KONSTRUKSI BAJA RINGAN UNTUK ATAP YANG RINGAN

19

Mar

KONSTRUKSI BAJA RINGAN UNTUK ATAP YANG RINGAN

KONSTRUKSI BAJA RINGAN UNTUK  ATAP YANG RINGAN

Dua fenomena yang saling berlawanan muncul dalam dunia konstruksi, yaitu langkanya kayu dan perkembangan bahan pengganti kayu. Jika dibuat grafik, ketersediaan kayu makin menurun sedangkan bahan pengganti kayu melejit naik. Meskipun demikian fenomenanya, kayu masih tetap diburu untuk pembangunan. Seakan tidak ada bahan yang lebih unggul dibandingkan kayu. Ada benarnya juga, sifat fisik, mekanik dan kimiawi kayu tidak dimiliki bahan buatan lainnya.

Melihat tren penggunaan kayu, pada akhirnya akan terhenti pada titik nol alias tidak ada lagi kayu untuk bahan konstruksi. Entah tahun berapa terjadi. Saat itulah pengguna beralih ke bahan non kayu. Diantara contoh bahan selain kayu yang saat ini menjadi booming adalah atap baja ringan. Permintaan jenis bahan ini makin meningkat dari tahun ke tahun. Semakin banyak dicari dan digemari. Diantara alasan yang paling kuat adalah harga murah dan mudah dalam pemasangan.

Para tukang kayu yang terbiasa menerima order pemasangan konstruksi kayu terpaksa “banting stir” keahlian mereka. Mereka terdorong untuk menjadi ahli dalam pemasangan konstruksi baja ringan. Jika memasang konstruksi kayu banyak menggunakan palu, sedangkan pemasangan baja ringan banyak menggunakan bor listrik. Banyak bermunculan tukang dadakan, mengaku dengan pede nya ahli memasang rangka atap baja ringan. Padahal modal ilmu mereka hanya karena melihat. Sebagaimana prinsip ATM “amati tiru dan modifikasi”. Di sisi lain, para ahli dadakan ini sangat disayangkan minim pengetahuan tentang mekanika. Padahal rangkaian konstruksi baja ringan memiliki batas-batas kemampuan. Rangkaian batang baja seperti susunan segita yang bertautan. Dalam mekanika ada istilah segitiga Cremona, yang prinsipnya menetralisir gaya tarik dan gaya tekan. Dengan prinsip Cremona ini lah rangkaian konstruksi baja ringan yang benar menjadi kokoh tanpa ada lenturan.

Namun disayangkan lagi, prinsip Cremona ini tidak bisa difahami dg hanya sekedar pakai “ATM” tadi. Harus belajar atau kursus atau pelatihan. Kenapa? Bentang atap bisa beragam ada yang pendek dan ada yang pajang. Bentang panjang ini yang perlu diwaspadai. Selain itu, beban atap pun perlu diperhitungkan.

Beban atap tidak terlepas dari jenis penutup atap. Beragam jenis penutup atap banyak dijual di toko-toko bangunan. Kebanyakannya dijual jenis atap metal dikenal dengan metal roof. Diantara kelebihan metal roof adalah ringan. Padahal metal roof ini tidak ada bedanya dengan seng jika ditinjau dari ukuran berat. Berhubung atap seng mudah mengalami korosi, sehingga dilakukan inovasi teknologi hingga menghasilkan metal roof yang diklaim anti korosi. Dengan mengkombinasikan bahan seng dan aluminium kemudian dilapis cat anti korosi menghasilkan bahan yang terlindungi dari korosi.

Mari kita perhatikan sedikit pada aspek berat atap. Konstruksi atap baja ringan sesuai sifatnya yang ringan memiliki batas kemampuan. Beberapa kejadian atap ambruk seringkali kita baca dan dengar informasinya. Muncul pertanyaan kenapa bisa? Banyak sebab. Diantara sebabnya adalah atap terlalu berat, gagal konstruksi karena kesalahan dalam pemasangan, dan angin yang menyebabkan terjadinya getaran atap.

Perhatikanlah sifat baja ringan. Bandingkan dengan sifat kayu. Apa yang berbeda? Banyak sekali kekurangan pada baja ringan dibandingkan kayu. Jika baja ringan bersendirian tanpa ada rangkaian, maka kelemahannya banyak, seperti tidak kuat menahan gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen. Tetapi baja ringan jika dirangkai dengan benar mampu menahan gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen. Jika terjadi atap baja ringan runtuh berarti itu terjadi karena konstruksi tidak mampu menahan gaya tekan atau gaya tarik atau gaya momen.

Tidak sepadannya berat atap dengan kemampuan konstruksi atap menjadi sebab munculnya gaya tekan, gaya tarik dan gaya momen yang berlebih. Dalam rangkaian konstruksi  baja ringan jika terjadi bengkok pada satu batang saja, menyebabkan gagalnya prinsip Cremona yaitu menetralisir gaya. Sementara bobot penutup atap terus menekan konstruksi baja ringan. Cepat atau lambat konstruksi rangka mengalami jenuh. Makin lama terjadi kebengkokan pada beberapa segmen batang dan makin bertambah. Keadaan akan diperparah jika terjadi hujan dan angin. Hujan menambah bobot atap, sedangkan angin mengganggu kestabilan konstruksi atap. Akhirnya konstruksi atap menjadi runtuh.

Pada jenis atap metal, air hujan tidak terserap. Artinya bobatap gentengot atap metal tetap stabil meskipun hujan. Berbeda dengan atap genteng [baik genteng tanah liat maupun beton], jika diguyur hujan, air terserap dan menambah bobot atap.

Jika ingin membandingkan bobot jenis atap antara metal roof dan genteng, sungguh mencengangkan. Atap genteng memiliki bobot hingga 48kg/m2 sedangkan atap metal hanya sekitar 5,5 kg/m2. Memang benar, ada atap metal yang lebih berat karena ada tambahan lapisan anti berisik dan panas. Namun bobotnya tidak seberat bobot genteng yang mencapai 10 kali berat atap metal.

atap metalBeberapa kejadian atap runtuh menggunakan atap genteng. Umumnya orang tidak diketahui sebabnya. Dahulu, di masa konstruksi kayu hampir tidak terdengar kejadian atap genteng runtuh. Sekarang, di masa konstruksi baja ringan sering mendengar berita atap genteng runtuh. Selain itu, jarang terdengar atap metal runtuh, atap seng runtuh, atap sirap runtuh. Dari sini logika nalar bisa menjawab. Supaya aman jangan menggunakan atap yang berat. Jika menggunakan konstruksi baja ringan gunakanlah penutup atap yang ringan. Tidak mesti metal roof.

atap ondulineSekarang sudah ada inovasi teknologi bangunan, atap tanpa metal, lebih ringan, sejuk dan memiliki insulasi bunyi alias anti bising, serta ringan dengan berat hanya sekitar  3kg/m2. Cerdaslah memilih atap. Jangan malu bertanya kepada ahlinya yaitu para arsitek, yang jaman sekarang mudah anda temui di sekitar anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *