Mobil Tabrak Tembok Pembatas Setelah Menuruni Ramp Area Parkir dan Terjun Bebas; Salah Siapa?

Berita seperti judul di atas telah terjadi berulang kali. Dini hari tadi di Depok Town Square (Detos) mobil Honda jazz terjun bebas dari ketinggian 9 meter lebih, setelah menabrak tembok parkir, 2 orang di dalamnya tewas. Kejadian serupa juga pernah terjadi. Pada bulan Mei 2007, di ITC Permata Hijau Jakarta Selatan, sebuah Honda jazz menuruni ramp parkir dan masuk ke jalur kendaraan naik, sehingga menabrak tembok pembatas dan terjun bebas dari ketinggian 20 m, 3 orang tewas. Honda Accord juga pernah terjun bebas dari parkir lantai 8, gedung Jamsostek Jakarta Selatan pada bulan Januari 2008, pengemudi tewas. Bulan Juli 2009 Suzuki Swift jatuh dari lanti 2 Hyper Mall Bekasi  setelah menabrak dinding pembatas gedung parkir. Bulan Juli 2012, Honda Jazz jatuh dari lantai tiga Gedung Honda Cakra Pengukir, pengemudi tewas. Januari 2016 yang lalu mobil box juga jatuh dari lantai 3 Pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta. Menimpa pedagang, 1 orang tewas diduga pedagang pasar tersebut.

Muncul pertanyaan ini salah siapa? Mungkinkah salah si pengemudi saja? atau kah ada kesalahan konstruksi tembok pembatas yang tidak aman atau kah kesalahanan disain bangunan? Berikut uraian analisa sederhana beberapa kemungkinan siapa yang bersalah.

  1. Kesalahan Pengemudi

Pengemudi menjadi pelaku utama sebagai subyek yang paling bersalah. Kesalahan bisa disebabkan oleh kemampuan mengemudi yang sangat minim, rendahnya pengetahuan tentang rambu-rambu area parkir dan bisa juga permasalahan mekanik atau elektrik pada mobil itu sendiri. Untuk menuruni parkir dari beberapa lantai membutuhkan skill mengemudi yang handal. Pengemudi tentu saja harus ekstra hati-hati mengatur kecepatan mobil tanpa menginjak pedal gas dan kaki selalu waspada di posisi pedal rem. Jika mobil manual ada 3 pedal di area kakinya yaitu pedal kompling, rem dan gas. Mobil matic hanya 2 yaitu pedal gas dan rem. Lebih baik pelan asal selamat, dari pada bergaya pembalap tapi mendapatkan bala. Ini masalahnya menuruni gedung parkir bukan jalan umum. Human error merupakan faktor terbesar kesalahan mengemudi hingga mobil terjun bebas.

  1. Keamanan konstruksi bangunan

Tiap bangunan memiliki angka keamanan konstruksi, baik aman dari keambrukan, miring, retak juga aman terhadap pengguna bangunan. Pengendara adalah diantara sekian pengguna bangunan. Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah terlalu padat dan tidak memungkinkan lagi mengembangkan parkir secara horizontal. Penyelesaiannya harus secara vertikal. Gedung parkir adalah solusi menyelesaikan masalah lahan parkir. Mobil yang masuk ke dalam bangunan terhitung sebagai beban statis dan beban bergerak. Perhitungan konstruksi gedung parkir sudah memperhitungkan berapa ton beban statis dan dinamis tersebut. Umumnya yang diperhatikan adalah komponen konstruksi seperti kolom dan balok lantai besar flat lantainya. Mungkin saja komponen ini telah memenuhi syarat konstruksi. Apakah tembok pembatas memenuhi angka keamanan konstruksi. Mengingat, mobil sebagai benda bergerak yang suatu saat bisa menghantam tembok pembatas.

Mobil yang bergerak turun, menuruni ramp menghasilkan energi kinetik yang besar dan menjadi energi momentum. Berbeda dengan mobil naik. Logika ini bisa difahami sebagian besar orang. Jika energi momentum ini menghantam tembok bata saja sudah bisa dipastikan tembok langsung jebol. Energi momentum tadi tidak habis setelah menghantam tembok tetapi terus melaju yang menyebabkan mobil terjun bebas.

Peraturan Kepala Dinas P2B DKI Jakarta Nomor 50 Tahun 2007 tentang Pedoman Perencanaan Struktur dan Geoteknik, dinding penahan benturan harus berkekuatan 2,7 ton dengan tinggi 46 sentimeter dari lantai parkir. Perhitungan kekuatan konstruksi dinding ini merupakan hasil riset mendalam. Jika angka kekuatan tersebut terpenuhi, maka mobil yang menabrak tembok tidak terjun bebas keluar gedung. Mobil bisa saja penyok hancur, tetapi masih di dalam gedung. Kerusakan pada dinding penahan hanya retak atau pecah-pecah dan tidak sampai berhamburan jebol sedemikian rupa. Sesuai peraturan di atas tadi bahwa dinding mampu menahan kekuatan 2,7 ton, berarti kecil kemungkinannya dinding berupa pasangan batu bata. Kalaupun dengan batu bata tentu tipe pasangan hingga 3 batu, seperti ketebalan bangunan kolonila Belanda dulu. Apakah cocok pada dinding gedung modern menggunakan pasangan 3 batu? Tidak. Berarti penggantinya adalah dinding cor beton.

Anggaplah menggunakan dinding beton. Apakah menjamin keamanan konstruksi? Belum tentu. Bagaimana kualitas betonnya? Tulangan besi ada, tetapi ukuran besi terlalu kecil. Sebutan untuk besi 10 mestinya diameter besi benar-benar 10 mm, tetapi sekarang bisa dilihat di toko bangunan, besi 10 kalau diukur dengan sigma besi hanya 6-7 mm saja. Kemana 3 mm nya? Bentuk permainan para penjual bahan bangunan. Akibatnya,

  1. Design Bangunan

Hasil karya arsitek dilalui dengan penuh energi. Mempertimbangkan sekian banyak faktor agar terwujud bangunan yang memberikan rasa nyaman dan aman. Arsitek dituntut melakukannya dengan sempurna. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Berkaitan dengan jalur sirkulasi kendaraan di gedung parkir, tentu saja harus memperhatikan standar keleluasaan gerak mobil dan keamanannya. Perencanaan pola area parkir bukan perkara sederhana. Bukan sekedar berpikir supaya bisa menampung mobil secara maksimal, tetapi termasuk keamanan sirkulasi. Ruang gerak parkir yang terlalu sempit berpotensi menimbulkan benturan. Demikian juga ramp naik-turun yang terlalu curam cukup membahayakan. Ramp turun yang berhadapan secara frontal dengan tembok penahan/pembatas berpotensi menimbulkan tumbukan jika si pengemudi gagal mengendalikan mobil. Sebaiknya ramp turun tidak berhadapan langsung dengan tembok tersebut.

Desain ruang parkir yang menyebabkan kebingungan dari pengemudi juga termasuk kesalahan fatal. Meskipun simbol-simbol menjadi cara untuk memberikan informasi, namun konfigurasi ruang tetap memberikan pengaruh terbesar bagi pengguna area parkir mobil di lantai atas. Terlebih lagi yang memasuki area gedung parkir baru pertama kali, maka pengalaman ruangnya menjadi nihil. Kekeliruan menggunakan jalur keluar-masuk pun bisa berakibat fatal.

Model parkir menyudut 30 atau 45 derajat lebih aman dibanding tegak lurus dengan dinding pembatas. Sopir pemula, bisa saja keliru menginjak pedal gas sehingga awal dia starter mobil sudah terlanjur menginjak pedal gas terlalu dalam. Akibatnya akan menghantam apa saja yang ada di depannya atau di belakangnya, apakah itu tembok penahan ataukah mobil lainnya. Seandainya saja parkir menyudut, efek tumbukan ke tembok pembatas lebih aman dibandingkan menumbuk tembok secara frontal 90 derajat.

Sistem penerangan pun menjadi bagian penting mengarahkan sirkulasi mobil di dalam gedung parkir. Terlalu redup dan terlalu silau berefek pada mata pengemudi. Akibat fatalnya mengganggu konsentrasi hinga pengemudi pun kehilangan arah. Saat mengantuk kondisi semakin parah. Berbagai jenis lampu, seperti lampu TL, SL, downlight, halogen, bahkan pijar dapat dikombinasikan, tetapi dengan ilmu lighting yang tepat. Bagaimana kondisi siang hari? Pencahayaan siang hari cukup bagus dari alam, kecuali kondisi bangunan sangat tertutup. Namun, umumnya gedung parkir bersifat terbuka, sehingga cahaya alamiah sangat optimal.

Penggunaan warna dinding dan lantai pun turut berperan meminimalisir kecelakaan di dalam gedung parkir. Warna-warna kontras yang mudah ditangkap penglihatan manusia, dapat memberikan efek waspada dan berhati-hati. Sebaliknya warna kalem dan redup, seperti abu-abu dan coklat justru menimbulkan rasa kantuk dan jenuh.

Demikian sekelumit analisa yang penting diperhatikan dan dievaluasi, untuk menilai faktor-faktor terkait dengan seringnya kecelakaan mobil jatuh dari gedung parkir.

One Airport Square di Ghana (2015)

One Airport Square adalah bangunan multifungsi di kawasan airport di Ghana yang dirancang olehKarya Mario Cucinella Bandara Di Ghana Mario Cucinella dari Italia. Pekerjaan ini ditangani oleh team work dari berbagai disiplin ilmu.
Memiliki area komersial yang terletak di ground floor dan di dalam blok 10 lantai. Jika dilihat dari arah gurun tampak sekali bangunan ini sangat kontras dengan keadaan lingkungan perkotaan. Total luasnya 17.000 m2. Elemen estetik dan design terinspirasi seni tradisional lokal dan bentuk dari daun pohon palm/kurma sekitarnya, sebagai respon kedekatan dengan lingkungan dan menjadi solusi problem iklim.

Selimut bangunan merupakan elemen penentu yang memperlihatkan keterpaduan antara bentuk, struktur dan lingkungan. Bangunan adalah bentuk yang kompak, terdiri dari sebuah hall yang cukup luas berfungsi sebagai penyediaan pencahayaan dan ventilasi alamiah di dalam ruangan.
Bangunan juga terdiri dari struktur beton masif, dengan tiang yang riqid, sekaligus sebagai unsur dekorasi.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana elemen bangunan

One airport square ini merupakan bangunan pertama di Ghana yang menerima penghargaan bintang 4 dalam bidang design oleh Building Council of South Africa (GBCSA).
Seluruh elemen pada bangunan ini bertujuan menjadi design yang terpadu, menyeimbangkan antara arsitektural dan pertimbangan teknis dalam kaitannya dengan bangunan hemat energi dan mengoptimalkan pencahayaan alamiah. Teknologi termodern telah disesuaikan dengan keadaan tradisi lokal, menjadikang design sangat efisien. Semuanya itu menimbulkan ide baru tentang keindahan bahwa ekologi adalah keindahan.

Perhatikanlah gambar arsitektur di bawah ini

Bentuk denah tampak sangat organik dan tidak simetris, tetapi masalah struktur konstruksi dapat terselesaikan dengan baik. Bentuk seperti ini merupakan hasil dari proses design yang cukup panjang. Dari gambar potongan di samping ini, ada perbedaan kontras antara bagian depan bangunan dan dengan bagian belakannya. Bagian belakang seperti standar bangunan biasa untuk bangunan bertingkat, namun bagian depan memiliki tampilan yang agak berbeda. Gambar axonometri ini menjelaskan bagaimana bangungan ini memiliki nilai penting dari aspek fisika bangunan yaitu terkait dengan pencahayaan dan penghawaan alami yang masuk melalui atrium bangunan.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana denah

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana tampak

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana sistem ventilasi

Emergency Exit, Bagian Dari Design yang Tidak Boleh Diabaikan

Emergency exit (EE) atau jalur evakuasi penyelamatan manusia dari bahaya sangat penting diperhatikan dalam prtangga emergency 1oses desain. Desain tidak hanya sebatas pada bangunan saja melainkan juga meliputi kawasan yang luas, seperti kawasan wisata, kawasan permukiman dan lain-lain.
Pada bangunan bertingkat, EE biasanya berada pada core bangunan. Jika terjadi kebakaran penghuni bangunan harus bisa mencapai core tersebut dengan mudah. Pengguna bangunan harus mengetahui ke mana harus bergerak cepat agar selamat dari bahaya kebakaran tadi. Demikian juga di kawasan tertentu yang diperuntukkan untuk publik, saat kondisi emergency pengunjung kawasan harus memiliki pengetahuan tentang jalur evakuasi.
Tragedi di Mina yang baru saja terjadi yang telah menewaskan 700 lebih jama’ah haji yang ingin melaksanakan proses melempar jumrah, merupakan contoh betapa berbahayanya keadaan yang ada. Meninggalnya jama’ah tersebut karena terinjak-injak oleh sekian banyak jama’ah lainnya. Mereka berada di sebuah jalur sirkulasi yang padat menuju titik yang sama. Pemicunya, diantara mereka ada yang berhenti sehingga menimbulkan tumbukan dari jama’ah belakangnya yang terus bergerak maju, sehingga terjadilah aksi saling berdesakan. Keadaan diperparah dengan adanya sekelompok jama’ah yang berjalan berbalik arah. Dalam keadaan ini, mereka yang lemah secara fisik akan menjadi korban. Meskipun kecepatan berjalan tidak seperti kendaraan, tetapi karena ribuan orang berjalan bersamaan menghasilkan tumbukan yang luar biasa, seakan tidak bisa dihentikan gerakannya. Banyak masalah yang melatarbelakangi kejadian Mina tersebut. Namun, secara arsitektural ini termasuk problem sirkulasi.
Sirkulasi terbagi dua, yaitu searah dan berlawanan arah. Pada sirkulasi kendaraan, model sirkulasi berlawanan arah lebih rawan terjadi kecelakaan dibandingkan sirkulasi searah. Pada sirkulasi searah, yang menubruk adalah kendaraan yang di belakang. Demikian juga pada jalur pejalan kaki, yang menubruk adalah pejalan kaki yang di belakang. Biasanya pada jalur sirkulasi yang panjang ditempatkan zona istirahat, sehingga arus kendaraan atau pejalan kaki tidak terganggu. Zona istirahat ini dapat difungsikan sekaligus sebagai jalur EE. Zona EE ini dapat dipermisalkan dari sebuah tangga. Sesuai standar, setelah menaiki 11 anak tangga diperlukan area istirahat yang disebut bordes, kemudian lanjut lagi naik hingga anak tangga ke 22.
Jalur EE, sesuai standar keselamatan, harus terpisah dengan jalur umum. EE ini menyangkut nyawa manusia. Fisik orang yang celaka harus segera mendapatkan pertolongan. Pada rumah sederhana sekalipun, pintu akses keluar mestinya ada dua buah. Tidak cukup hanya satu buah pintu yang ada di depan saja, tetapi bagian belakangpun harus tersedia. Gunanya, saat ada emergency mudah untuk menyelamatkan diri. Di setiap kamar hotel atau apartment, pintu penyelamatan pun tersedia dipinggir-2 bangunan. Bahkan, balkon kamar dapat dijadikan sebagai jalur EE.
koridor 3Bagian dari bangunan yang merupakan area sirkulasi dikenal dengan istilah selasar dan koridor. Selasar mirip teras, sedangkan koridor mirip lorong. Problem sirkulasi sering terjadi di koridor. Koridor yang terlalu sempit cukup berbahaya kalau terjadi kondisi keadaan darurat. Koridor banyak ditemukan pada hotel atau apartment. Bentuk hotel yang memanjang, koridornya pun panjang. Kalau koridor yang panjang tidak disediakan area EE akan membahayakan pengguna bangunan jika ada keadaan darurat. Terlebih lagi koridor panjang dan sempit, para pengguna bangunan dalam keadaan darurat harus berdesakan dan berebut untuk selamat. Bisa jadi diantara mereka jatuh, pingsan dan kemudian tewas terinjak-injak di koridor itu. Tewas bukan karena faktor darurat tetapi justru karena terinjak-injak. Ini adalah kondisi yang ironis.
Pada keadaan yang lain, sebagus apa pun bangunan atau kawasan yang dirancang, tetap saja terbuka peluang kejadian darurat. Arsitek yang benar, telah memikirkan EE sejak proses design ia lakukan. Nah, kondisi lainnya menyangkut keadaan darurat adalah pengguna bangunan atau kawasan tidak memperdulikan posisi EE. Padahal bangunan atau kawasan itu memiliki EE yang telah memenuhi standar design. Pengguna jalan tol harus memperhatikan rambu lalu lintas jalan tol. Mereka harus mengetahui di mana letak rest area. Terkadang pengendara diserang kantuk atau ada masalah dari kendaraannya. Jika pengguna jalan tol tidak memperhatikan hal tersebut, bisa jadi akan mengalami masalah di tengah jalan, tiba-tiba berhenti di jalur yang tidak boleh berhenti. Sementara pengendara lain merasa pada jalur yang ia lewati adalah jalur cepat. Tabrakan sangat sulit untuk dihindari.
selasarJadi, ada dua pelaku yang harus memperhatikan EE yaitu arsitek dan pengguna bangunan atau kawasan. Kalau arsitek tidak memperhatikan EE ini sangat keterlaluan, bahkan tidak bisa disebut arsitek. Adapun jika pengguna tidak memperhatikan EE masih bisa dimaklumi, karena banyak sebab seperti tingkat pendidikan rendah, tidak faham, tidak peduli, kurang sosialisasi atau penjelasan tentang bangunan atau kawasan.
Seperti tragedi Mina, ada beberapa jama’ah Indonesia yang menjadi korban. Padahal, jalur yang dilewati bukan jalur yang digunakan jama’ah haji Indonesia. Petugas haji Indonesia terus mengingatkan jama’ah untuk mengikuti himbauan petugas. Termasuk waktu-waktu pelaksanaan lempar jumrah yang relatif aman. Ini adalah upaya sosialisasi. Adanya jama’ah haji Indonesia yang terikut ke jalur yang menjadi Tragedi Mina, disebabkan mereka tersesat atau terpisah dari rombongan jama’ah Indonesia.

Revolusi Pengetahuan Bahan Bangunan

Seringkali saya dapati mahasiswa arsitektur kebanyakannya masih menerapkan rumus 1/12 x bentang bangunan untuk menentukan ukuran balok lantai. Jika bentang ruangan 10 meter, maka ukuran tinggi balok adalah 1/12 x 10 = 0,83 m atau 83 cm. Lebarnya menyesuaikan ukuran kolom. Jika kolom berukuran 40 x 40 maka ukuran balok lantai adalah 40/83.

Mari kita membahas mengenai tinggi balok tadi. Kalau saja rumus tadi digunakan, berarti jika bentang ruangan sebesar 20 m, diperlukan balok setinggi 167 cm. Apa implikasinya? Berapa besar volume ruangan di bawah lantai hingga ujung terendah dari balok lantai tadi? Anggaplah ruangan memiliki ukuran 20 x 20, berarti volume ruang di bawah flat lantai adalah 20 x 20 x 1,67 = 268 m3. Hampir separo dari volume ruang. Lalu apa fungsinya volume ruang sebesar 268 m3 itu?

Pada bangunan berlantai banyak, ruang di bawah flat lantai atau di atas plafond difungsikan untuk penempatan jaringan utilitas seperti jaringan listrik, air bersih, plumbing, dan AC. Bagian yang terbesar memakan ruang di bawah flat lantai adalah ducting AC, jika bangunan dengan sistem AC sentral. Ducting AC umumnya hanya berukuran 50 x 50 cm. Jika ducting AC melewati jalur balok lantai maka diperlukan lagi jarak antara plafond dan balok lantai lebih dari 50 cm. Berarti ruang di atas plafond menjadi bertambah menjadi 1,67 + 0,5 = 2,17 m. Angkanya tinggi sekali?

Dimanakah yang keliru? Apakah mahasiswa keliru memahami rumus tadi? Ataukah sumber rujukannya yang keliru? Atau teori rumus tadi sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang?

Di masa kuliah, saya pernah kerja praktek di Pembangunan Gedung Auditorium UGM Yogya (sekitar tahun 1994/1995). Ada ruangan utama yang memiliki bentang 25 m. Balok lantai menggunakan pre-stressed-concentred alias beton pra tegang. Tinggi balok lantai sekitar 60 cm saja. Mari kita terapkan seandainya menggunakan rumus 1/12 bentang, maka tinggi balok adalah 2 m lebih! Coba kita lihat sejenak ke beberapa jalan layang atau jembatan beton, berapa ukuran baloknya? Ada jalan layang dengan bentang hingga 100 m, tentu tidak berlaku rumus 1/12 bentang tadi.

Uraian ringkas di atas tadi hanyalah sebagian kecil dari bahasan struktur konstruksi bangunan. Bagi arsitek, sebenarnya yang diperlukan adalah prinsip-prinsip penerapan struktur konstruksi dan logika aliran gaya yang bekerja pada struktur konstruksi. Adapun ilmu yang lebih dalam lagi mengenai struktur konstruksi diserahkan kepada ahli konstruksi (sipil). Terlebih lagi saat ini telah berkembang software/program digital yang memungkinkan untuk menghitungkan dimensi dan merancang model struktur konstruksi dengan cepat.

Rumus 1/12 bentang tadi, saya sudah mendapati pelajarannya dari dosen-dosen saya di tahun 1990an. Sekarang sudah 25 tahun berlalu, inovasi dan rekayasa teknologi struktur konstruksi telah berubah. Di tahun 1989 mungkin masih disebut beton konvensional. Di masa sekarang memasuki abad 21, sudah berkembang beton modern futuristik, yang lebih efisien dan ekonomis tapi tetap memenuhi standar keamanan bangunan. Beton pra tegang sebetulnya sudah lama diterapkan, tetapi menjalarnya ilmu ke para mahasiswa sangat minim. Inovasi teknologi dan bahan bangunan saat ini juga telah berkembang dengan cepat. Berarti sudah saatnya melakukan revolusi sistem pengetahuan bahan bangunan di jurusan arsitektur, agar tidak lagi seperti ungkapan pribahasa seperti katak di dalam tempurung. Mau keluar tapi terbentur cangkang. Mau maju tetapi tidak tau harus bagaimana. Kalau tidak bisa keluar tempurung berarti harus ada yang membantu. Harus ada yang mampu mengeluarkan mereka dari kungkungan ilmu pengetahuan yang stagnan.