Warna Berpengaruh Besar Pada Eksistensi Design Di Tengah Konfigurasi Ruang Kota

Desain dipengaruhi oleh bermacam model bentuk, tekstur, jenis bahan dan warna. Semuanya memiliki peran membentuk karakter desain. Ada bentuk yang sederhana menjadi menarik karena ketepatan memilih warna. Untuk bangunan berlantai banyak, warna yang mengandalkan cat cukup riskan dan rentan. Musuh utama cat tembok adalah jamur dinding yang akan membuat kusam bangunan. Demikian juga partikel debu tranportasi lambat laun akan mengotori dinding bangunan. Akibatnya, bangunan berlantai banyak tadi setiap tahun memerlukan pemeliharaan. Alat-alat pembeliharaan bangunan menghiasi bangunan tiap tahun dan desain pun menjadi hilang.

Nah, jika ingin warna awet gunakanlah warna asli bahan atau material. Namun, perlu kecerdasan memilih warna material sebelum terpasang. Kombinasi warna yang tepat menghasilkan nilai desain yang bermutu, meskipun bentuk sederhana.

Sebuah bangunan multi fungsi di London, hasil karya Renzo Piano , merupakan contoh bangunan yang berhasil mengkombinasi warna dengan tepat sesuai keadaan lingkungan sekitarnya. Proyek ini dimulai tahun 2010 yang lalu.

stringio

Konsep yang dipersiapkan untuk lokasi untuk mentransformasikan sebuah bangunan tunggal yang berfungsi campuran seperti perkantoran, retail, restaurant dan hunian dan mengintegrasikannya dengan area sekitar.
Arsitek memilih situasi sekitar bangunan sebuah courtyard yang berada di tengah site, yang terhubung dengan akses publik dan lantai bawah public menuju jalan dan ruang sekelilingnya.

stringio situation of site

Kunci elemen dari pola yang ada ini adalah memperkenalkan aktivitas di dalam area ini, menyediakan fungsi campuran seperti retail, restauran perumahan yang berlangsung siang dan malam, serta membuat sebuah pengelolaan yang tepat dan kontrol lingkungan yang sesuai dengan pendekatan urban design berkaitan dengan unit retail, space dan jalur pedestrian.

stringio pedestrian

stringio pedestrian 2
Tiap sisi bangunan unik, berbeda ketinggian, orientasi, warna dan hubungan cahaya alamiah. Kaca, besi dan keramik merupakan elemen utama kulit bangunan. Tiap bidang keramik menggunakan posisi dan warna yang berbeda untuk merespon sekeliling bangunan.

stringio detil

Courtyard di tengah bangunan ini sangat mendukung aktivitas pengguna

stringio courtyard concept

Perhatikan coretan konsep arsitek. Bangunan sengaja dibuat berbeda pada masing-masing segmen, baik bentuk, warna maupun bahan.

stringio sketsa 2

stringio sketsa 1

Sumber : www.archdaily.com

Jangan Remehkan Sistem Utilitas Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan

Bangunan arsitektur dihasilkan dari proses disain yang runtut. Konsep sebagai bagian dari imajinasi sang arsitek didukung oleh ilmu rekayasa dan seni sehingga dapat menghasilkan karya yang bagus. Fungsi, konstruksi dan estetika merupakan 3 pilar konsep yang mengalir ditengah mahasiswa arsitektur yang sedang mengenyam pendidikannya. Hingga mereka lulus sebagai sarjana, 3 pilar ini pun menyertai dalam berkarya.

Tapi, mungkin ada saja yang terlupakan diantara mereka. Akibat bergelut asik dengan 3 pilar, terlupakanlah 1 bagian yang memiliki peran penting dalam bangunan arsitektur, yaitu utilitas. Utilitas atau terkadang disebut sistem jaringan di dalam bangunan antara lain sistem sanitasi dan plumbing, sistem pencahayaan dan listrik, sistem AC, sistem transportasi vertikal, sistem pencegah kebakaran, sistem penangkal petir, sistem suara.

Disini saya akan menuliskan tentang sistem pemadam kebakaran. Masih hangat berita menempel dalam ingatan kita tentang terbakarnya Gedung Kosgoro di Jakarta. Bangunan dengan total lantai 20, terbakar dari lantai 16 hingga ke atasnya. Padahal bangunan tersebut berdiri megah diantara bangunan berlantai banyak lainnya di Jakarta. Hasil temuan, penyebabnya adalah ada korsleting listrik. Kesulitan demi kesulitan dihadapi oleh para pemadam kebakaran untuk bisa menjinakkan api. Dari malam hingga subuh hari baru bisa menjinakkan si jago merah. Faktor yang cukup menghambat usaha pemadaman adalah kebakaran terjadi di lantai bangunan yang tinggi, sehingga untuk menjangkaunya sangat sulit. Usaha untuk bisa menerobos masuk melalui dalam bangunan juga sulit karena bangunan sudah terlanjur dipenuhi asap dan hawa panas serta akses yang sulit. Demikian juga ketersediaan hydran pilar yang terbatas,dll. Dari sisi sistem proteksi gedung Kosgoro juga memiliki kelemahan, yaitu tidak berfungsinya sistem pemadam kebakaran yang ada.

Begitu banyak kerugian yang dialami akibat kebakaran gedung bertingkat seperti Gedung Kosgoro ini. Diantara sebab lambatnya proses pemadaman karena fungsi utilitas yang tidak tercapai. Belum lagi kalau dihitung kerugian yang lain. Pada kasus lain bahkan ada yang sampai menelan korban jiwa. Utilitas pencegahan dari bahaya kebakaran ini tidak bisa disepelekan, karena besarnya korban materi dan jiwa.

Terkait dengan utilisan sistem pencegahan bahaya kebakaran ini dapat dikategorikan menjadi :

  1. Sistem deteksi

Awal kebakaran didahului oleh ciri asap dan panas. Dua ciri ini dapat dideteksi dengan komponen seperti smoke detector dan heat detector. Saat ada asap atau panas, alat ini akan terhubung dengan sistem alarm bahaya dan splinker. Splinker akan pecah dan menyemburkan air pada radius tertentu. Jarak antar splinker maksimal 3 m. Berarti splinker akan berkaitan dengan sistem distribusi air bersih. Semburan air dari splinker ini mestinya sudah bisa meminimalisir api yang masih kecil, dan membasahi komponen di dalam ruangan sehingga api tidak mudah menjalar.

 

  1. Sistem evakuasi

Jika alarm emergency berbunyi, kepanikan akan terjadi di dalam gedung. Masing-masing orang akan mencari jalur untuk segera keluar. Jalur evakuasi ini sangat penting perannya, khususnya pada gedung bertingkat banyak. Jalur evakuasi akan terhubung dengan tangga darurat. Mestinya penempatan tangga darurat, berada pada posisi yang mudah dijangkau dan memiliki daya tahan yang kokoh terhadap panas tinggi. Kebutuhan tangga darurat tergantung dari kapasitas pengguna bangunan. Penyelamatan juga mestinya dapat dilakukan melalui balkon atau jendela yang mudah dijangkau oleh alat penyelamat berupa tower crane atau gondola atau crane hidrolic. Jika bangunan tidak memiliki bidang bukaan yang mudah dicapai atau hanya berupa dinding kaca masif, tentu akan sangat menyulitkan prose evakuasi.

 

  1. Sistem pemadaman

Sistem pemadaman portable berupa tabung yang disebut fire extinghuiser harus tersedia di beberapa titik di dalam ruangan. Suatu saat bisa digunakan oleh siapa saja yang berada di dalam gedung. Dalam lingkup yang lebih luas, ketersediaan hydran pilar dan reservoir air di bawah tanah sangat penting dalam proses pemadaman. Hydran pillar ini mestinya dapat menjamin kelancaran penggunaannya. Saking jarangnya terjadi kebakaran terkadang hydran pillar ini tidak digunakan dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya banyak mur baut dan kunci pembuka mengalami korosi dan sulit untuk dibuka. Jika ini terjadi saat emergency maka akan menghambat proses pemadaman. Demikian juga peran reservoir bawah tidak saja untuk cadangan air bersih semata, namun juga menjadi sumber air untuk pemadam kebakaran.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Mengapa WTC Bisa Ambruk?

wtc ambrukUntuk dapat membuat analisis menyeluruh mengenai alasan mengapa World Trade Center (WTC) bisa runtuh dalam waktu kurang lebih sepuluh detik, maka kita harus meninjau  hal ini dari dua segi: yaitu analisis mengenai struktur yang digunakan WTC dan analisis mengenai kemungkinan penyebab-penyebab runtuhnya WTC.

1. Analisis struktur World Trade Center

Gedung ini dirancang dan dibangun sekitar 30 tahun yang lalu sekitar tahun 1966-1973, oleh arsitek Minori Yamazaki dan oleh ahli struktur Jhon Skilling dan Leslie E. Robertson. WTC terdiri dari 110 tingkat dan 6 lapis basement. Terbagi menjadi dua gedung kembar, yaitu north tower setinggi 417m dan south tower 415m. Dimensi denah lantai tipikal adalah 63,5m x 63.5m, dimensi kolomnya 24m x 42m, jarak per lantainya adalah 3,66 tipikal.

Strukturnya menggunakan struktur baja dengan lantai komposit dengan beton ringan. Menggunakan viscoelastic shock absorbers yang dipasang antara balok-balok lantai dan kolom-kolom perimeter. Pondasinya berada pada lapisan batuan dengan kedalaman 22,5m, daya dukungnya sebesar 39 kg/cm2.

Sistem strukturnya menggunakan struktur rangka tabung frame tube system, sebagai equivalent hollow tube. Struktur ini ekonomis dengan keamanan yang tinggi khususnya untuk bangunan tinggi dengan memperhitungkan beban lateral (angin dan gempa). Sistem tabung ini akan bekerja dengan baik jika dinding-dindingnya merupakan dinding kaku sebagai struktur yang menahan gaya lateral tadi. Namun tetap harus dikombinasikan dengan struktur lantai kaku sebagai rigid diaphragm.

Struktur dinding kaku tersebut diwakili oleh kolom-kolom perimeter yang rapat dan diikat oleh balok tepi yang tinggi (deep spandrel beam). Sistem ini dapat mengakomodasi jendela-jendela pada lubang-lubang diantara kolom-kolom perimater. Bentuk kolom perimeter tersebut berbentuk box dengan dimensi 450mm x 450mm, jarak antar kolomnya 1.020mm, dengan jarak spandrel setinggi 1.320mm pada lantai bawah. Setiap kelompok terdiri dari tiga kolom, berubah menjadi kolom-kolom tunggal box berdimensi 800mm x 800mm.

Rangka tabung tadi dihubungkan dengan rangka kaku rigid conection, sehingga terbentuk struktur rangka tabung, yang bersifat laterally and torsionally rigid frame tube. Struktur tabung ini lebih diutamakan untuk beban-beban lateral, sedangkan core dan kolom interiornya untuk menahan beban gravitasi. Hal ini berbeda dengan bangunan yang tidak terlalu tinggi dimana core sebagai penahan beban lateral. Kesimpulannya adalah sistem struktur berubah seiring ketinggian bangunan. Karena untuk bangunan yang sangat tinggi perencanaannya didominasi oleh beban lateral seperti angin dan gempa. Dan gedung WTC ini dirancang untuk menahan beban angin sebesar 220 kg/m2. Continue reading “Mengapa WTC Bisa Ambruk?”