Cerdas Beli Lampu

28

Feb

Cerdas Beli Lampu

Lampu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup. Beberapa menit saja pemadaman listrik membuat gelisah penghuninya. Bukan masalah komputer yang tidak nyala, atau kulkas tidak jalan atau alat elekronik yang tidak berfungsi, tetapi panik, karena anaknya yang masih kecil teriak histeris di tengah malam-malam gara-gara mati lampu. Padahal si orang tua anak sudah bersusah payah mencari-cari lampu senter atau HP dikegelapan malam, mata mengantuk, setengah sadar dan seakan sulit bernafas.

Cahaya, itulah yang dibutuhkan. Walaupun redup, walaupun lilin.. itu sudah cukup berarti mengurangi kepanikan si anak. Ada pertanyaan menarik dari keadaan ini, yaitu berapa watt kah energi 1 lilin? Kenapa menarik? karena kebanyakan orang jika beli lampu ke toko selalu menanyakan lampu dengan ukuran watt. “Pak, ada lampu yang 25 watt ga?” Watt adalah daya. Apakah nilai watt yang diperlukan? Mari perhatikan dua jenis lampu Pijar (incandescent) dan flourescent seperti PL. ‘watt’ nya sama terangnya beda. Inovasi teknologi perlampuan saat ini cukup luar biasa. Dengan nilai ‘watt’ yang rendah mampu menghasilkan lampu yang terang. Lampu hemat energi adalah lampu yang memiliki nilai ‘watt’ yang kecil tetapi terang. Jadi… yang diperlukan bukanlah nilai watt nya tetapi nilai terang nya. Nilai terang lampu dipengaruhi oleh arus cahaya memiliki satuan tersendiri yang disebut lumen. Lampu pijar 75 Watt memiliki nilai 920 lumen sedangkan lampu PL yang memiliki nilai 900 lumen hanya memerlukan energi 11 watt saja. Adapun nilai 1 buah lilin sebesar 0,1 W/lumen. Artinya perlu 10 lilin untuk mendapatkan nilai 1 lumen. Supaya hemat lilin perbanyaklah cermin di rumah anda.

Namun karena lidah sudah latah, sebutan ‘watt’ terlanjur memasyarakat yang maksudnya untuk ukuran terang lampu. Tampaknya salah kaprah ‘watt’ ini perlu disosialisasikan agar masyarakat faham maksud penggunaan lampu hemat energi. Masyarakat cerdas jika beli lampu mencari nilai lumen yang besar dan watt yang rendah.

 

 

64 thoughts on - Cerdas Beli Lampu

  • silfia norayanty
    Reply Jun 12, 2012 at 11:33 pm

    saya setuju dengan kata ka yohana. jujur saya baru kuliah ini baru mengenal kata lumen. dengan kebiasaan menggunakan kata watt sehingga salah pemahaman sebaiknya diadakan pengenal bahasa-bahasa lampu dengan masyarakat. tidak dipungkiri kadang ada orang yang suka dengan terangnya lampu dan ada juga orang yang tidak menyukai.terkadang orang yang menyukai terang lampu itu akan mencari watt yang lebih tinggi karena yang dia tau dan biasa dia ucapkan adalah “watt” otomatis itu bukan lah lampu yang hemat energi. meskipun kita mengatakan dengan si penjual lampu dengan kata “lumen” apakah dia mengerti dengan kata-kata itu? bisa aja dia kebingunggan dengan istilah lumen. menurut saya bila kita meinginkan sesuatu yang hemat energi maka kita juga harus berbagi ilmu dengan adanya promosi lampu hemat energi dan memberi tahu kata yang benar untuk mengucapkan agar tidak ada lagi kesalahan.

  • yohana ika saprina
    Reply Jun 12, 2012 at 11:03 am

    harusnya produsen lampu dalam mempromosikan produk lampu hemat energinya, mereka juga mensosialisasikan kata lumen dalam menentukan ukuran terang lampu, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam kata “watt” saat memilih kekuatan penerangan lampu.

  • Reply Jun 12, 2012 at 10:57 am

    saya juga baru tau kalau nilai terang suatu jenis lampu dihitung berdasarkan lumen bukan dari satuan watt, hal tersebut juga saya ketahui setelah belajar ilmu fisika bangunan. sepertinya dalam mengiklankan suatu produk lampu, produsen juga mampu mensosialisasikan nilai lumen dalam memilih lampu hemat energi agar masyarakat tidak terpatok pada nilai “watt” nya.

  • ade arifiansyah
    Reply Jun 17, 2011 at 3:01 pm

    lampu pijar banyak di gunakan di desa-desa kecil yang pengetahuan masyarakatnya masih relatif minim karena terpengaruh harga yang murah, sedanagkan di kota besar lampu pijar jarang di gunakan bukan karena pengetahuan masyarakatnya lebih tinggi di bandingkan masyarakat desa, tetapi lebih kepada untuk alasan estetika saja.
    Kita ambil contoh kecil di bidang arsitektur. Banyak gedung yang terlihat gemerlap ketika malam hari, khususnya di kota-kota yang sudah maju. Dari sini dapat kita lihat, tejadinya pengalihan persepsi dalam masyarakat.
    “Lampunya memang hemat energi, tetapi penggunaannya berlebihan”. Secara ekonomi, perhitungan wattnya mungkin sama saja dengan menggunakan lampu pijar, atau bahkan lebih.

    Secara teknis, informasi cerdas beli lampu mungkin cukup efektif jika di lakukan dengan media online, hanya saja, sebagian masyarakat yang kurang paham teknologi informasi akan sulit untuk tahu.
    sekian, terima kasih.

  • M.Akbar Ramadhan
    Reply Jun 17, 2011 at 1:35 pm

    LHE adalah lampu jenis Fluorescen atau lebih dikenla dengan lampu neon. Sekarang ini yang sedang populer dan giat-giatnya dipublikasikan oleh para produsen perlampuan adalah lampu fluorescen model SL & PL. Lampu model SL & PL pada prinsipnya secara teknis sama dengan model lampu jenis fluorescen biasa yaitu efficacy lampu berkisar 60 Lumen/W, hanya keistimewaan mempunyai bentuk yang ringkas, tidak memanjang seperti lampu fluorescen biasa, komponen elektrisnya yang terdiri dari ballas, capasitor dan stater terpadu dalam suatu kesatuan dalam lampu dan disebut model SL, sedangkan model PL untuk komponen elektrisnya terpisah dari lampu . Bentuk kaki lampu dibuat sama seperti pada kaki lampu pijar yaitu dengan sistem ulir dengan ukkuran standar E.27. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penggantian pada lampu pijar diubah menjadi lampu fluorescen . Ada juga lampu fluorescen model ring yang kaki lampunya diubah mengikuti seperti lampu pijar, yaitu sistem ulir ukuran standar E.27. Renderasi warna (Colour rendering) dapat dipilih berbagai masam sesuai yang diinginkan oleh konsumen, Bila diinginkan warna cahaya seperti lampu pijar maka dapat dipilih dengan indeks renderasi warna yang tinggi, karena warna pada lampu pijar adalah warna standar / acuanyang mendekati warna cahaya dengan spektrum yang lengkap seperti pada sinar matahari. Selain itu bila diinginkan warna cahaya lain seperti warna white, cool white, day ligh, dll, maka hal ini lebih dimungkinkan didapat pada lempu fluorescen dibandingkan dengan lampu pijar yang hanya mempunyai satu jenis redensi warna. Umur lampu fluorescen adalah 8000 jam, lebih lama bila dibandingkan dengan umur lampu pijar yang hanya 1000 jam.

  • ade arifiansyah
    Reply Jun 15, 2011 at 5:22 am

    lampu pijar banyak di gunakan di desa-desa kecil yang pengetahuan masyarakatnya masih relatif minim karena terpengaruh harga yang murah, sedanagkan di kota besar lampu pijar jarang di gunakan bukan karena pengetahuan masyarakatnya lebih tinggi di bandingkan masyarakat desa, tetapi lebih kepada untuk alasan estetika saja.
    Kita ambil contoh kecil di bidang arsitektur. Banyak gedung yang terlihat gemerlap ketika malam hari, khususnya di kota-kota yang sudah maju. Dari sini dapat kita lihat, tejadinya pengalihan persepsi dalam masyarakat.
    “Lampunya memang hemat energi, tetapi penggunaannya berlebihan”. Secara ekonomi, perhitungan wattnya mungkin sama saja dengan menggunakan lampu pijar, atau bahkan lebih.

    Secara teknis, informasi cerdas beli lampu mungkin cukup efektif jika di lakukan dengan media online, hanya saja, sebagian masyarakat yang kurang paham teknologi informasi akan sulit untuk tahu.
    sekian, terima kasih.

  • ade arifiansyah
    Reply Jun 15, 2011 at 5:18 am

    lampu pijar banyak di gunakan di desa-desa kecil yang pengetahuan masyarakatnya masih relatif minim karena terpengaruh harga yang murah, sedanagkan di kota besar lampu pijar jarang di gunakan bukan karena pengetahuan masyarakatnya lebih tinggi di bandingkan masyarakat desa, tetapi lebih kepada untuk alasan estetika saja.
    Kita ambil contoh kecil di bidang arsitektur. Banyak gedung yang terlihat gemerlap ketika malam hari, khususnya di kota-kota yang sudah maju. Dari sini dapat kita lihat, tejadinya pengalihan persepsi dalam masyarakat.
    “Lampunya memang hemat energi, tetapi penggunaannya berlebihan”. Secara ekonomi, perhitungannya wattnya mungkin sama saja dengan menggunakan lampu pijar, atau bahkan lebih.

    Secara teknis, informasi cerdas beli lampu mungkin cukup efektif jika di lakukan dengan media online, hanya saja, sebagian masyarakat yang kurang paham teknologi informasi akan sulit untuk tahu.
    sekian, terima kasih.

  • adiasya satria
    Reply Jun 15, 2011 at 1:49 am

    info yang sangat bermanfaat pak,

    penerangan adalah sumber kehidupan,kehidupan sejatinya akan lebih baik jika ada penerangan,benar kata bapak betapa paniknya kita jika ditengah malam terjadi pemandaman listerik tiba-tiba……….

    dan entah bagaimana jika tidak ada penerangan dimalam hari dijaman globalisasi seperti ini ini mungkin alasan kenapa orang jaman dulu menciptakn lampu sebagai penerangn buatan jikalau matahari tidak nampak lagi,sekedar sering saja lampu kini menjadi sebuah kebutuhan yang takterpisahkan dalam kehidupan manusia hampir setiap hari manusia menggunakan lampu untuk penerangan dalam kegiatan sehari-harinya maka dari itu membeli lampu yang tepat dan sesuai kebutuhan sangat lah harus diterapkan.

    ini ada sedikit tips dari saya yang muda-mudahan bermanfaat:
    1.belilah lampu yang sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan watt nya,ingat lumen tidak sama dengan watt.
    2.belilah lampu yang hemat energi dan berloga SNI sehingga selain aman karena ada standarnya lampu ini biasanya awat,meskipun agak sedikit mahal namun lebih baik.
    3.biasakan melihat lebel dibelakang kemasan pastikan lumen lebih tinggi dari pada watt lampu.
    sekian terimakasaih semoga bermanfaat.

  • I Putu Ari Putra NUgraha
    Reply Jun 15, 2011 at 1:48 am

    Saya rasa kebanyakan orang sudah banyak salah kaprah, termasuk saya. Saya juga baru tahu setelah belajar fisbang. Tetapi menurut saya, beberapa orang memang tau bahwa satuan “watt” adalah untuk menyatakan daya yang dikonsumsi lampu saat menyala, karena pada dasarnya juga semakin tinggi dayanya semakin tinggi lumennya. Jadi orang-orang yang sudah tau mungkin tidak perlu lagi memikirkan masalah standar terang lampunya apakah “watt” atau “lumen”.

    Tetapi, menurut saya sosialisasi tentang ini juga penting untuk dilakukan agar tidak terjadi (maaf) pembodohan yang tidak disengaja, karena ketidak tahuan ini bukan saja terjadi pada konsumen, tetapi juga pada si penjual bahkan mungkin para buruh pabrik tempat produksi lampu itu sendiri. Masalahnya adalah kebiasaan ini mungkin akan sulit dihilangkan karena sudah terjadi selama bertahun-tahun.

  • Rizki Budi Muliawan
    Reply Jun 15, 2011 at 1:48 am

    Mengenai asumsi masyarakat yang beranggapan watt makin tinggi maka cahaya lebih terang sudah sangat menjamur dimana-mana , karena itu sebagian dari mereka berpikir lampu pijar yang wattnya tinggi lebih terang, padahal lampu pl dengan daya yang lebih rendah menghasilkan terang yang sama. Oleh karena itu perlunya sosialisasi dari pemerintah untuk penggunaan lampu hemat energy seperti lampu pl agar pencanangan hemat energy dapat terealisasi . Jika lebih dari 1000 orang yang menggunakan lampu pijar beralih ke lampu pl berapa penghematan yang terjadi, jadi sosialisasi tentang hematnya lampu pl perlu di tingkatkan baik dari pemerintah, pedagang lampu, dan orang yang sudah tau bahwa lampu pl itu lebih hemat!

  • adinda krisna cahaya s
    Reply May 20, 2011 at 1:32 pm

    kebiasaan yang membuat orang2 menyebutkan watt, bukannya lumen, kebiasaan ini agak sulit dihilangkan, tetapi kita bisa memulai sosialisasi antara watt dan lumen dilingkungan terdekat kita, yaitu keluarga. apabila blum ada tindakan dari pemerintah.

  • yohana ika saprina
    Reply May 18, 2011 at 3:55 pm

    karena kebanyakan orang awam lebih sering mendengar kata ‘watt” untuk standart terang cahaya lampu dibanding kata “lumen”. lihat saja kotak lampu yang biasa dijual ditoko- toko, besaran wattnya ditulis lebih besar, sehingga orang lebih umum menggunakan “watt” daripada “lumen” saat memilih lampu yang terang dan hemat energi.

  • DEWI NOVIANA. S
    Reply May 18, 2011 at 1:20 am

    Assalamualaikum wr wb.

    Masyarakat cerdas membeli lampu dengan lumen yang besar dan watt yang kecil.
    Sama artinya masyarakat cerdas apabila membeli lampu dengan tingkat penerangan yang besar dengan daya listrik yang kecil, sehingga minim juga pada pembiayaan.
    Hal ini sulit tercapai melihat ketidaktahuan masyarakat akan pengertian dan maksud lumen.

    Ada baiknya pihak produsen atau instansi terkait mengadakan sosialisasi/pemberitahuan agar masyarakat dapat memilih lampu secara tepat dan cermat, sehingga dapat menghemat energi dan pembiayaan listrik bagi masyarakat itu sendiri.

  • Najib Giovani Anggasta
    Reply May 17, 2011 at 5:27 pm

    Sering dari sekian banyak orang, mereka terpengaruh promosi di kardus mengenai perbandingan dengan lampu pijar (~1000hours). Sebenarnya sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu lampu pijar di tinggalkan dan ‘Fluorescent Lamp’ dikembangkan sejak tahun 1920. Memang benar jika lampu hemat energi lebih hemat listrik dan umurnya lebih panjang dibandingkan dengan lampu pijar.
    Sekarang kita harus teliti membandingkan antara lampu hemat energi yang satu dengan yang lain, atau biasa disebut “apple to apple”.

  • Rahmatullah Noor
    Reply May 17, 2011 at 5:06 pm

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    kesadaran dari setiap orang merupakan kunci utama bagaimana kita dapat memilh hal – hal yang memang baik, bukan hanya untuk kita namun juga untuk orang banyak. Seperti halnya memilih lampu, jika kita sudah tau dasar untuk memilih lampu, maka tidak akan ada lagi kesalahan. Jadi kebiasaan yang lama untuk memilih lampu yang hanya berdasarkan nilai wattnya, namun seharusnya berdasarkan lumennya.

  • Harliana Saptadessi
    Reply May 17, 2011 at 4:11 pm

    saya setuju dengan pendapat bapak.
    ada baiknya diberikan sosialisasi kepada masyarakat awam akan perbedaan penggunaan ‘watt’ dan ‘nilai terang lampu berdasarkan lumennya’, agar lebih memudahkan masyarakat dalam membantu menghemat energi diawali dengan pemakaian barang-barang hemat energi contohnya lampu.
    Serta pemilihan lampu yang nilai terang lampunya tepat sesuai dengan ukuran ruangan yang ada, bukan malah kelebihan atau kekurangan karena dapat mengganggu visual serta tidak malah menghemat listrik.
    terima kasih

  • Noor Khoirena Izzatina
    Reply May 17, 2011 at 3:00 pm

    untuk itu pak, pentingnya pemahaman agar dapat membedakan antara watt dan lummen. Bahwa Lummen itu sinar yang dikeluarkan sedangkan Watt adalah daya yang dibutuhkan. Jadi intinya terang atau tidaknya lampu itu sesuai Lummen.
    tapi kalo boleh bertanya, apakah Lummen atau Watt itu berpengaruhi terhadap panas yang dihasilkan oleh lampu?

    • Reply May 18, 2011 at 3:20 am

      lummen atau watt merupakan satuan yang berbeda, lummen = satuan aliran cahaya, sedangkan watt = satuan daya.
      Karena keduanya terkain energi listrik, maka tentu saja memiliki nilai kalor.

  • Eko Rizqi Prabowo
    Reply May 16, 2011 at 4:34 pm

    hal ini juga dialami ibu saya. Ketika lampu padam, terasa tidak bisa bernafas.
    entah kenapa hal ini terjadi pada ibu saya. apakah juga berpengaruh langsung sekejap dengan penghawaan ruangan.
    untuk kasus penyebutan ‘watt’ dikalangan masyarakat, mungkin dikarenakan kemasan pada bohlam itu sendiri tertera tulisan “watt” yang begitu besarnya.
    mungkin sosialisasai yang bisa dilakukan dimulai dari produsen bohlam itu sendiri dengan menyetarakan besaran huruf ‘watt’ dengan ‘lumen’ dari bohlam itu sendiri. kemudian didalam kemasan bohlam itu bisa dimuat sedikit penjelasan tentang penggunaan lampu yang hemat energi.

    semoga masyarakat kita semakin sadar akan energi.

  • Shohfa Birrinnah
    Reply May 15, 2011 at 1:02 am

    Memang seharusnya begitu pak, tapi saat membeli pun kita sering kebingungan, karena pada kemasan lampu tidak dicantumkan berapa lumen, spesifikasinya yang ada hanya dalam ukuran watt saja. Jadi sebenarnya sosialisasinya berawal dari produsennya kan?

    • Reply May 18, 2011 at 3:25 am

      sosialisasi bisa dimulai dari siapa saja, termasuk dari kalanagan akademisi. Biasanya yang efektif sosialisasi diprakarsai pemerintah

  • Novita Ratnasari
    Reply May 14, 2011 at 4:15 pm

    Fenomena salah kaprah yang selama ini berkembang di sebagian besar masyarakat kita dikarenakan masyarakat terbiasa mengonsumsi sesuatu dari apa yang mereka dengar dari sumber terdahulu, bukan berasal dari hasil mencari tahu berdasarkan referensi yang terpercaya.
    Sayangnya dari pihak produsenpun yang kemungkinan menyadari bahwa asumsi yang beredar di masyarakat kurang tepat, selama ini kurang peduli dan tidak mencoba mengoreksi atau memberikan sosialisasi mengenai kekeliruan yang terlanjur berkembang dan turun temurun di kalangan masyarakat kita.
    Mengingat sekarang merupakan generasi audiovisual, sosialisasi termudah dan paling cepat diserap masyarakat yang mungkin dilakukan, yaitu melalui iklan di televisi. Agar masyarakat tidak salah kaprah lagi menafsirkan ‘watt’ sebagaimana yang sedang terjadi saat ini. Sehingga masyarakat menjadi lebih cerdas dalam memilih lampu, dan tidak merasa dirugikan, dan apabila masyarakat sudah faham betul sedikitbanyaknya green lifestyledapat dicapai, meskipun dalam skala yang masih kecil. Hal sekecil apapun yang kita lakukan,dapat membantu menyelamatkan bumi 

  • Otniel Bayu Hardhianto
    Reply May 14, 2011 at 3:06 pm

    saya setuju pak…ini merupakan kebiasaan yang sudah turun temurun, mungkin sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut. namun dengan sosialisasi dan pengetahuan tentang satuan cahaya tersebut mungkin bisa mengubah kebiasaan masyarakat, sehingga penghematan energi bisa lebih dimaksimalkan. tidak hanya karena melihat besar watt yang digunakan untuk memperoleh cahaya yang terang, namun dilihat dari besaran ruang yang memerlukan cahaya, sehingga tidak membuang energi. lebih bagus lagi mungkin bisa dihitung berapa lumen cahaya yang diperlukan suatu ruangan, sehingga dapat menemukan “watt” lampu yang dibutuhkan.

  • Otniel Bayu Hardhianto
    Reply May 14, 2011 at 3:04 pm

    saya setuju pak…ini merupakan kebiasaan yang sudah turun temurun, mungkin sulit untuk mengubah kebiasaan tersebut. namun dengan sosialisasi dan pengetahuan tentang satuan cahaya tersebut mungkin bisa mengubah kebiasaan masyarakat, sehingga penghematan energi bisa lebih dimaksimalkan. tidak hanya karena melihat besar watt yang digunakan untuk memperoleh cahaya yang terang, namun dilihat dari besaran ruang yang memerlukan cahaya, sehingga tidak membuang energi. lebih bagus lagi mungkin bisa dihitung berapa lumen cahaya yang diperlukan suatu ruangan, sehingga dapat menemukan “watt” lampu yang dibutuhkan.
    suatu istilah “Watt” sebagai titik ukur terang tidaknya sebuah lampu memang sudah memasyarakat. Sekarang sudah banyak sekali lampu hemat energi dengan berbagai merk dagang yang memiliki “Watt” rendah tetapi bisa menyamai tingkat terangnya lampu lain dengan “Watt” yang sama yang terkadang membuat konsumen bingung apa perbedaanya. Seharusnya memang harus ada dilakukan sosialisasi untuk menekankan bahwa LUMEN = UKURAN TERANG LAMPU sedangkan WATT = DAYA/ENERGI YANG DIBUTUHKAN. Dengan ini masyrakat akan mengetahui betapa pentingnya Lampu Hemat Energi sehingga seluruh masyarakat di Dunia dapat mendukung “Penghematan Energi” dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan menghemat energi berarti secara tidak langsung kita juga mengurangi kerusakan yang terjadi pada Bumi kita.

  • Dewi Noviana. S
    Reply May 14, 2011 at 2:39 pm

    “Masyarakat cerdas jika beli lampu mencari nilai lumen yang besar dan watt yang rendah.”
    Masyarakat tidak bisa disalahkan atas ke-salahkaprah-an ini, yang menganggap bahwa terang lampu di ukur dari nilai watt. Hal ini juga bermula dari pihak produsen lampu yang tidak menyertakan secara jelas tentang pengklasifikasian nilai terang lampu dalam lumen. Sikap produsen ini pun juga tidak salah, karena mereka memproduksi LAMPU HEMAT ENERGI yang jelas menitikberatkan pada konsumsi energi oleh lampu, dan bukannya berlomba-lomba lampu mana yang paling terang. Produsen mencantumkan nilai watt dengan huruf yang besar pada kemasan untuk lebih menonjolkan keunggulan dalam penghematan energi hasil inovasi mereka.
    Kemudian apakah penting bagi masyarakat untuk mengetahui perbedaan antara lumen dan watt ? Tempo hari kebetulan saya ingin membeli sebuah lampu, kemudian saya mendatangi tiga buah toko lampu yang berbeda (sekalian ingin membandingkan harga). Karena saya sudah membaca artikel ini sebelumnya (tapi belum sempat memberi komentar), maka saya coba menanyakan lampu dengan nilai lumen yang besar tapi watt rendah kepada sang pemilik toko. Namun dari ketiga toko tersebut tidak ada yang mampu menjelaskan definisi atau pun fungsi lumen dalam pemakaian lampu. Kemungkinan besar hampir semua toko juga demikian. Dan akhirnya saya bertanya apakah ada bedanya jika masyarakat awam mengetahui perbedaan lumen dan watt ?
    Saya misalkan sebuah rumah hunian biasa yang tidak terlalu luas. Masyarakat awam tentunya ingin menghemat pendanaan kebutuhan hidup mereka termasuk untuk penerangan, karena itu mereka memilih lampu dengan nilai watt yang kecil. Pada umumnya luasan ruangan di tipe hunian-hunian standar masyarakat Indonesia tidak terlalu luas, satu lampu pun cukup untuk menerangi satu ruangan. Namun bila penerangan dirasa kurang memadai karena nilai lumen yang kecil maka penghuni akan menambahkan jumlah lampu di ruangan tersebut, sehingga yang terjadi malah akan menjadi boros energi. Ini tidak menjadi masalah untuk satu rumah karena tagihan listrik tidak akan begitu meningkat drastis. Tapi jika di lihat dalam skala yang lebih besar, yaitu kumpulan rumah-rumah se-Indonesia, tentunya akan terjadi pemborosan energi yang luar biasa besar. Apalagi jika dilihat kondisi bahan bakar dunia yang mulai melangka karena tenaga listrik juga memerlukan bahan bakar.
    Kemudian di sini lah pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai perbedaan lumen dan watt, berusaha meluruskan kesalahpahaman yang mendarahdaging di kalangan pemakai lampu. Dengan sosialisasi yang gencar tentang pemilihan lampu yang tepat maka dapat dibayangkan betapa banyak energi yang dapat diselamatkan atau dihemat. Bisa jadi kita akan ikut meringankan beban PLN sehingga listrik tidak sering padam lagi, kan masyarakat Indonesia juga yang enak. Amin

  • Dhea Annisa
    Reply May 14, 2011 at 10:58 am

    Sebelumnya terima kasih dengan informasi yg bapa berikan. Menurut saya penggunaan lampu hemat energi lebih penting utk di sosialisasikan, selain kata ‘watt’ dan ‘lumen’. Bisa dikatakan masyarakat lebih mementingkan utk mendapatkan lampu yg terang dengan tagihan listrik yg rendah, dengan asumsi bhw jika watt besar maka tagihan jg akan besar.
    Di kotak lampu biasanya dicantumkan “Electricity 25 watt and Light Output 125 watt”, dr sini bisa dipahami bahwa lampu memerlukan listrik 25 watt dgn nilai terang yg setara dgn lampu 125 watt.
    Distributor lampu tentunya harus paham mengenai hal ini sehingga pengetahuan ini lebih mudah disampai pada masyarakat umum oleh distributor tersebut (penjual lampu dipasaran).

  • T. YUDHI PRASETYO
    Reply May 14, 2011 at 9:03 am

    saya setuju.

    Orang lebih memperhatikan watt yang terdapat pada label kemasan lampu dan berfikir dengan sedemikian watt, begitulah terang lampu yang dihasilkan.
    Kecenderungan berfikir membeli lampu dengan watt yang besar sehingga cahaya lampu yang dihasilkan besar pula.
    Dari hal diatas mereka tentu kurang memikirkan. Berapa daya energi yang sudah terbuang?
    Bukankah berupaya untuk hemat energi.
    Justru menyebabkan pemborosan energi.

    Memang benar lampu dicari intensitas terangnya, tetapi akibat budaya kata ‘watt’ lah yang menjadi patokan masyarakat memiliki anggapan -besar watt = besar intensitas cahaya yang dihasilkan.

    Sebenarnya sudah ada sebagian masyarakat yang sudah tau dengan teknologi lampu watt rendah namun keterangannya sama dengan watt yang besar.
    Sehingga sudah ada yang menggunakan teknologi lampu hemat energi tersebut.
    Tetapi sebagian masyarakat awam lainnya masih tersesat dengat kata ‘watt’ tadi yang besarnya menjadi patokan terang pada lampu.

    Hal ini perlu disosialisasikan. Setidaknya penjual lampu menyampaikan kabar teknologi tersebut kepada pembeli khususnya yang tidak tahu adanya lampu hemat energi.
    Agar masyarakat tidak salah kaprah dg kata ‘watt’ yang tercantum pada label kemasan lampu.
    Karena sangat mudah ditebak yang mana masyarakat awam dan yang mana masyarakat update akan teknologi.

    Masyarakat perlu tau hal tsb.
    Karena kita berupaya untuk hemat energi.
    Dan perlu usaha untuk mencapainya.
    Salah satunya dengan menggunakan lampu hemat energi.’
    (watt kecil tapi terangnya ok)…

  • Dinae Awlia
    Reply May 14, 2011 at 8:55 am

    Menurut saya, apa yang masyarakat dunia ketahui tentang satuan daya pengukur Watt saat ini ternyata salah, karena dalam kehidupan sehari-hari kita menganggap Watt sebagai pengukur daya konsumsi energi, padahal yang sebenarnya Watt digunakan sebagai pengukur daya kekuatan/energi.
    Hal ini disebabkan, keterangan konsumsi energi tersebut tidak pernah disebutkan dalam spesifikasi produk peralatan elektronik, sehingga konsumen sebenarnya telah ditipu, karena keterangan daya bukanlah keterangan konsumsi energi.
    Saya setuju dengan solusi yang Bapak berikan, bahwa perlu diadakannya sosialisasi agar masyarakat lebih paham maksud penggunaan lampu hemat energi. sehingga masyarakat cenderung mencari lampu dengan nilai lumen yang besar dan watt yang rendah. Hal tersebut merupakan sesuatu yang bukan tidak mungkin, hanya saja perlu usaha keras untuk melaksanakannya dan waktu yang cukup lama agar masyarakat tau..

  • saila hasni
    Reply May 14, 2011 at 7:06 am

    Saya setuju dengan pendapat bapak.
    Menurut saya tentang penyebutan watt apabila kita membeli lampu,sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat kita.kalaupun ingin mengubah mungkin akan susah,karena kata watt itu sendiri sudah mendarah daging dengan kita dan sudah menjadi hal yg umum. Saya rasa apabila suatu hari nanti juga akan ada himbauan bahwa kata watt itu dirubah,maka akan menjadi sangat sulit untuk dirubah.
    Terima kasih

  • Gusti Maida Fitrie
    Reply May 14, 2011 at 6:52 am

    Setelah membaca tulisan bapak, saya baru tau kalau terang tidaknya lampu bukan dinilai dari “watt” akan tetapi nilai terang lampu dipengaruhioleh arus cahaya memiliki satuan tersendiri yang disebut lumen.
    Selain itu, saya setuju dengan pendapat bapak bahwa kebiasaan masyarakat yang pada umumya atau kebanyakan mengenal istilah “watt” daripada “lumen” itu sendiri menjadi penyebab salah kaprahnya masyarakat mengenai lampu hemat energi. Sehingga diperlukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana memilih lampu yang benar agar menjadi masyarakat yang cerdas.

  • Gusti Maida Fitrie
    Reply May 14, 2011 at 6:33 am

    Setelah membaca tulisan bapak, saya baru tau kalau terang tidaknya lampu bukan dinilai dari “watt” akan tetapi nilai terang lampu dipengaruhi oleh arus cahaya memiliki satuan tersendiri yang disebut lumen.
    Selain itu, saya setuju dengan pendapat bapak bahwa kebiasaan masyarakat yang pada umumya atau kebanyakan mengenal istilah “watt” daripada “lumen” itu sendiri menjadi penyebab salah kaprahnya masyarakat mengenai lampu hemat energi. Sehingga diperlukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengetahui bagaimana memilih lmpu yang benar agar menjadi masyarakat yang cerdas.

  • Wayan Risa P.
    Reply May 14, 2011 at 6:31 am

    Kebanyakan orang-orang memang selalu berpendapat bahwa besarnya “Watt” yang terdapat pada sebuah lampu itu berpengaruh pada cahaya yang menerangi suatu ruangan, tetapi dengan kita mengetahui bahwa tidak semua lampu yang watt ny lebih besar bisa menghasilkan cahaya yang besar juga, karena watt adalah daya bukan artian berapa besar cahaya yang dihasilkan dalam sebuah lampu tertsebut, itu hanyalah daya yang dipakai pada lampu tersebut, bukan watt yang kita lihat tapi lumen dari sebuah lampu karena apabila lumen dari sebuah lampu tersebut besar belum tentu watt yang digunakan juga besar. saya sependapat dengan bapak. Oleh karena itu bagaimana mengenalkan ke masyarakat bagaimana tidak terpengaruh dengan besarnya watt yang dipakai pada sebuah lampu tapi bagaimana memilih lampu yang memiliki watt yang kecil tetapi terang yaitu lampu hemat energi.

  • Amalia Zulfia Nalida
    Reply May 14, 2011 at 6:21 am

    Saya setuju dengan kalimat “Lampu hemat energi adalah lampu yang memiliki nilai ‘watt’ yang kecil tetapi terang. Jadi… yang diperlukan bukanlah nilai watt nya tetapi nilai terang nya.”
    Akan tetapi,kenyataannya kita sudah terbiasa memilih lampu dengan memperhatikan nilai wattnya saja tanpa memperhatikan nilai lumennya.
    Karena kebanyakan masyarakat tidak mengetahuinya dan pada iklan-iklan di media massa juga mencantumkan nilai wattnya saja, bukan nilai lumennya.
    Hal ini telah menunjukkan bahwa kita sudah menjadi ‘korban iklan’.
    IkLan – iklan telah menarik perhatian kita untuk mencoba menggunakan lampu yang hemat energi, akan tetapi masyarakat tidak diberitahu tentang lampu hemat energi itu adalah lampu yang nilai wattnya rendah tetapi nilai lumennya besar, yang mengakibatkan masyarakat banyak membeli lampu tersebut tanpa membandingkan dulu dengan lampu yang lain yang lebih hemat energi.
    Jadi, sebaiknya masyarakat lebih cermat dalam memilih lampu dengan berusaha menambah pengetahuan mengenai ‘lampu hemat energi’ agar tidak menjadi ‘korban iklan’ lagi.

  • Putri Agustine Iskandar
    Reply May 14, 2011 at 4:09 am

    kebiasaan masyarakat sekarang ialah mendengar, karena banyak tayangan dilayar kaca dan media massa yang menyebutkan daya lampu dengankata ” watt” maka di dalam otak akan merekam dan menyimpan kata – kata tersebut. jika kebisaan itu di rubah menjadi “lumen” maka kata – kata itu lah yang akan di rekam oleh otak. selain media massa yang merubah kebiasaan itu, kita sebagai masyarakat yang awam tentang daya “watt” lampu, harus mengetahui lampu yang lumennya besar, tetapi watt rendah. terkadang terangnya cahaya lampu yang di hasilkan, banyak di pengaruhi oleh harga lampu, semakin terang lampu, semakin besar watt lampu, semakin mahal pula harga lampu tersebut.
    terima kasih….

  • Muhammad Furqan
    Reply May 13, 2011 at 3:42 pm

    Kasus diatas memang contoh real yang terjadi dimasyarakat.
    Coba kita berfikir sebagai masyarakat awam yang tidak tau apa sebenarnya watt , apa sebenarnya nilai terang (lumen) itu .Masyarakat pasti tidak mau dipusingkan dengan istilah-istilah atau angka-angka semacam itu(spesifikasi yang tertera dikemasan lampu) , yang penting bagi mereka “terang “ Saya setuju dengan teman-teman yang menyarankan bahwa produsen menuliskan nilai lumen pada kemasannya tapi apakah angka-angka tersebut dimengerti oleh masyarakat pada umumnya . misal dikemasan tertulis 900 lumen . apakah nilai lumen ini sesuai dengan kebutuhan mereka ? apakah nilai lumen ini sesuai dengan fungsi ruang yang mereka gunakan ? . kembali lagi memang sosialisasi kepada masyarakat itu sangat penting , seperti : masyarakat harus mengetahui apa sebenarnya watt itu , apa sebenarnya lumen itu dan jumlah watt & lumen yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing , sehingga dapat memilih lampu hemat energy yang tepat . kalau asal pilih lampu hemat energy tapi tidak sesuai dengan kebutuhannya (berlebihan) sama saja tidak hemat energy kan …

  • Harits Pramana
    Reply May 13, 2011 at 1:29 pm

    Memang tidak dapat dipungkiri lagi, suatu istilah “Watt” sebagai titik ukur terang tidaknya sebuah lampu memang sudah memasyarakat. Sekarang sudah banyak sekali lampu hemat energi dengan berbagai merk dagang yang memiliki “Watt” rendah tetapi bisa menyamai tingkat terangnya lampu lain dengan “Watt” yang sama yang terkadang membuat konsumen bingung apa perbedaanya. Seharusnya memang harus ada dilakukan sosialisasi untuk menekankan bahwa LUMEN = UKURAN TERANG LAMPU sedangkan WATT = DAYA/ENERGI YANG DIBUTUHKAN. Dengan ini masyrakat akan mengetahui betapa pentingnya Lampu Hemat Energi sehingga seluruh masyarakat di Dunia dapat mendukung “Penghematan Energi” dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan menghemat energi berarti secara tidak langsung kita juga mengurangi kerusakan yang terjadi pada Bumi kita.

  • Reply May 13, 2011 at 1:18 pm

    Memperbaiki pemahaman masyarakat tentang lampu dapat di sosialisasikan melalui banyak media, misal nya iklan sosial maupun jejaring sosial seperti facebook,sehingga pemahaman bahwa yang lebih penting dalam memilih jenis lampu bukan pada watt nya melainkan nilai terang nya. dengan fisualisasi yang menarik untuk masyarakat. semoga masyarakat indonesia lebih maju,garuda di dada ku!

  • andrik hartono
    Reply May 13, 2011 at 12:31 pm

    Menurut hasil penelitian Badan Pengendalian Hidup Daerah-Provinsi Jawa Barat (dalam bentuk pdf yang saya dapat), jika 1.000.000 rumah di dunia mengganti 4 buah lampu menjadi lampu hemat energi setiap rumahnya, maka 900.000 ton emisi gas rumah kaca dapat dikurangi.karena sebuah lampu bohlam biasa seumurnya akan menghabiskan sebanyak 250 kg batu bara. Lampu hemat energy jenis Fluorescen (lampu neon) ber umur 8.000 jam lebih lama dibandingkan umur lampu pijar yang hanya 1.000 jam. Dengan mengganti 20 juta titik lampu hemat energi PT. PLN akan menghemat sebesar 640 MW pada saat beban puncak.
    Jadi dengan usaha kita memberitahu kepada kalayak banyak akan penggunaan lampu hebat energi dengan tidak mencari besar tingkat watt-nya tetapi lebih berfokus untuk mencari besarnya lumen atau nilai terangnya akan berpengaruh terhadap penghematan energi untuk pencegahan emisi gas rumah kaca. Dengan mencerdaskan konsumen akan membantu menyelamatkan bumi.

  • Dani Maulana
    Reply May 13, 2011 at 8:54 am

    Assalamualaikum… sangat menarik dari tulisan yang bapak buat di atas. Sekarang ini memang sudah sangat banyak sekali jenis lampu-lampu hemat energi beredar di pasaran. Namun hal itu di iringi juga dengan biaya yang harus di keluarkan untuk mendapatkannya, karena seperti yang kita tahu lampu jenis hemat energi sedikit lebih mahal daripada lampu biasa. Seperti yang kita tahu, keadaan masyarakat kita sekarang ini tidak semuanya berkecukupan, sehingga mereka masih menggunakan lampu biasa yang tidak hemat energi. Hal ini jelas menjadi suatu kendala selain kekurangtahuannya masyarakat tentang pentingnya lampu hemat energi. Bagaimana pendapat bapak mengenai hal itu? terima kasih.

  • M.Tidiyannor
    Reply May 13, 2011 at 8:17 am

    Ya,saya setuju dengan kalimat bapak ”Lampu hemat energi adalah lampu yang memiliki nilai ‘watt’ yang kecil tetapi terang.”karna watt besar tidak berarti lampu tersebut lebih terang, tapi watt besar sudah pasti berarti biaya pengoperasian (tagihan listrik) lebih mahal. Nah, maka dari itu pilihlah lampu yang paling tepat. Salah satu upaya penghematan energy listrik, yaitu menentukan jenis lampu untuk ruangan yang kita pakai.
    Tambahan…
    Untuk membeli lampu jangan cuma melihat ‘watt’nya saja tapi juga dampaknya kepada lingkungan contohnya seperti lampu TL dan CFL yang beracun, kalau sampai pecah racunya bias menyebar melalui udara. Ada juga Lampu LED yang dikatakan Lampu masa depan ( Teknologi ) yang super hemat uang/engergi dan ramah lingkungan, dan juga sangat tahan sampai dengan 10 Tahun.
    LED mengubah hampir semua energi menjadi cahaya, menjadikannya sumber cahaya yang sangat efisien. LED membangkitkan hanya 30% panas di banding teknologi pencahayaan biasa. Dengan panas yang rendah, LED aman untuk disentuh dan tidak menghasilkan sinar UV yang berbahaya.
    – LED ramah lingkungan dan dibuat dari bahan yang tak beracun, tidak seperti lampu neon yang mengandung raksa.

    http://prestylarasati.wordpress.com/2008/03/30/lampu-hemat-energy-vs-lampu-pijar/

  • Nur Kumala Fitrianti
    Reply May 13, 2011 at 3:59 am

    Saya setuju dengan pendapat bapak yang menyebutkan bahwa yang diperlukan bukanlah nilai watt nya tetapi nilai terang lampu itu sendiri yang dipengaruhi oleh arus cahaya yang memiliki satuan lumen.
    Kebiasaan masyarakat yang lebih banyak mengenal istilah “watt” daripada “lumen” itu sendiri juga menjadi salah satu penyebab salah kaprahnya masyarakat mengenai lampu hemat energi. Tapi itu semua juga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai lampu hemat energi dan umumnya pada iklan-iklan lampu yang ada di media massa atau media elektronik pun menyebutkan watt dan bukan lumen.

  • maya wardana
    Reply May 13, 2011 at 3:45 am

    Tulisan bapak sangat menarik untuk dicermati, selain itu tulisan ini juga memberikan pengetahuan baru yang sangat bermanfaat bagi saya dan pembaca-pembaca lainnya.
    Saya sependapat dengan bapak, bahwa salah kaprah tentang ‘watt’ perlu disosialisasikan agar masyarakat faham maksud penggunaan lampu hemat energi. Namun sebaiknya sosialisasi tidak hanya diberikan kepada konsumen, produsen juga perlu mendapatkannya. Seharusnya produsen tidak hanya mencantumkan nilai ‘watt’ pada kemasan produknya, nilai lumen juga sangat penting dicantumkan karena nilai lumen itulah yang sangat menentukan besarnya cahaya yang dihasilkan pada produk lampunya.
    Jadi, apabila produsennya cerdas dalam membuat kemasan produknya, maka konsumen atau masyarakatnya pun bisa menjadi masyarakat yang cerdas dalam hal membeli lampu.

  • agus andrianoor
    Reply May 13, 2011 at 3:20 am

    memang benar apa yang di sampaikan di dalam artikel yang di tulis bapak,namun,pengertian masyarakat awam untuk kata watt itu sampai sekarang adalah semakin besar watt maka semakin besar cahaya yang akan di hasilkan,saya pun juga baru tau bahwa yang menentukan terang nya cahaya yang di hasilkan itu adalah seberapa besar lumen yang di miliki oleh sebuah lampu..namun,,bagaimana caranya agar semua masyarakat tau,,dan tidak lagi beranggapan bahwa semakin besar watt,semakin terang lampunya..MASYARAKAT YANG CERDAS JIKA MEMBELI LAMPU DENGAN NILAI LUMEN YANG BESAR,WATT YG KECIL…
    MISAL KITA DATANG KE TOKO LAMPU,APA YANG HARUS KITA TANYAKAN..??MAS,ADA LAMPU YANG LUMENNYA BESAR WATTNYA KECIL??atau bagaimana…sedang penjual juga tidak megerti apa itu lumen…jadi,,menurut saya,,sebaiknya di adakan sosialisasi,atau semacam pemberitahuan kepada masyarakat awam mengenai bagaimana memilih lmpu yang benar agar menjadi masyarakat yang cerdas.

    • Reply May 13, 2011 at 6:04 am

      terimakasih atas tambahan informasinya, ditunggu comment lainnya

  • Rizki Nurhidayati
    Reply May 13, 2011 at 3:02 am

    Kecenderungan masyarakat menggunakan istilah “watt” disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam pencahayaan buatan. Kepopuleran penggunaan istilah “watt” juga didukung oleh iklan-iklan lampu yang sering ditayangkan di media-media massa. Sering ditayangkan iklan-iklan yang mengajak masyarakat untuk beralih ke lampu hemat energi, tanpa terlebih dahulu memberikan penyuluhan ataupun pemahaman mengenai pencahayaan buatan (lampu) yang menyeluruh. Masyarakat hanya mengenal “watt” sebagai satuan dalam pencahayaan, tanpa mengenal satuan-satuan lain yang juga mempengaruhi terang lampu. Keberadaan istilah “lumen” sebagai satuan arus cahaya “kalah” dengan kepopuleran istilah “watt” yang selalu muncul dalam iklan-iklan lampu setiap harinya.

  • husniah
    Reply May 13, 2011 at 2:25 am

    Saya juga sangat setuju dengan pendapat bapak…
    Seharusnya kita memang lebih mempertimbangkan besarnya lumen yang dihasilkan oleh lampu yang kita beli, karena lumen merupakan ukuran besarnya cahaya yang dihasilkan oleh lampu tersebut. Namun, hal tersebut juga semestinya harus didukung oleh para produsen yang yang mencantumkan jumlah lumen yang dihasilkan pada kemasan-kemasan lampu yang mereka buat.
    Sosialisasi memang sangat perlu, tapi jika hal tersebut tidak mendapat dukungan dari pihak produsen rasanya sangat susah untuk merubah kebiasaan masyarakat pada umumnya. Karena mereka tetap akan menemui/menemukan kata “watt” tersebut setiap kali mereka ingin memilih lampu mana yang akan mereka pakai.
    Jadi, perubahan harus dimulai dari akarnya…

  • M.Rizki Azima
    Reply May 13, 2011 at 1:19 am

    Memang sekilas pesoalan lampu terlihat sepele , Sekali mati, Anda tinggal menggantinya dengan yang baru dan harga yang terjangkau. Tapi jika dihitung. Bisa jadi, alat penerangan inilah yang menyumbang persentase terbesar di rekening listrik Anda. Seperti kata Dr-Ing Eko Adhi Setiawan, dosen jurusan Teknik Elektro Universitas Indonesia “Jangan remehkan soal lampu. Karena ini kebutuhan yang sepertinya sepele tapi konsumsi energinya cukup besar,”
    Opini saya dapat dikatakan bahwa masyarakat masih belum memiliki knowledge dalam hal perbedaan watt dengan lumen sehingga seperti yang anda katakan diatas perlunya diadakan sosialisasi agar masyarakat paham mengenai penggunaan lampu hemat energi .
    Dalam hal memilih lampu hemat energi pun beberapa pertimbangan yaitu : Color temperature (temperature warna), Color rendering (renderasi warna), Lumen output (lumen), Efficacy(Merupakan konsumsi listrik untuk dapat mengeluarkan banyaknya cahaya dari lampu), Life time (umur lampu) Jadi, dari informasi yang sedikit ini, semoga kita sudah lebih paham dalam memilih lampu untuk rumah kita. Apalagi setelah pemilihan lampu yang hemat energi, kita sendiri juga bisa mengefisiensikan pengoperasian lampu di rumah kita. Hemat energi, berarti mengantisipasi krisis energy. Untung buat diri kita, untung juga buat semua orang

  • YULISA MELLA
    Reply May 13, 2011 at 12:27 am

    saya baru tau kalau terang tidaknya lampu dilihat dari lumennya bukan watt nya.
    begaimana bisa mengetahui nilai lumen pada sebuah lampu, karna setau saya selama ini dalam menggunakan lampu pada kemasan yang terlihat jelas hanya tulisan wattnya saja???

  • Supi Nurdiansyah
    Reply May 12, 2011 at 10:16 pm

    saya setuju, watt bukanlah lah satuan terang cahaya melaikan satuan daya banyak orang salah mengartikan hal inik dan watt yang besar bukan merupakan jaminan untuk tingkat keterangan suatu cahaya lampu, tapi bagaimana menghemat energi dengan menggunakan watt kecil memberikan cahaya terang maksimal pada suatu ruangan dan sekaligus menghemat pembiayaan listrik. Sebagai Contohnya jika lampu Hemat Energi (sprt Lampu PL 18 watt dengan terang lampu 1200 lumen maka setara 100 watt lampu pijar, dan umur LHE lebih lama dari Lampu Pijar sekitar 6x umur lampu pijar (LHE 6000 jam dan 1000 jam L.Pijar), sdngkn konsumsi energi LHE hanya 1/5 Kwh dari L.Pijar, hal ini mengemat energi dan biaya listrik…
    http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=63891&page=1

  • Akhmad Rusyaidi
    Reply May 12, 2011 at 5:55 pm

    Nampaknya kasus diatas serupa dengan ketika kita menemui orang yang ingin membeli air mineral dengan sebutan “akua” (yang merupakan merk dagang suatu perusahaan air mineral) atau beberapa orang tua dulu menyebut kendaraan roda dua dengan sebutan “honda”.
    Kemungkinan kita mampu merubah pola pikir masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah hingga tingkat pendidikan tinggi, tapi sukar untuk masyarakat yang “maaf” tingkat pendidikannya SD saja tidak tamat ( realita ini memang ada di Indonesia ) seperti pedagang kaki lima bahkan penjual lampu pun tidak akan terpikirkan akan hal ini. Atau apakah setiap kita membeli sebuah jenis lampu kita harus menerangkan apa itu “Lumen” sehingga satu-satu dari mereka tahu akan kekeliruan istilah bahasa dan definisi ini.
    mungkin saja nanti akan ada perusahan lampu yang dalam kemasan lampunya di tulis “Lampu PL = 900 Lumen hemat energi” (tentu dengan ukuran font lebih besar, agar orang yang membeli terus tertuju pada tulisan ini) hal ini bisa saja sedikit demi sedikit membantu pengklarifikasian penggunaan istilah “terang”.

  • Emmy Zulfanida
    Reply May 12, 2011 at 4:35 pm

    Masyarakat memang lebih mengerti istilah “watt” di banding lumen. Saya pun baru setelah kuliah ini mengerti yang disebut dengan lumen. Namun masalahnya, para produsen lampu tidak mencantumkan berapa nilai lumen yang terkandung dalam lampu buatan mereka, sehingga patokan masyarakat terhadap lampu hanya terbatas pada nilai watt’nya saja. Selain itu walaupun nilai watt’nya sama, tiap produk lampu berbeda merk terkadang memiliki terang dan daya tahan yang berbeda. Seperti yang saya alami beberapa waktu yang lalu, saat itu saya membeli lampu dengan merk A yang memiliki nilai 25watt, namun terangnya hanya sama dengan lampu yang sudah bertahun-tahun saya pakai dengan merk B dengan watt yang lebih rendah(saya lupa berapa). Parahnya lagi, lampu A ini hanya bertahan sekitar 2 bulan’an saja. Oleh karena itu, agaknya sulit memilih lampu jika kondisi seperti ini terus berlangsung dan pada akhirnya prinsip hemat energi kurang dapat dicapai secara maksimal.
    Oleh karena itu, cara terbaik adalah membeli lampu dengan merk terpercaya walaupun dengan harga yang sedikit lebih mahal namun tahan lama dan cahaya’nya terang.

  • Desmi Natalia
    Reply May 12, 2011 at 3:35 pm

    Masyarakat memang sudah terbiasa menyebut kata ‘watt’ dan mengira bahwa watt merupakan terang atau tidaknya sebuah lampu atau pencahayaan. Dan karena keterbiasaan itulah penyebutan kata ‘watt’ dan pengertiannya menjadi turun temurun bagi masyarakat. Ada kalimat yang menarik buat saya dalam artikel ini yaitu ‘Masyarakat cerdas jika beli lampu mencari nilai lumen yang besar dan watt yang rendah’… apakah semua masyarkat mengetahui apa itu lumen? Apakah semua masyarakat mengetahui lampu Pijar (incandescent) dan flourescent seperti PL? Mungkin tidak. Karena ketidaktahuan akan pengertian itulah masyarakat mungkin tidak dapat ‘cerdas’ di dalam membeli lampu. Masyarakat bahkan kebanyakan tidak berpikir ketika membeli lampu untuk mempertimbangkan penggunaan hemat energi, dengan kata lain ketika mereka membeli lampu yang dicari hanyalah seberapa terangnya lampu tersebut untuk memenuhi tempat atau ruang yang memerlukan pencahayaan. Karena itulah perlu disosialisasikan kepada masyarakat apa itu lampu hemat energi sehingga mereka dapat memahaminya dan menjadi cerdas didalam membeli lampu sehingga dapat mengatasi krisis energi yang semakin parah.

    • Reply May 13, 2011 at 6:07 am

      saya sudah mengunjungi tkp, bagus saya sangat aspresiatif dg blog anda

    • Reply May 13, 2011 at 6:08 am

      saya saat ini sedang berada di barabai, lihat byk comment yang masuk terpaksa saya harus urusi dulu persetujuan moderasinya

  • Reply May 12, 2011 at 12:52 pm

    Saya sependapat dengan bapak.
    Memang benar, hal yang kita perlukan dari sebuah lampu adalah bagaimana terang yang mampu dihasilkannya. Menurut saya, ada 2 hal yang dapat dilakukan untuk memperluas lingkup cahaya dalam ruang agar tidak terlalu banyak menggunakan lampu.
    Pertama, pilihlah armatur lampu yang mampu menyebarkan titik cahaya yang lebih banyak.
    Dan yang kedua, pilihlah desain plafon dengan pola tertentu yang bisa memantulkan cahaya serta gunakanlah warna-warna yang terang sebagai finishing dari plafon tersebut.

  • Muhammad Hamzairi
    Reply May 12, 2011 at 5:58 am

    Seharusnya tulisan “watt” yang tertera pada kotak suatu produk Lampu diganti dengan kata “Lumen”. karena pada suatu lampu yang diperlukan adalah kuat atau terangnya cahaya yang dihasilkan oleh lampu bukan dari besar wattnya, yang dicari adalah lumennya
    seperti sekarang ini, sudah banyak ditemukan suatu lampu yang hanya dengan watt rendah tetapi dapat menghasilkan terang lampu yang kuat. Lampu tersebut dinamakan “lampu hemat energi”. sudah seharusnya masyarakat beralih dan menggunakan lampu hemat energi disamping wattnya yang rendah tetapi dapat menghasilkan cahaya lampu yang terang.
    meski agak mahal lampu yang hemat energi, tetapi dapat menghemat biaya rekening listrik.
    karena efek global warming tidak sedikit dikarenakan penggunaan energi yang boros salah satunya dengan penggunaan energi lampu yang besar.

  • Madyani
    Reply May 12, 2011 at 5:43 am

    Setuju, menurut saya memang benar kenyataannya di dalam kehiduapan sehari – hari masyarakat kebanyakan apabila membeli suatu produk lampu selalu menanyakan “watt” nya saja padahal sebenarnya yang diperlukan adalah nilai terang dari suatu produk lampu.
    misalnya lampu dengan merek phillips dengan niali 10 watt akan menghasilkan nilai terang yang sangat besar, dibandingkan dengan produk lampu lainnya yang memiliki nilai watt yang lebih besar belum tentu dapat menghasilkan kekuatan terang yang sama dengan yang dihasilkan olh lampu phillips tadi.
    Phillips merupakan suatu perusahaan lampu yang sudah menerapkan teknologi hemat energi, yaitu dengan meminimalisir nilai wattnya tetapi tetap dapat menghasilkan cahaya lampu yang terang.
    Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk menerapakan lampu yang hemat energi, sudah saatnya kita peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar dengan cara penggunaan lampu yang hemat energi.

    Terima KAsihhhhh !

  • zainuddin
    Reply May 12, 2011 at 2:56 am

    setuju juga pak..
    tapi kalau menurut saya mengenai masalah sosialisasinya udah cukup berhasil dengan banyaknya lampu hemat energi yang di konsumsi masyarakat sekarang ini..
    walaupun pemahamannya kadang masih salah..pemikiran mereka mungkin lebih terarah kepada sedikitnya tagihan listrik yang akan mereka bayar jika memakai lampu hemat energi..meski lampu hemat energi tergolong mahal..belum tentu kan pak mereka2 itu tau mengenai “lumen” tsb..

  • Reply May 12, 2011 at 12:09 am

    Setuju,sederhana hanya kata “watt” saja dapat mengakibatkan pengaruh besar terhadap bumi,green action perlu dilakukan dari hal kecil dimulai dari sekitar diri kita,.adapun pilihan jenis lampu lain yang hemat energi selain PL yaitu lampu LED,. Lampu LED memiliki 60 – 100 Lumens / Watt.(Lumens adalah ukuran cahaya oleh mata manusia),untuk mendapatkan lumen 900,lampu LED hanya memerlukan 9 watt.Namun harga lampu LED sendiri lebih mahal dibanding lampu jenis lain.
    http://www.panelsurya.com/index.php/id/-lampu/lampu-led-ac

  • Reply May 11, 2011 at 6:18 pm

    Saya sangat setuju dengan kalimat “yang diperlukan bukanlah nilai wattnya, tetapi nilai terangnya”. Selain itu, alangkah baiknya jika terangnya cahaya juga di imbangi dengan luasan ruangan, jadi untuk ruang yang kecil, cukup menggunakan lampu yang tidak terlalu terang, sedangkan ruangan yg lebih luas menggunakan lampu yang lebih terang.

  • adiyanti g. d
    Reply May 11, 2011 at 3:18 am

    Dalam masyarakat awam, umumnya sudah terbiasa memilih lampu dengan istilah watt. Dalam asumsinya semakin besar watt akan semakin semakin besar intensitas cahaya yang dihasilkan, tetapi dari segi ekonomis jelas terlihat bahwa semakin besar watt semakin besar energi yang dibutuhkan. Hal ini ada suatu pemborosan, baik secara material maupun listrik yang dihasilkan. Jauh berbeda ketika pemikiran masyarakat tersebut sedikit demi sedikit kita rubah, mengenalkan kepada mereka bahwa tak selalu lampu yang menghasilkan intensitas cahaya yang besar bergantung pada watt dijaman sekarang ini sudah tersedia berbagai produk lampu yang mencantumkan hemat energi, dimana lampu tersebut bisa menghasilkan intensitas cahaya yang besar walaupun dengan watt yang kecil, sebagaimana fungsi sebuah lampu untuk penerangan sama seperti halnya kerja lilin, bukankah dengan keefesienan ini kita dapat melakukan penghematan energi, tetapi kita tetap dapat memperoleh penerangan yang membantu kita dalam melakukan aktivitas. Sehingga masyarakat bisa lebih selektif dalam memilih produk lampu, jenis dan bahan yang membentuk lampu tersebut.
    Terang cahaya untuk ukuran watt lampu flourescent berbeda pada setiap ruangan. Pengaruh warna lampu ini dibandingkan lampu pijar yang cahayanya cenderung lebih redup. Lampu jenis fluorescent adalah termasuk lampu hemat energi. Salah satu tipe lampu fluorescent adalah PL. Untuk menstabilkan arus yang masuk pada lampu, maka dipasang balast. Balast magnetik merupakan salah satu jenis balast yang tersedia dipasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *