Mengapa Taksi Online Harus Di Demo?

24

Mar

Mengapa Taksi Online Harus Di Demo?

Memang benar-benar sudah latah jaman sekarang menganggap demo menjadi cara jitu menyelesaikan masalah atau menyalurkan keinginan ke pihak-pihak tertentu. Gilirannya, entah sengaja atau tidak, akan ada benturan antara bawahan dan pimpinan, majikan dan anak buah, kaya dan miskin, pemilik kuasa dan kaum lemah. Sungguh kondisi ini memprihatinkan, ada benturan antara masyarakat cukup meresahkan. Kita semua maunya hidup rukun dan damai, tapi nyata nya fakta membelalakkan mata. Miris melihat pemandangan rusuh dan demo di mana-mana.

Di antara tren demo itu sekarang muncul gejolak di dunia transportasi. Di tengah kemajuan sistem transportasi dan di saat pemerintah sedang gencar memperbaiki infrastruktur transportasi, muncul ke permukaan publik persoalan taxi online. Grab dan uber taxi di uber-uber. Padahal, taxi online ini sudah muncul tahun lalu, baru meledak tahun ini. Kenapa meledak? Kesenjangan ekonomi atau pendapatan antar kelompok atau pun paguyuban transportasi menjadi pemicu. Ya, ada rasa iri kepada sistem online yang begitu mudah dan murah. Sementara mereka yang masih memegang sistem konvensional tidak mampu mengikuti cara sistem online. Ledakan emosi terus menyulut keadaan. Hingga koreksi dan kritikan bahwa taksi online tidak bayar pajak, memasang tarif lebih murah, dsb. Ada benarnya, dan diakui pemerintah. Ijin taxi online itu rupanya belum memiliki ijin resmi.

Ini juga, go-jek berbasic sistem online dipersoalkan pecinta konvensional. Persoalannya juga sama. Ada gesekan go-jek dengan o-pang. Berebut wilayah “rizki”. Sama juga dengan taxi online vs konvensional, berebut wilayah “rizki”. Kalau sudah urusan perut, masalah jadi berlarut-larut kalau dibiarkan. Kenyataan tersebut yang menjadi pe-er tambahan pemerintah untuk mencari solusinya. Mustahil bagi pemerintah menghentikan sistem online. Kalau sekedar memblokir sebuah website gampang. Bagaimana kalau muncul lagi website lainnya, sistem online bisa muncul lewat media sosial, aplikasi, dsb. Pemerintah berada pada posisi membuat regulasi. Taxi online tentu harus berbadan usaha yang resmi dan ikut aturan yang ada. Pemerintah mengawasi dan melakukan kontrol. Ada pelanggaran, langsung ada tindakan, ada sanksi, ada pembekuan usaha jika parah.

Mungkin kalau semua taxi menggunakan sistem online semua, demo juga bisa muncul. Bluebird online, express taxi online, silver bird online, lalu apa bedanya dengan uber dan grab? Ojek panggalan online, ojek lainnya juga online, apa bedanya dengan go-jek dan blue-jek? Ayam goreng kremes saja sekarang sudah online, jual barang bekas online. Bahkan kayu bongkaran proyek bangunan juga ditawarkan secara online. Apa bisa bertahan tanpa online? Apa mungkin bersaing hanya mengandalkan sistem konvensional? Bagaimana pun cara konvensional kalah cepat dengan sistem online.

Misalnya go-jek [maaf saya bukan promo go-jek], bukan sekedar melayani pengantaran orang, tetapi melayani pembelian barang. Dari rumah, konsumen go-jek yang sedang malas keluar rumah, cukup menghubungi go-jek untuk membelikan ayam tepung di KFC kah atau CFC kah, atau jenis lainnya. Dalam hitungan menit abang go-jek tiba di rumah, dan pemesan membayar tagihannya. Ini salah satu contoh begitu fleksibelnya sistem online. Apakah bisa sistem konvensional melawan sistem online?

Seseorang baru mendarat di bandara. Belum keluar terminal kedatangan dia membuka aplikasi taksi online. Tanpa bicara, dia hanya mengetik pesan untuk dijemput. Setelah itu datanglah taksi jemputan di area drop-off. Para sopir taksi konvensional hanya bisa mengatakan “taksi pak, taksi bu…” kepada tiap orang yang baru keluar ruang kedatangan di bandara. Ternyata orang yang ditawari taksi tadi sudah pesan lewat aplikasi online. Nyata kah ini? Siapa yang kalah? Adakah yang salah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *