, termasuk himbauan untuk berhemat air. Selanjutnya muncul titik pas di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Dari hari ke hari titik panas ini semakin bertambah hingga mencapai angkar ribuan hotspot. Beberapa hutan terbakar, lahan pertanian terbakar, hutan galam terbakar, lahan gambut terbakar. Kebakaran demi kebakaran hutan dan rawa ini semakin tidak terkendali karena pengaruh el nino yang telah mengeringkan udara. Sampailah giliran berikutnya, asap mengepul di area hotspot, kemudian menyebar ke segala penjuru sesuai hembusan angin yang membawanya. Akumulasi asap pun tidak terkendali hingga merata di seluruh ruang udara kota-kota di Kalimantan dan Sumatera.

Rasa was-was bahaya asap menghantui masyarakat. Penyakit ISPA menjadi top trending di Kalimantan dan Sumatera. Ribuan orang telah terkena ISPA. Rumah sakit bahkan tidak sanggup menampung mereka karena melebih kapasitas yang tersedia. Sepertinya ISPA ini sepele, karena tidak ada data signifikan yang menunjukkan kematian akibat ISPA. Tetapi, penyakit pernafasan ini dapat membunuh manusia secara perlahan. Mulai dari batuk, hingga menjadi penyakit paru (TBC). Jika asap pekat terhirup, sama artinya menghirup zat beracun seperti CO ke dalam pernafasan, dan bahkan menyebabkan perut mual, muntah dan kepala pusing.

Asap telah menjadi bencana nasional tahunan. Bencana yang terus berulang. Ini menjadi tantangan baru bagi para arsitek. Bagaimana merencana dan merancang lingkungan binaan yang sehat? Ini menjadi pertanyaan bagi para arsitek. Variabel terbaru yang harus masuk ke dalam proses perencanaan dan perancangan adalah bencana asap. Asap bukan bagian dari iklim. Tetapi asap merupakan partikel yang mengisi udara menjadi udara yang tidak sehat. Mungkin ada saja yang nyeletuk:

“ngapaian asap diurusi dalam rancangan arsitektur? Toh nanti hilang juga saat musim hujan tiba”

Pernyataan ini perlu kita tanggapi. Prolog dari tulisan ini telah menyebutkan bahwa asap adalah musibah yang terus berulang-ulang mengiringi musim kemarau. Berarti pola kemunculannya mirip dengan munculnya musim panas dan musim hujan. Sama seperti banjir tahunan yang melanda Jakarta, toh nanti akan hilang kalau musim panas tiba. Tetapi banjir terus ada tiap musim hujan. Apakah tidak perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan perancangan? Nah, demikian juga dengan musibah asap karena terus berulang-ulang, maka harus dipertimbangkan.

Di Jepang misalnya, karena gempa terus berulang menggoyang negaranya, maka muncullah karya arsitek bangunan tahan gempa dan mereka (Jepang) benar-benar mewujudkannya. Maka, tidak lah salah jika arsitek Indonesia membuat karya bangunan tahan asap. Bagaimana maksudnya bangunan tahan asap? Inilah tantangannya. Mari kita berpikir mulai dari lingkup mikro. Di saat musim asap melanda ruang kota, khususnya kota-kota yang selalu menerima dampak asap, penghuni rumah menutup lubang udara (ventilasi) dengan berbagai bahan agar asap tidak masuk ke dalam rumah. Upaya ini agak merepotkan, tetapi harus dilakukan. Kalau keluar rumah harus pakai masker, demikian juga rumah kita juga harus memiliki masker pelindung asap. Masker bagi manusia menutup lubang pernafasan yaitu hidung dan mulut. Demikian juga rumah, memiliki lubang udara ibarat lubang pernafasan yang harus diberi masker. Sangat lucu jika penghuni rumah terus menerus pakai masker di dalam rumahnya. Berarti lubang udara (biasanya disebut ventilasi) menjadi vital perannya. Disinilah mestinya para arsitek memikirkan bagaimana ventilasi dapat memiliki fungsi yang optimal, sebagai lubang udara, lubang cahaya dan penangkal masuknya zat/gas di udara yang merusak kesehatan penghuninya.

“daripada repot, mendingan pasang AC saja”

Tampaknya pernyataan itu sangat gampang bagi yang berduit. Bagaimana dengan mereka yang secara ekonomi terbatas? Namun terlepas dari kaya atau miskin, AC saat ini masih tercatat sebagai perangkat elektrik yang boros listrik. Hasil penelitian menunjukkan 40% energi digunakan untuk AC. Rumah yang paling boros energy adalah rumah yang ber AC. Semakin dingin suhu ruang yang diinginkan semakin boros energy yang dikeluarkan. 2 derajat saja suhu AC diturunkan energy semakin besar harus dikeluarkan. Tentunya listrik semakin boros. Sesuai dengan fungsinya AC adalah perangkat untuk mengkondisikan suhu udara, bukan menstabilkan asap. Sistem AC bekerja mengolah udara dari luar kemudian memasukan hasil udara olahan yang lebih sehat dan nyaman ke dalam ruangan. Pertanyaannya : udara mana yang akan diolah AC?

Kondisi asap dapat juga dikurangi oleh pepohonan yang ada di sekitar rumah. Perlu kecerdasan memilih jenis pohon yang tepat untuk ditanam. Semakin beragam vegetasi makin bagus untuk iklim mikro sekitar rumah termasuk mengurangi dampat efek asap. Arsitek telah memiliki ilmu dalam perencanaan lanskap.

Selamat berkarya

Kritik Terhadap Posisi Mesin AC

Sistem pengkondisian udara atau yang sering disebut AC, telah menjamur di mana-mana. Tampaknya penggunaan AC menjadi bentuk keharusan untuk negara tropis seperti di Indonesia. Sebagian besar kota di Indonesia memiliki kelembaban udara yang tinggi, sehingga selain panas juga keringat yang keluar dari kulit lambat menguap. Kondisi yang sangat tidak menyenangkan kebanyakan orang.

Apakah setelah terpasang AC selesai masalah? Tentu saja tidak. Akan ada masalah lain menyertainya. Bagi pengguna AC, mungkin terpenuhi keinginan berada pada ruangan dengan suhu normal atau sejuk. Namun, dalam hitungan energi terlalu banyak pemborosan terjadi akibat maraknya penggunaan AC. Panas mekanik yang ditimbulkan AC terakumulasi kuat di kota padat. Selain AC bangunan, AC mobil pun turut andil dalam peningkatan suhu perkotaan.

Dalam tulisan ini, saya ingin uraikan sedikit perihal yang tidak ada kaitan langsung dengan masalah termal, walaupun obyek nya AC. Sistem AC terbagi menjadi dua jenis yaitu AC window dan AC split. Jenis pertama sudah jadul dan mulai ditinggalkan karena tidak efektif dalam hal pemasangan. Adapun jenis kedua, banyak menjamur di rumah-rumah penduduk. Pada AC split, ada 2 bagian besar yang penting yaitu bagian diffuser nya yang biasa dipasang sebelah dalam dari ruangan. Bagian ini berisi kontrol elektrik pengaturan suhu, kelembaban dan kekuatan hembusan yang diinginkan. Selain itu juga dapat diatur timer, kontrol waktu kapan AC mati secara otomatis sesuai waktu yang diinginkan. Bagian yang kedua adalah mesin AC, berisi komponen mekanik dan elektrik yang mengolah udara menjadi dingin. Berfungsi sebagai refrigerator. Letaknya di luar ruangan.
Pada bagian kedua ini lah yang ingin saya uraikan lebih lanjut, karena disini ada permasalahan.

Mesin AC selalu dipasang di luar ruangan, tepat nya menempel di dinding bangunan. Pada bangunan publik, layout mesin AC ini sangat mengganggu tampilan bangunan. Mungkin para arsitek banyak yang lalai dan tidak memperhitungkan keberadaan AC ini. Di satu sisi mereka bersusah payah memikirkan bentuk dan fasade bangunan, ternyata di sisi lain pengguna bangunan memasang mesin AC sembarangan. Estetika bangunan akhirnya menjadi korban. Tengok saja apartmen atau rumah susun di Jakarta, perhatikan posisi mesin AC nya. Sungguh ini sangat mengganggu visual. Demikian juga di rumah sakit. Tidak terlihat sedikit pun perencanaan yang disiapkan sejak awal di mana posisi mesin AC. Akibatnya yang mengatur posisi AC adalah tukang AC. Pemilik atau pengguna bangunan hanya meninggalkan perintah untuk memasang.

Ironisnya, mesin AC dipasang di bawah jendela kaca. Kenapa ironis? Apa yang aneh?
Bagi yang faham akan membenarkan itu ironis, bagi yang tidak faham di sini penjelasan ringkasnya. AC, fungsinya di negara kita untuk mendinginkan ruangan agar terpenuhi suhu ruang yang nyaman antara 24-26 derajat celcius. Sementara jendela kaca adalah sumber kalor terbesar bagi ruangan, karena menyerap radiasi kalor dari sinar matahari. Saat mesin AC bekerja, panas mekaniknya terus meningkat dan tentu akan merambat lewat dinding, kemudian masuk ke dalam ruangan. Jadi AC bekerja keras untuk mendinginkan ruangan, sementara jendela kaca dan mesin AC mensuplai panas ke dalam ruangan. Boros nggak?

Masalah lain, hampir tidak pernah didapati atau jarang terlihat posisi mesin AC dipasang secara terpadu dan terencana. 2 ruangan yang saling bersebelahan persis, memiliki mesin AC yang dipasang tidak sama tinggi. Bagaimana kalau 10 ruangan berjejer dan ke 10 ruangan tersebut memiliki mesin AC yang dipasang tidak seimbang satu sama lain? Belum lagi masalah merk yang berbeda-beda. Ada sharp, ada LG, sebelahnya changong, sebelahnya lagi panasonic, di sananya polytron, entah merk apalagi nanti yang akan dipasang. Beda merk, tentu beda bentuk, bisa jadi beda ukuran.

Masalah lain lagi, bangunan tidak terencana secara tuntas bisa dilihat dari perencanaan sistem AC. Perhatikan bagaimana tampilan kabel dan selang AC. Sangat merusak pandangan mata. Gaya arsitektur utilitarian sekalipun tidak asal-asalan mengeskpose jaringan utilitas. Arsiteknya penuh kematangan dan kejelian dalam memperlihatkan jaringan utilitas termasuk jaringan AC.

Sebenarnya masalah AC ini dapat tertangani dengan baik dan tidak menimbulkan masalah kalau di awal design sang arsitek benar-benar menyelesaikan persoalan utilitas sampai tuntas. Arsitek tidak hanya mengedapan bentuk, tampilan, kekokohan struktur, tetapi juga sistem utilitas sebagai penyokong aktivitas mutlak diperhatikan. Tentu tidak terjadi mesin AC di pasang di bawah jendela. Tentu saja kalau sudah diprediksi akan banyak penggunaan AC, lebih baik menggunakan sistem AC sentral, sehingga tidak ada lagi pemandangan mesin AC menempel di dinding bagaikan pameran beragam merk. Dengan sistem AC sentral, distribusi udara dari mesin AC cukup melalui ducting di atas plafond dialirkan ke setiap ruangan. Kalaupun tidak sanggup dalam biaya pengadaan sistem AC sentral, masih ada solusi lain. Sediakan area tersembunyi sebagai zona penempatan mesin AC. Dalam 1 kluster ruangan ditempatkan 1 zona, demikian juga kluster lainnya.

Sampai Kapan Atap Beton Mampu Bertahan Melawan Alam Tropis?

 foto diatas, saya ambil dari salah satu rumah sakit di salahsatu kota di Propinsi Kalsel, pada tanggal 8 Agustus 2015. Kondisi atap beton yang seperti ini sering saya dapati di beragam tipe bangunan. Tiap kali saya melihat, terus terpikir, dan bertanya : seperti ini kah jadinya jika bangunan tidak sesuai kondisi iklim?

Alam tropis atau istilah lain iklim tropis merupakan nama yang menggambarkan bagaimana kondisi iklim pada daerah tertentu di muka bumi. Memiliki dua musim yaitu kemarau dan musim hujan. Sepanjang tahun dua musim ini bergantian menghiasi alam tropis. Udara panasnya disertai dengan kelembaban tinggi, saat hujan pun disertai angin yang kuat.

Generasi terdahulu, jaman nenek moyang dulu hidup dengan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap alam. Banyak pola yang mereka terapkan mengacu kepada perilaku dan model adopsi dari alam. Berbeda jauh keadaannya dengan kondisi modern sekarang. Adaptasi terhadap alam hampir dikesampingkan, yang dominan adalah bagaimana alam menyesuaikan dengan kebutuhan manusia. Istilah lainnya cuek dengan kondisi alam.

Generasi masa lalu memiliki satu prototip rumah yang mirip konsepnya meskipun daerahnya berbeda-beda. Konsep yang dimaksud sebegai bentuk adaptasi terhadap kondisi dua musim. Atap miring dan tritisan lebar. Dua bukti yang nyata pada rumah tradisional nusantara. Atap miring berfungsi mengalirkan air hujan dengan segera ke tanah. Atap tidak perlu berlama-lama menahan air hujan yang berlimpah dari langit. Segera disalurkan ke tanah, karena di tanahlah yang sangat membutuhkan air untuk kelangsungan kehidupan tanaman dan hewan. Tritisan lebar sebagai perisai dinding, agar tidak terkena air hujan dan juga agar tidak terpapar radiasi sinar matahari menyengat di musim kemarau. Tritisan yang lebar menghasilkan bayangan, sebagaimana pohon yang rindang dapat memberikan peneduh bagi orang yang berada di bawahnya.

Lain masa lalu, lain lagi masa sekarang. Hasil dari sikap cuek terhadap alam tercermin dari bentuk bangunan. Atap miring berganti dengan atap datar, tritisan lebar berganti dengan tritisan sempit bahkan hampir tanpa tritisan. Mengapa demikian? Banyak faktor penyebabnya.

Era globalisasi merupakan zaman keterbukaan. Negeri satu akan melihat keadaan negeri lain. Budaya negeri bercampur baur dengan budaya luar negeri. Bentuk bangunan yang belum pernah dilihat di negerinya terasa lebih bagus daripada bentuk asli negerinya. Seperti pepatah; rumput tetangga terasa lebih hijau dari pada rumput di halaman sendiri. Sampai-sampai kuda peliharaannya memakan rumput tetangganya walaupun badannya di halaman sendiri. Masuknya bentuk bangunan luar ke Indonesia melalui banyak jalan, bisa dari buku, majalah, maupun foto hasil jepretan langsung di luar negeri. Dengan perilaku serba ingin meniru dari luar negeri inilah yang kemudian terwujud bangunan dengan beragam bentuk di Indonesia. Ada bentuk romawi, spanyol, eropa, caribean, kubisme, dll. Bentuk-bentuk yang secara alam berbeda dengan alam tropis. Bentuk bangunan 4 musim berbeda dengan bangunan di 2 musim.

Dukungan kemajuan material pun turut mendukung terwujudnya bangunan aneh di Indonesia. Salah satu yang membuat heran adalah makin banyaknya bangunan dengan atap beton datar. Padahal Indonesia adalah negara beriklim tropis. Lantas, apakah mereka sadar bahwa terpaan hujan yang terus menerus akan mempengaruhi kualitas atap beton? Sementara pelajaran orang-orang terdahulu mengisyarakat air hujan agar segera turun ke tanah, sedangkan orang sekarang justru seperti ingin menahan air hujan agar nanti saja turun, biar bertahan dulu di atas? Apakah yang terjadi setelah lama waktu berlalu?

Sehebat apa pun beton yang diterapkan untuk atap, terpaan hujan terus menerus tetap akan merusaknya seiring dengan waktu. Mulai dari jamur tumbuh, sedikit demi sedikit. Lumut dan ganggang pun mulai menjadi warna penghias atap beton. Semula hanya bagian atas, lambat laut meresap dan masuk ke dalam bangunan. Munculah jamur di sebelah dalam sebagai penghias ruangan. Pemilik pun panik, bagaimana solusi menghilangkannya? Dicarilah cat anti jamur. Beberapa waktu setelah pengecatan, jamur kembali muncul di waktu lain. Akar permasalahannya bukan jamur yang muncul di dalam ruangan, tetapi bentuk atap beton datar yang seakan menantang alam.

Baru 1 poin masalah yaitu jamur. Masalah lain pun tidak kalah seriusnya. Atap datar ada saatnya berubah menjadi kolam di atas bangunan. Pipa penyalur air hujan dapat tersumbat karena berbagai sebab, entah buah yang dijatuhkan oleh burung atau kelelawar, atau kah kantongan plastik yang masuk ke dalam pipa atau kah tikus yang masuk dan terjebak di dalamnya. Jika sudah tersumbat otomatis air di atap tidak mengalir dan menjadi kolam.

Mengapa gedung MPR/DPR di Jakarta masih bertahan sampai sekarang? Padahal menggunakan atap beton. Coba perhatikan adakah bagian atap nya yang datar? Ada satu lagi yang mengherankan kita, Belanda yang cukup lama menjajah negeri kita, ternyata mereka tidak menerapkan model bangunan negeri asalnya. Justru yang kita saksikan bangunan yang disebut bangunan kolonial banyak didapati dengan bentuk tropis, atap miring dengan tritisan lebar. Kalau masuk ke dalamnya, plafond relatif tinggi, menjadikan volume ruang menjadi besar dan udara pun teras sejuk di dalamnya. Sekali lagi, heran. Belanda negara Eropah yang berada di negeri 4 musim, tetapi jika mereka di Indonesia, karya arsiteknya sesuai alam Indonesia.

Cerdas Dalam Menghemat Energi (bagian ke-2)

Masih melanjutkan uraian tentang AC lanjutan dari tulisan bagian pertama.

  1. Aliran kalor yang turun dari atap terus terperangkap di plafond dan perlahan tapi pasti masuk ke dalam ruangan. Besarnya kalor tergantung jenis atapnya. Kalau atap metal menjadi sumber panas terbesar diantara bahan penutup atap lainnya. Kalau mau adem, pakai genteng tanah liat atau minimal genteng beton. Cuma ada problem karena beratnya. Jenis atap yang lumayan untuk meredam panas dan bunyi hujan seperti produk dari ondulin dan beberapa merk lain.
  2. Jenis penutup plafon pun dapat mempengaruhi kalor. Jika menggunakan jenis kalsiboard dan nusaboard lebih panas jika dibandingkan gybsum. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  3. Sebagai media elektrik pengolah udara, AC perlu perawatan secara berkala. Udara segar yang diambil dari luar kemudian membuang udara dan kalor dari dalam menjadi tugas berat AC karena yang tersedot juga material padat tetapi halus, seperti debu dan partikel sejenisnya. Terlebih lagi jika musim asap di musim kemarau, tugas AC menjadi lebih berat lagi. Jika service berkala kondisi mesin AC menjadi ringan dan beban listrik pun menjadi berkurang. Di sisi lain AC bersih mempengaruhi pada kesehatan pernafasan. Ulasan ini bukanlah dukungan atau rekomendasi untuk menggunakan AC, tetapi sebagai saran bagi para pengguna untuk lebih cerdas dalam penggunaan dan perawatan.
  4. Terkait jenis AC, sekarang yang menjadi tren adalah AC tipe split. Mudah dan flesibel untuk meletakkan mesinnya, karena terpisah dengan diffusernya. Dinding pun tidak terlalu banyak yang harus dilubangi, berbeda dengan AC Windows. Pilihlah AC split yang menggunakan daya rendah.
  5. Kekuatan AC cukup beragam ½ pk, ¾ pk, 1 pk, 1,5 pk dan 2 pk. Pilihlah sesuai kebutuhan ruang. Maksudnya sesuai berapa volume ruangan yang ada. Misalnya ukuran kamar 3 x 4 dengan tinggi plafond sekitar 3 m bisa menggunakan AC ½ pk saja. Tetapi tergantung juga beban kalor di dalam ruang tersebut, jika ruang tersebut ada beberapa orang pengguna (misalnya di sebuah kantor) dan di dalamnya juga banyak perangkat komputer, maka perlu dipertimbangkan menggunakan AC ¾ pk atau lebih. Sebenarnya ada rumus untuk menghitung seberapa besar kekuatan AC yang ditunakan, tetapi bukan pada artikel di sini pembahasannya.

Lampu
Orang yang cerdas dalam menggunakan lampu berarti ia termasuk cerdas dalam menghemat energi. Bagaimana caranya?

  1. Tanamkan mindset anda bahwa lampu mestinya menyala di malam hari saja atau siang hari tetapi kondisi mendung yang gelap. Pemandangan yang lucu dan lugu jika masih saja ada bangunan menggunakan lampu di siang hari. Berarti ada yang salah dari bangunan itu.
  2. Saat ini kita sudah kebanjiran produk lampu SL (soft light) yang menghasilkan warna cahaya sejuk. Lampu ini cukup diminati karena mudah dalam pemasangan berbeda dengan tipe seniornya yaitu lampu TL (tube lamp) atau yang biasa disebut neon. varian dan merk lampu SL juga banyak, hingga membuat bingung orang yang akan membelinya.
  3. Saran dalam memilih lampu SL: 1) pilih yang berkualitas, berlabel SNI; 2) Jangan terpengaruh harga murah. Bisa jadi dalam 1 tahun anda harus ganti lampu 4 kali. Selain itu, lampu murah biasanya kualitas dan kekuatan cahayanya rendah. 3) lihat di kemasannya nilai lumen nya, jangan lihat nilai wattnya. Seperti philips mengeluarkan lampu dengan kemampuan 61 lumen/watt. Jika anda membeli lampu philips sebesar 15 watt berarti besarnya aliran cahayanya sebesar 61 x 15 = 915 lumen. Jika lampu ini menerangi bidang seluas 4 m2 maka kekuatan cahayanya adalah 915 lumen/6m2 = 152.50 lux. Nilai ini sudah cukup terang untuk ukuran kamar seluas 6 m2. Hanya dengan energi 15 watt, sudah mencukupi untuk penerangan di ruangan 6m2. Bisa dibandingkan dengan lampu pijar, untuk dapat mencapai aliran cahaya yang setara itu memerlukan energi sebesar 75 watt. Oleh karenanya wajarlah jika PLN menghimbau masyarakat tidak menggunakan lampu pijar lagi sebagai sumber penerangan rumah. Penggunaan lampu SL dapat menghemat energi 3 kali lipat.
  4. Selain cerdas memilih lampu, juga harus cerdas memilih cat dinding dan plafond ruangan. Cahaya lampu selain langsung dipancarkan ke obyek juga ada yang dipantulkan ke dinding dan plafond. Manfaatkanlah cahaya pantulan tersebut. Gunakanlah cat yang berwarna muda. Faktor refleksi (pantulan) cahaya warna muda memiliki nilai 70% dan yang agak gelap 30 %. Pemilihan warna tergantung selera pengguna, dan perlu disesuaikan bagaimana kebutuhan cahaya. Jika konsep penghematan energi, maka tidak ada pilihan lain, kecuali harus menggunakan warna muda, seperti putih, hijau muda, kuning muda, dst.
  5. Faktor susunan dan kedudukan lampu pun dapat berpengaruh pada kualitas penerangan. Hal tersebut disebut dengan sistem iluminasi. Pada umumnya masyarakat menggunakan sistem iluminasi langsung yaitu 90 – 100% cahaya langsung dipancarkan dari lampu. Kelemahannya adalah dapat menimbulkan bayangan dan bisa menyilaukan. Sebaliknya, ada sistem iluminasi tidak langsung, yaitu cahaya lampu dipantulkan 90-100% ke plafond atau dinding. Dari sistem ini cahaya yang menerangi ruangan merupakan cahaya pantulan. Sistem ini cocok untuk ruang kantor, studio gambar, dll. Sebenarnya ada lagi 3 sistem iluminasi, tetapi saya merasa tidak perlu menjabarkannya dalam kesempatan ini.
  6. Khusus lampu luar, seperti di teras, lampu taman atau lampu jalan, gunakan timer yang ditambahkan pada MCB (miniature circuit breaker). Anda cukup mengatur pada jam berapa lampu menyala dan kapan lampu mati. Misalnya anda inginkan lampu luar menyala pada pukul 6 sore dan mati secara otomatis pada pukul 6 pagi. Dengan sistem timer ini maka anda tidak perlu khawatir lupa mematikan lampu luar.

Barsambung lagi insyaAllah ke bagian 3

Cerdas Dalam Menghemat Energi

Dari 4 kata pada judul artikel ini, 2 saja yang perlu dibahas, yaitu kata cerdas dan energi. Cerdas merupakan gambaran kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu [berfikir, bertindak, berbuat, berucap] dengan tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada atau kondisi yang akan datang. Hasil tindakan orang yang cerdas akan berdampak positif kepada orang lain. Cerdas atau tidaknya seseorang tidak tergantung dengan tingkat pendidikan. Belum tentu orang yang tidak sekolah atau tidak sampai belajar di sekolah tingkat tinggi kecerdasannya rendah. Bisa jadi yang sekolah tinggi kecerdasannya pas-pasan atau rendah. Perlu juga diketahui kecerdasan berbeda dengan kepintaran.

Kata yang kedua adalah energi. Meskipun hanya satu kata, energi mengandung bahasan yang luas, tergantung dengan kacamata disiplin ilmu siapa yang akan membahasnya. Dalam tulisan ini, energi yang dimaksud hanya seputar disiplin ilmu Arsitektur, seperti energi listrik, kalor, bunyi, cahaya. Itupun masih perlu dibatasi lagi dan pembahasannya tidak masuk ke dalam rumus-rumus yang memusingkan. Intinya energi adalah segala bentuk pengeluaran daya/tenaga untuk menjamin tetap berlangsungnya aktivitas di dalam bangunan arsitektur.

Setelah terurai dua hal tersebut di atas tadi, sekarang mulai masuk pada inti artikel ini. Makna judul mengandung ajakan untuk berhemat dalam penggunaan energi. Upaya penghematan energi itu harus diimbangi dengan kecerdasan. Subyek yang diharapkan cerdas adalah masyarakat secara luas. Masyarakat memerlukan pengetahuan wawasan tentang apa saja bentuk pengeluaran energi pada bangunan dan bagaimana cara menghematnya.

Bentuk energi yang dikeluarkan pada bangunan:

  1. Pra konstruksi
  2. Konstruksi
  3. Pasca huni

Rincian energi pasca huni:

  1. Perangkat elekrik dan mekanik [kulkas, strika, oven, kompor listrik, mixer, blender, mat listrik, dispenser, pompa air, peralatan kerja tukang, solder, mesin cuci, vacum cleaner, komputer/laptop, charger, tape, televisi, vcd, kipas angin, alat olah raga indoor]
  2. Sistem AC [AC split, windows]
  3. Sistem Cahaya [lampu pijar, lampu SL, TL, Halogen, LED)

Berdasarkan hasil penelitian, dari semua yang tersebut pada tiga kelompok tadi, yang terbesar pengeluaran energinya adalah sistem AC. Berarti kita harus perhatian terhadap obyek yang satu ini. Harus cerdas bagaimana menyiasatinya agar energi tidak boros. Bagaimanapun hebatnya atau mahalnya AC yang digunakan tetap saja masih terkait dengan jaringan listrik yang disediakan PLN. Padahal PLN saat ini dan dari tahun-tahun sebelumnya selalu mengalami krisis. Maksudnya ketersediaan energi listrik untuk bisa melayani masyarakat secara luas tidak seimbang dengan jumlah kebutuhan penggunanya. Byarfet, istilah sering padamnya listrik di perkotaan menggambarkan krisis listrik yang terjadi. Sekali lagi, AC adalah sumber pengeluaran terbesar dari energi listrik pada bangunan.

Pengalaman dari mereka yang terbiasa menggunakan AC di rumahnya, daya listrik 1300 watt saja tidak sanggup melayani kebutuhan rumah yang memiliki AC 2 buah. Setidaknya rumah tersebut memerlukan daya sebesar 2,200 watt. Rata-rata pengeluaran mereka 600-750 ribu per bulan. Sebab utamanya adalah adanya AC. Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk membayar listrik, tetap saja pemerintah melakukan himbauan untuk melakukan penghematan energi.

Selain AC, komponen lain yang mengeluarkan banyak energi adalah lampu. Meskipun kelihatannya tidak besar, tetapi akumulasi seluruh lampu yang digunakan tentunya daya menjadi besar. Lampu terus menerus menyala selama 13 jam lebih per harinya. Belum termasuk kalau lupa mematikannya. Berdasarkan letaknya lampu terbagi menjadi tiga :

  1. Lampu interior
  2. Lampu eksterior (teras depan, samping, selasar)
  3. Lampu taman

 

Anda bisa kalkulasi sendiri ada berapa jumlah lampu yang dimiliki. Kemudian tinggal dijumlahkan dengan nilai daya lampunya. Lampu itulah yang terus menyala setiap malam hari atau siang hari dengan mendung gelap atau justru menyala 24 jam karena ruangannya tidak memungkinkan cahaya luar secara maksimal masuk ke dalam ruangan.

2 hal yang telah diuraikan di atas tadi yaitu AC dan lampu menjadi obyek utama dalam penghematan energi.

Bagaimana caranya?

AC

  1. Jangan dibenamkan mindset anda bahwa ruangan harus ber-AC. Kalau mindsetnya sudah kuat harus ber-AC maka akan sulit untuk berhemat dari sisi ini. Terlebih lagi anak-anak, karena mengikuti pola orang tuanya selalu pakai AC, maka si-anak akan tumbuh besar pada situasi termal yang diolah oleh AC. Pada gilirannya jika anak tadi berada pada lingkungan termal yang berbeda maka akan sulit untuk beradaptasi dengan cepat. Anak sulit tidur, kemudian jatuh sakit.
  2. Gunakan AC pada saat kondisi termal rumah cukup panas saja. Iklim tropis di Indonesia, berselang-seling antara panas dan dingin. Pada musim panas pun biasanya ada kondisi termal yang nyaman. Untuk membantu menggantikan sementara peran AC cukup dengan kipas angin.
  3. Bagi yang berencana membangun rumah, perhatikanlah bagaimana sistem sirkulasi udara di dalam rumah. Anda cukup lihat denah rumah yang telah dirancang oleh arsitek. Perhatikan jendela dan ventilasinya; a) apakah ada jendela atau ventilasi yang saling berhadapan? b) apakah jendela ruangan berhadapan dengan ruang luar secara langsung? c) apakah ukuran jendela cukup besar? d) apakah jenis jendelanya kipas atau jungkit atau kaca mati? Ketahuilah bahwa setiap hari kalor terjebak di dalam rumah dimulai sekitar pukul 09.00 pagi dan akan berangsur hilang paling cepat sekitar pukul 21.00 (tergantung material dindingnya). Kalor tadi datang dari arah dinding, jendela, dan atap, sebagai efek radiasi sinar matahari. Kalor yang terjebak di dalam rumah harus bisa keluar dengan alamiah yaitu dengan sistem ventilasi silang. Maksudnya ada celah atau rongga pada dinding yang bisa menjamin keluar masuknya aliran udara atau hembusan angin. Kalor akan terbawa keluar oleh aliran angin, sehingga ruangan menjadi sejuk. Bagi yang menggunakan AC, kalor yang terjebak inilah yang dikeluarkan oleh sistem AC. Tetapi AC bukan penyelesaian alamiah, justru menyebabkan pemborosan energi.
  4. Bagi yang sudah memiliki rumah, maka perhatikanlah prinsip ke-3 di atas. Kalau memang tidak ada sistem ventilasi silang, sebaiknya mengalah sedikit untuk direhab. Jangan tergesa-gesa untuk membeli AC.
  5. Sekali lagi AC bukan solusi. Ada lagi upaya yang bisa menguatkan penghematan energi yaitu peran pohon dan vegetasi di halaman rumah. Tanaman memiliki peran menurunkan kalor, mematahkan efek radiasi sinar matahari, membentuk bayangan peneduh. Selain itu produksi oksigen dari resfirasi daun di siang hari akan menambah kesejukan iklim di sekitarnya. Tanaman di dalam rumah pun juga berperan memperbaiki iklim mikro.
  6. Model atap dan tritisan serta kanopi juga berperan sebagai pematah efek radiasi sinar matahari. Jika model atap yang ujungnya tidak melewati dinding berarti tidak ada perannya. Atap yang menjulur keluar dinding hingga 1 meter dari dinding menjadi pelindung utama dinding dan jendela dari pengaruh radiasi sinar matahari. Jenis atap inilah yang cocok untuk iklim tropis.
  7. Peredam radiasi matahari yang lain bisa dalam bentuk sun shading atau pun sun screen. Apapun istilahnya, maksudnya sama yaitu melindungi sisi bangunan terkena radiasi sinar matahari secara langsung.

Masih ada lanjutan dari pembahasan ini. InsyaAllah akan diterbitkan pada waktu dekat ini.

3 SISTEM KENYAMANAN RUANG

termometerRuangan yang nyaman di dalam bangunan menjadi sebab betahnya pengguna ruang di dalamnya. Satu keluarga betah di dalam rumahnya, karyawan betah bekerja di kantornya, para pelajar dan mahasiswa betah dalam belajarnya, para hobi baca betah berlama-lama di perpustakaannya, para pasien merasa betah opname di rumah sakitnya, dan masih banyak contoh lainnya. Implikasinya adalah meningkatnya produktivitas kerja karyawan-pegawai-pengajar-manager, meningkatnya kualitas pendidikan, kualitas hubungan keluarga, serta juga sangat membantu penyembuhan penyakit pasien di rumah sakit. Tentu ada aspek yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan ruangan yang nyaman.

Setidaknya ada 3 aspek yang mempengaruhi kenyamanan ruang, yaitu sistem kenyamanan termal, sistem akustik dan sistem pencahayaan. Sistem yang dimaksud disini adalah berjalannya fungsi beragam faktor untuk terwujudnya sesuatu. Pada sistem kenyamanan termal, ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi, diantaranya : 1] luas ruangan, 2] tinggi ruangan, 3] jenis material yang digunakan, 4] posisi jendela atau lubang angin, 5] lingkungan sekitarnya. Ke-5 faktor tersebut ini terkait satu sama lain. Demikian juga pada sistem akustik, juga ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi, antara lain : 1] sumber bising, 2] jarak ke sumber bising, 3] material bangunan, 4] posisi bidang bangunan terhadap sumber bising serta 5] ruangan dalam bangunan yang berpotensi menimbulkan bising. Pada sistem pencahayaan, faktor yang mempengaruhi adalah 1] arah sumber cahaya, 2] ukuran jendela, 3] jenis cat ruangan, 4] jenis lampu yang digunakan, 5] keadaan lingkungan sekitar. Satu saja faktor tidalightmeterk mendukung mengakibatkan gagalnya sistem bangunan yang direncanakan.

Ketiga aspek yang telah dijabarkan di atas tadi memiliki penjelasan rinci. Para mahasiswa arsitektur mendapatkannya pada mata kuliah fisika bangunan dan mata kuliah lainnya yang berisi materi terkait. Telah menjadi tugas para arsitek untuk merancang bangunan yang bisa memberikan tingkat kenyamanan yang bagus kepada penggunanya. Oleh karenanya proses design bangunan yang ditangani oleh arsitek tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang tidak singkat. Perlu analisa dan sintesa tautan satu sama lain diantara aspek tadi. Continue reading “3 SISTEM KENYAMANAN RUANG”

eco-airport ? apa itu ?

ilustrasi bandaraAlhamdulillah bisa nulis lagi di sini, padahal sebelumnya saya upload rencana menulis tentang Cara Sederhana Merancang Rumah, sampai sekarang belum terwujud. Mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan waktu. Sekarang saya justeru tertarik dengan istilah baru eco-airport [mungkin anda pun baru mengetahui atau justeru lebih banyak tau dari saya]

ECOLOGY, ekologi, sebagai penyandaran kata untuk menunjukkan topik lingkungan, saat ini menjadi bahasan yang hangat di masyarakat. Mudah-mudahan ini menjadi ciri tumbuhnya kesadaran kelestarian lingkungan. Berbagai konsep ekologi diikutkan ke dalam aspek-aspek kehidupan. Misalnya eco-river yang maksudnya adalah mengarah pada kelestarian sungai. Eco-urban yang mengarah pada kelestarian lingkungan perkotaan. Dalam urusan perencanaan wilayah juga ada istilah eco-planning sebagai upaya memberikan muatan lingkungan dalam perencanaan. Demikian juga eco-building yang mirip konteksnya dengan green building. Eco dan green memiliki kemiripan.

Ada lagi istilah baru yaitu eco-airport. “Ke depan kami akan menuju kepada `eco-airport` atau `smart airport`,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bhakti dalam konferensi pers International Green Aviation Conference 2013 di Jakarta, Rabu. [ini linknya]

Bandara juga menjadi sumber polusi sehingga perlu penerapan eco-airport. Wajar saja, pesawat dengan dimensi yang lumayan besar telah menggunakan BBM jenis avtur yang besar juga. Lebih melebar sedikit kita bahas bagaimana bandara jika dikaitkan dengan isu lingkungan. Bandara berfungsi sebagai terminal penumpang angkutan udara. Dimensi yang besar mencerminkan kebutuhan untuk menampung manusia dalam jumlah besar. Dari tahun ke tahun bandara terus mengalami pengembangan, penambahan, perluasan dikarenakan desakan kebutuhan. Hari demi hari pengguna jasa pesawat terbang semakin meningkat. Maka, wajarlah jika memunculkan efek lainnya seperti bertambah sesaknya parkir kendaraan. Apakah parkir bukan sumber panas? Ya. Menjadi sumber panas dan sumber bising. Efek rumah kaca yang merusak lapisan ozon, dipermisalkan seperti mobil ber AC. Pengguna mobil di dalamnya tetap merasa sejuk, namun mobilnya melepaskan panas ke sekitarnya dengan panas yang berlipat ganda. Makin banyak penumpang pesawat menuntut perluasan ruangan; ruang cek in, ruang tunggu, ruang keberangkatan, dll. Semua ruang distandarkan dengan sistem AC. Ada ga bandara tanpa AC? Bahkan bandara perintis pun menggunakan AC walaupun tipe AC split. Bandara Internasional sekelas Bandara Soetta sudah jelas menggunakan AC central, mau ga mau harus jenis AC ini, untuk menghemat biaya dan memudahkan kontrol. Siapa sangka AC menjadi sumber boros energy no. 1?

Kembali ke eco-airport tadi, jika pembahasannya bagaimana pesawat mengkonsumsi BBM yang ramah lingkungan mungkin tepat jika disebut eco-airplane. Bagaimana mungkin menempatkan istilah eco-airport hanya pada BBM pesawat sedangkan inovasi sistem AC belum mengarah ke eco-AC? Demikian juga dengan parkir yang menampung ribuan mobil ber AC belum bisa menjadi eco-park.

Mari kita bahas, mungkin ada yang memiliki ide cemerlang untuk pencerahan kita semua…