RUPIAH ANJLOK TERHADAP DOLAR, PROBLEM BAGI ARSITEK?

Tentu saja segala hal yang terkait bahan bangunan berpengaruh kepada arsitek. Penyelesaian desain tidak berhenti pada gambar semata. Setelah itu arsitek harus mampu menghitung seberapa besar biaya yang diperlukan untuk mewujudkan ide desainnya. Berapa banyak klien mundur teratur setelah tau ternyata biaya pembangunan sangat mahal diluar kemampuannya. Kalau sudah seperti itu kondisinya, desain tidak ada artinya, karena tidak dipakai oleh klien.

Arsitek kreatif akan memilih material bangunan sesuai budget yang dimiliki kliennya. Penguasaan taraf affordability klien sangat diperlukan, bukan saja karena pertimbangan fee arsitek tetapi lebih dari itu yaitu mempertimbangkan keberhasilan gambar yang diteruskan pada tahap pembangunan. Tidak sedikit arsitek kecewa berat akibat desainnya dikembalikan oleh klien gara-gara terlalu mahal. Si klien memilih arsitek lain yang bisa menyajikan pilihan harga yang murah.

Ironisnya, keadaan ekonomi makro turut mendongkrak tingginya harga material bangunan. Hampir merata di seluruh jenis material. Bahan berbasis besi, baja, aluminium sudah bisa dipastikan terus melonjak karena komponen impor. Sementara impor tergantung kurs mata uang.

Mata uang Indonesia sangat rentan terhadap perubahan kurs dolar Amerika. Hampir seluruh aktivitas ekonomi dagang menjadikan dolar AS sebagai pedoman. Kontrak ekspor-impor menggunakan kurs dolar, biaya transportasi dengan dolar, umroh dan haji juga berpatokan dengan dolar, termasuk jangan dilupakan hutang Indonesia juga dihitung berdasarkan kurs dolar. Saat dolar kuat rupiah melemah. Tentu saja banyak sebabnya.

Beberapa ulasan ahli ekonomi mengatakan bahwa rupiah tidak bisa membendung kuatnya dolar bukan disebabkan keadaan internal tetapi karena pengaruh eskternal. Diantaranya perubahan kebijakan moneter makin ketat yang dilakukan Bank Central Amerika atau disebut The Fed. Indonesia termasuk negara yang terpengaruh dengan kebijakan moneter The Fed dengan menaikkan suku bunga. Pasar modal sangat tertarik dengan suku bunga yang tinggi dan mengalihkan sekian banyak modalnya ke Bank Central Amerika tersebut agar mendapatkan keuntungan yang tinggi. Dolar makin diuntungkan dengan kondisi tersebut.

Sektor industri paling terkena dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar. Wajarlah jika kemudian mempengaruhi harga material bangunan. Hingga tulisan ini dibuat, dolar berada pada level yang tidak wajar terhadap rupiah yaitu hampir Rp.13.800 per USD sangat jauh dari estimasi ekonomi fundamental yang ditetapkan oleh Bank Indonesia berkisar Rp.13.200 per USD. Masih menukil pendapat ahli ekonomi, bahwa efek penguatan dolar terhadap naiknya harga material diperkirakan terjadi beberapa bulan ke depan [april-mei-juni 2018].

Peringatan tentang dampak melemahnya rupiah terhadap dolar penting diketahui. Arsitek pun harus jeli menghitung anggaran biaya pembangunan dari desain yang dihasilkan. Bisa jadi setelah mengajukan anggaran biaya dan langsung disetujui oleh klien, saat belanja material ternyata harga sudah terlanjur naik. Ini sebagai contoh arsitek yang langsung menangani pembangunan fisiknya. Antisipasi terhadap perubahan harga material bangunan arsitek perlu membuat perjanjian kerja yang di dalamnya menyebutkan tentang batas kenaikan harga material yang perlu dikoreksi. Misalnya jika ada jenis bahan naik 20% maka anggaran biaya yang diajukan harus dilakukan perubahan.

Kegagalan arsitek tidak hanya gagal desain tetapi juga bisa mengalami gagal biaya. Akibat biaya yang dianggap tinggi klien mundur teratur dan desain arsitek tidak dipakai. Klien bahkan tidak membayar biaya desain karena merasa tidak memerlukan desain tersebut. Arsitek harus  kreatif menawarkan opsi desain dan opsi pemilihan material agar klien tidak mundur gara-gara biaya bangunan.

Warna Berpengaruh Besar Pada Eksistensi Design Di Tengah Konfigurasi Ruang Kota

Desain dipengaruhi oleh bermacam model bentuk, tekstur, jenis bahan dan warna. Semuanya memiliki peran membentuk karakter desain. Ada bentuk yang sederhana menjadi menarik karena ketepatan memilih warna. Untuk bangunan berlantai banyak, warna yang mengandalkan cat cukup riskan dan rentan. Musuh utama cat tembok adalah jamur dinding yang akan membuat kusam bangunan. Demikian juga partikel debu tranportasi lambat laun akan mengotori dinding bangunan. Akibatnya, bangunan berlantai banyak tadi setiap tahun memerlukan pemeliharaan. Alat-alat pembeliharaan bangunan menghiasi bangunan tiap tahun dan desain pun menjadi hilang.

Nah, jika ingin warna awet gunakanlah warna asli bahan atau material. Namun, perlu kecerdasan memilih warna material sebelum terpasang. Kombinasi warna yang tepat menghasilkan nilai desain yang bermutu, meskipun bentuk sederhana.

Sebuah bangunan multi fungsi di London, hasil karya Renzo Piano , merupakan contoh bangunan yang berhasil mengkombinasi warna dengan tepat sesuai keadaan lingkungan sekitarnya. Proyek ini dimulai tahun 2010 yang lalu.

stringio

Konsep yang dipersiapkan untuk lokasi untuk mentransformasikan sebuah bangunan tunggal yang berfungsi campuran seperti perkantoran, retail, restaurant dan hunian dan mengintegrasikannya dengan area sekitar.
Arsitek memilih situasi sekitar bangunan sebuah courtyard yang berada di tengah site, yang terhubung dengan akses publik dan lantai bawah public menuju jalan dan ruang sekelilingnya.

stringio situation of site

Kunci elemen dari pola yang ada ini adalah memperkenalkan aktivitas di dalam area ini, menyediakan fungsi campuran seperti retail, restauran perumahan yang berlangsung siang dan malam, serta membuat sebuah pengelolaan yang tepat dan kontrol lingkungan yang sesuai dengan pendekatan urban design berkaitan dengan unit retail, space dan jalur pedestrian.

stringio pedestrian

stringio pedestrian 2
Tiap sisi bangunan unik, berbeda ketinggian, orientasi, warna dan hubungan cahaya alamiah. Kaca, besi dan keramik merupakan elemen utama kulit bangunan. Tiap bidang keramik menggunakan posisi dan warna yang berbeda untuk merespon sekeliling bangunan.

stringio detil

Courtyard di tengah bangunan ini sangat mendukung aktivitas pengguna

stringio courtyard concept

Perhatikan coretan konsep arsitek. Bangunan sengaja dibuat berbeda pada masing-masing segmen, baik bentuk, warna maupun bahan.

stringio sketsa 2

stringio sketsa 1

Sumber : www.archdaily.com

Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

Rupa-rupanya seiring pergantian generasi arsitek juga diiringi perubahan cara design. Model digital grafis saat ini yang makin membumi menjadi bumerang yang tidak terelakkan bagi calon arsitek sekarang ini. Dulu, para pelopor arsitek nusantara harus berjuang keras untuk bisa mewujudkan imaginasinya ke dalam media grafis agar gambar bisa dimengerti oleh semua orang. Berbagai sudut pandang diolah, direndring memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menghasilkan gambar yang sempurna.
Teknik gambar perspektif man eyes view, bird eye’s view, vermes eye’s view, perspektif 1 titik hilang, 2 titik hilang, axonometri, menjadi makanan pokok arsitek dulu. Tangan mereka menjadi saksi bisu. Tangan mereka terlatih bertahun-tahun di masa kuliah. Tangan mereka bergerak secara reflex seakan ada instrument otomatis yang mengatur proses grafis. Hasilnya, sangat memuaskan. Dahulu, mereka tidak mengenal komputer, bahkan belum mengenal mesin gambar. Jadilah mereka arsitek mumpuni dan dikenal wujud nyata karyanya.
Kemudian, beralihlah nuansa jaman. Industrialisasi juga turut andil menghasilkan alat mekanik gambar, untuk memudahkan para arsitek memproduksi karya grafis. Saat itu merupakan peralihan gradual dari free hand ke sistem mekanik. Maksudnya mesin gambar telah mengurangi beban tangan mereka dari kelelahan. Jadilah keterpaduan yang harmonis antara intuisi free hand nya dengan kemudahan yang ada pada mesin gambar. Para arsitek saat itu mengerahkan imaginasinya di hadapan meja gambar yang lengkap dengan mesin gambar bermerk seperti mutoch, plan master, bofa, tracker, dll.
Bagaimana dengan calon arsitek “next generation”?
Semuanya telah berubah, banyak yang bergeser. Mesin gambar no way, sudah jadul. Bagaimana dengan free hand? Masih berlaku, tetapi berubah wujud. Kalau dulu free hand itu kaitan antara tangan dan pena, sekarang antara tangan dan mouse. Jujur saja, calon arsitek sekarang jika diminta menggambar dengan pena akan glagapan, seperti orang baru belajar gambar, tetapi kalau disuruh menggambar di komputer seperti pakar arsitek kenamaan. Meskipun tidak semua begitu, tetapi mayoritas yang dirasakan para dosen arsitektur mahasiswa mereka seperti tidak bisa menggambar jika tanpa komputer.
Gambaran miris wajah calon arsitek “next generation”. Mereka seperti terjebak dengan obsesi teknologi grafis tetapi melupakan potensi diri. Sesungguhnya bakat sebagai potensi diri arsitek diwarnai kemampuan free hand yang asli. Komputer dengan aplikasi dan softwarenya hanyalah media untuk mempermudah produksi design dan bukan inti penentu design.
Kita tidak bisa juga menutup diri dari kemajuan software design grafis, namun jangan sampai melupakan hak mendasar arsitek dalam merancang adalah kemampuan freehand yang diiringi dengan nalar ilmu design.
Selamat merenungkan..

Arsitek Termalis

Judul artikel ini untuk mensifati sisi lain dari para arsitek. Kebanyakan khalayak memandang arsitek adalah profesi yang bergengsi, pakar bangunan, jago rancangan, dan beberapa jargon lainnya yang melekat. Pada alur lain arsitek ternyata juga memperhatikan pelajaran dari alam yang penuh dengan sumber inspirasi. Meskipun hanya sedikit yang berminat ke arah jalur ini. Salah satu topik pelajaran alam adalah aspek klimatologi. Iklim, suhu, udara, angin, merupakan aspek kehidupan yang telah berjalan dengan sendirinya tanpa diatur oleh manusia tetapi dikendalikan langsung oleh Penciptanya yaitu Allah Ta’alaa. Adanya atau tanpa adanya arsitek aspek klimatologi tetap berjalan dengan tatanan yang sudah ditetapkan.

Di masa lalu, suasana termal cukup menyenangkan. Udara yang dihirup cukup segar dan menyehatkan pernafasan. Berbeda jauh sekali dengan suasana sekarang, semakin meningkat penyakit pernafasan, semakin banyak manusia kepanasan. Dampaknya adalah muncul upaya beradaptasi dengan bantuan kecanggihan intelektual manusia. Jika udara panas solusinya pasang AC atau pasang kipas angin. Sebenarnya jika mau sedikit bersabar diluar sana terdapat solusi alamiah, hembusan angin masih berlimpah. Namun, sifat ketidaksabaran manusia terhadap udara panas didukung oleh teknologi pengkondisian udara.

Di ruang manakah yang panas? Tentu jawabnya di dalam bangunan. Di luar bangunan pun sebetulnya juga panas, tetapi masih banyak pohon pelindung dan angin berhembus sehingga efek udara panas diminimalisir oleh kedua faktor tersebut. Sangat disesalkan kondisi sekarang pepohonan pun semakin berkurang, ruang terbuka hijau semakin terdesak pembangunan, angin pun terhalang produk arsitektural yang menjulang. Ruang dalam dan ruang luar sekarang sudah semakin panas. Solusi instan sudah tampak di hadapan kita. AC, AC, AC ! Instan, cepat, praktis, murah, mudah didapatkan. Tidak usah terlalu muluk-2, tidak perlu pusing memikirkan solusi udara panas. Kata “mereka” time is money, buat apa habiskan waktu merancang bangunan agar sejuk di dalamnya kalau toh kondisi iklimnya sudah panas? Kata “mereka” lagi, udara panas akibat global warming, urusannya mendunia, kita tidak bisa mencarikan solusinya, berat!. Mendingan sibukkan dengan permainan bidang, tampilkan gaya arsitektur kekinian, puas dipandang mata, klien puas, anda senang dapat $$$ Rp. Natural? No way, no comment…

Continue reading “Arsitek Termalis”