RUPIAH ANJLOK TERHADAP DOLAR, PROBLEM BAGI ARSITEK?

23

Mar

RUPIAH ANJLOK TERHADAP DOLAR, PROBLEM BAGI ARSITEK?

RUPIAH ANJLOK TERHADAP DOLAR, PROBLEM BAGI ARSITEK?

Tentu saja segala hal yang terkait bahan bangunan berpengaruh kepada arsitek. Penyelesaian desain tidak berhenti pada gambar semata. Setelah itu arsitek harus mampu menghitung seberapa besar biaya yang diperlukan untuk mewujudkan ide desainnya. Berapa banyak klien mundur teratur setelah tau ternyata biaya pembangunan sangat mahal diluar kemampuannya. Kalau sudah seperti itu kondisinya, desain tidak ada artinya, karena tidak dipakai oleh klien.

Arsitek kreatif akan memilih material bangunan sesuai budget yang dimiliki kliennya. Penguasaan taraf affordability klien sangat diperlukan, bukan saja karena pertimbangan fee arsitek tetapi lebih dari itu yaitu mempertimbangkan keberhasilan gambar yang diteruskan pada tahap pembangunan. Tidak sedikit arsitek kecewa berat akibat desainnya dikembalikan oleh klien gara-gara terlalu mahal. Si klien memilih arsitek lain yang bisa menyajikan pilihan harga yang murah.

Ironisnya, keadaan ekonomi makro turut mendongkrak tingginya harga material bangunan. Hampir merata di seluruh jenis material. Bahan berbasis besi, baja, aluminium sudah bisa dipastikan terus melonjak karena komponen impor. Sementara impor tergantung kurs mata uang.

Mata uang Indonesia sangat rentan terhadap perubahan kurs dolar Amerika. Hampir seluruh aktivitas ekonomi dagang menjadikan dolar AS sebagai pedoman. Kontrak ekspor-impor menggunakan kurs dolar, biaya transportasi dengan dolar, umroh dan haji juga berpatokan dengan dolar, termasuk jangan dilupakan hutang Indonesia juga dihitung berdasarkan kurs dolar. Saat dolar kuat rupiah melemah. Tentu saja banyak sebabnya.

Beberapa ulasan ahli ekonomi mengatakan bahwa rupiah tidak bisa membendung kuatnya dolar bukan disebabkan keadaan internal tetapi karena pengaruh eskternal. Diantaranya perubahan kebijakan moneter makin ketat yang dilakukan Bank Central Amerika atau disebut The Fed. Indonesia termasuk negara yang terpengaruh dengan kebijakan moneter The Fed dengan menaikkan suku bunga. Pasar modal sangat tertarik dengan suku bunga yang tinggi dan mengalihkan sekian banyak modalnya ke Bank Central Amerika tersebut agar mendapatkan keuntungan yang tinggi. Dolar makin diuntungkan dengan kondisi tersebut.

Sektor industri paling terkena dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Wajarlah jika kemudian mempengaruhi harga material bangunan. Hingga tulisan ini dibuat, dolar berada pada level yang tidak wajar terhadap rupiah yaitu hampir Rp.13.800 per USD sangat jauh dari estimasi ekonomi fundamental yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berkisar Rp.13.200 per USD. Masih menukil pendapat ahli ekonomi, bahwa efek penguatan dolar terhadap naiknya harga material diperkirakan terjadi beberapa bulan ke depan [april-mei-juni 2018].

Peringatan tentang dampak melemahnya rupiah terhadap dolar penting diketahui. Arsitek pun harus jeli menghitung anggaran biaya pembangunan dari desain yang dihasilkan. Bisa jadi setelah mengajukan anggaran biaya dan langsung disetujui oleh klien, saat belanja material ternyata harga sudah terlanjur naik. Ini sebagai contoh arsitek yang langsung menangani pembangunan fisiknya. Antisipasi terhadap perubahan harga material bangunan arsitek perlu membuat perjanjian kerja yang di dalamnya menyebutkan tentang batas kenaikan harga material yang perlu dikoreksi. Misalnya jika ada jenis bahan naik 20% maka anggaran biaya yang diajukan harus dilakukan perubahan.

Kegagalan arsitek tidak hanya gagal desain tetapi juga bisa mengalami gagal biaya. Akibat biaya yang dianggap tinggi klien mundur teratur dan desain arsitek tidak dipakai. Klien bahkan tidak membayar biaya desain karena merasa tidak memerlukan desain tersebut. Arsitek harus  kreatif menawarkan opsi desain dan opsi pemilihan material agar klien tidak mundur gara-gara biaya bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *