Warna Berpengaruh Besar Pada Eksistensi Design Di Tengah Konfigurasi Ruang Kota

Desain dipengaruhi oleh bermacam model bentuk, tekstur, jenis bahan dan warna. Semuanya memiliki peran membentuk karakter desain. Ada bentuk yang sederhana menjadi menarik karena ketepatan memilih warna. Untuk bangunan berlantai banyak, warna yang mengandalkan cat cukup riskan dan rentan. Musuh utama cat tembok adalah jamur dinding yang akan membuat kusam bangunan. Demikian juga partikel debu tranportasi lambat laun akan mengotori dinding bangunan. Akibatnya, bangunan berlantai banyak tadi setiap tahun memerlukan pemeliharaan. Alat-alat pembeliharaan bangunan menghiasi bangunan tiap tahun dan desain pun menjadi hilang.

Nah, jika ingin warna awet gunakanlah warna asli bahan atau material. Namun, perlu kecerdasan memilih warna material sebelum terpasang. Kombinasi warna yang tepat menghasilkan nilai desain yang bermutu, meskipun bentuk sederhana.

Sebuah bangunan multi fungsi di London, hasil karya Renzo Piano , merupakan contoh bangunan yang berhasil mengkombinasi warna dengan tepat sesuai keadaan lingkungan sekitarnya. Proyek ini dimulai tahun 2010 yang lalu.

stringio

Konsep yang dipersiapkan untuk lokasi untuk mentransformasikan sebuah bangunan tunggal yang berfungsi campuran seperti perkantoran, retail, restaurant dan hunian dan mengintegrasikannya dengan area sekitar.
Arsitek memilih situasi sekitar bangunan sebuah courtyard yang berada di tengah site, yang terhubung dengan akses publik dan lantai bawah public menuju jalan dan ruang sekelilingnya.

stringio situation of site

Kunci elemen dari pola yang ada ini adalah memperkenalkan aktivitas di dalam area ini, menyediakan fungsi campuran seperti retail, restauran perumahan yang berlangsung siang dan malam, serta membuat sebuah pengelolaan yang tepat dan kontrol lingkungan yang sesuai dengan pendekatan urban design berkaitan dengan unit retail, space dan jalur pedestrian.

stringio pedestrian

stringio pedestrian 2
Tiap sisi bangunan unik, berbeda ketinggian, orientasi, warna dan hubungan cahaya alamiah. Kaca, besi dan keramik merupakan elemen utama kulit bangunan. Tiap bidang keramik menggunakan posisi dan warna yang berbeda untuk merespon sekeliling bangunan.

stringio detil

Courtyard di tengah bangunan ini sangat mendukung aktivitas pengguna

stringio courtyard concept

Perhatikan coretan konsep arsitek. Bangunan sengaja dibuat berbeda pada masing-masing segmen, baik bentuk, warna maupun bahan.

stringio sketsa 2

stringio sketsa 1

Sumber : www.archdaily.com

One Airport Square di Ghana (2015)

One Airport Square adalah bangunan multifungsi di kawasan airport di Ghana yang dirancang olehKarya Mario Cucinella Bandara Di Ghana Mario Cucinella dari Italia. Pekerjaan ini ditangani oleh team work dari berbagai disiplin ilmu.
Memiliki area komersial yang terletak di ground floor dan di dalam blok 10 lantai. Jika dilihat dari arah gurun tampak sekali bangunan ini sangat kontras dengan keadaan lingkungan perkotaan. Total luasnya 17.000 m2. Elemen estetik dan design terinspirasi seni tradisional lokal dan bentuk dari daun pohon palm/kurma sekitarnya, sebagai respon kedekatan dengan lingkungan dan menjadi solusi problem iklim.

Selimut bangunan merupakan elemen penentu yang memperlihatkan keterpaduan antara bentuk, struktur dan lingkungan. Bangunan adalah bentuk yang kompak, terdiri dari sebuah hall yang cukup luas berfungsi sebagai penyediaan pencahayaan dan ventilasi alamiah di dalam ruangan.
Bangunan juga terdiri dari struktur beton masif, dengan tiang yang riqid, sekaligus sebagai unsur dekorasi.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana elemen bangunan

One airport square ini merupakan bangunan pertama di Ghana yang menerima penghargaan bintang 4 dalam bidang design oleh Building Council of South Africa (GBCSA).
Seluruh elemen pada bangunan ini bertujuan menjadi design yang terpadu, menyeimbangkan antara arsitektural dan pertimbangan teknis dalam kaitannya dengan bangunan hemat energi dan mengoptimalkan pencahayaan alamiah. Teknologi termodern telah disesuaikan dengan keadaan tradisi lokal, menjadikang design sangat efisien. Semuanya itu menimbulkan ide baru tentang keindahan bahwa ekologi adalah keindahan.

Perhatikanlah gambar arsitektur di bawah ini

Bentuk denah tampak sangat organik dan tidak simetris, tetapi masalah struktur konstruksi dapat terselesaikan dengan baik. Bentuk seperti ini merupakan hasil dari proses design yang cukup panjang. Dari gambar potongan di samping ini, ada perbedaan kontras antara bagian depan bangunan dan dengan bagian belakannya. Bagian belakang seperti standar bangunan biasa untuk bangunan bertingkat, namun bagian depan memiliki tampilan yang agak berbeda. Gambar axonometri ini menjelaskan bagaimana bangungan ini memiliki nilai penting dari aspek fisika bangunan yaitu terkait dengan pencahayaan dan penghawaan alami yang masuk melalui atrium bangunan.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana denah

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana tampak

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana sistem ventilasi

Calon Arsitek “Next Generation” Yang Melupakan Free Hand In Design

Rupa-rupanya seiring pergantian generasi arsitek juga diiringi perubahan cara design. Model digital grafis saat ini yang makin membumi menjadi bumerang yang tidak terelakkan bagi calon arsitek sekarang ini. Dulu, para pelopor arsitek nusantara harus berjuang keras untuk bisa mewujudkan imaginasinya ke dalam media grafis agar gambar bisa dimengerti oleh semua orang. Berbagai sudut pandang diolah, direndring memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menghasilkan gambar yang sempurna.
Teknik gambar perspektif man eyes view, bird eye’s view, vermes eye’s view, perspektif 1 titik hilang, 2 titik hilang, axonometri, menjadi makanan pokok arsitek dulu. Tangan mereka menjadi saksi bisu. Tangan mereka terlatih bertahun-tahun di masa kuliah. Tangan mereka bergerak secara reflex seakan ada instrument otomatis yang mengatur proses grafis. Hasilnya, sangat memuaskan. Dahulu, mereka tidak mengenal komputer, bahkan belum mengenal mesin gambar. Jadilah mereka arsitek mumpuni dan dikenal wujud nyata karyanya.
Kemudian, beralihlah nuansa jaman. Industrialisasi juga turut andil menghasilkan alat mekanik gambar, untuk memudahkan para arsitek memproduksi karya grafis. Saat itu merupakan peralihan gradual dari free hand ke sistem mekanik. Maksudnya mesin gambar telah mengurangi beban tangan mereka dari kelelahan. Jadilah keterpaduan yang harmonis antara intuisi free hand nya dengan kemudahan yang ada pada mesin gambar. Para arsitek saat itu mengerahkan imaginasinya di hadapan meja gambar yang lengkap dengan mesin gambar bermerk seperti mutoch, plan master, bofa, tracker, dll.
Bagaimana dengan calon arsitek “next generation”?
Semuanya telah berubah, banyak yang bergeser. Mesin gambar no way, sudah jadul. Bagaimana dengan free hand? Masih berlaku, tetapi berubah wujud. Kalau dulu free hand itu kaitan antara tangan dan pena, sekarang antara tangan dan mouse. Jujur saja, calon arsitek sekarang jika diminta menggambar dengan pena akan glagapan, seperti orang baru belajar gambar, tetapi kalau disuruh menggambar di komputer seperti pakar arsitek kenamaan. Meskipun tidak semua begitu, tetapi mayoritas yang dirasakan para dosen arsitektur mahasiswa mereka seperti tidak bisa menggambar jika tanpa komputer.
Gambaran miris wajah calon arsitek “next generation”. Mereka seperti terjebak dengan obsesi teknologi grafis tetapi melupakan potensi diri. Sesungguhnya bakat sebagai potensi diri arsitek diwarnai kemampuan free hand yang asli. Komputer dengan aplikasi dan softwarenya hanyalah media untuk mempermudah produksi design dan bukan inti penentu design.
Kita tidak bisa juga menutup diri dari kemajuan software design grafis, namun jangan sampai melupakan hak mendasar arsitek dalam merancang adalah kemampuan freehand yang diiringi dengan nalar ilmu design.
Selamat merenungkan..

Menguasai Hal Detail, Menjadikan Arsitek Makin Mumpuni

 

Dalam sebuah majalah tentang bangunan (saya lupa namanya), di Jakarta ada seorang arsitek yang unik. Dia bekerja tidak sekedar menjadi tukang gambar, tetapi juga benar-benar merancang bangunan dengan penuh kejelian. Bahkan, lebih dari itu dia pun sekaligus berperang sebagai pelaksana pembangunan.

Beberapa karya telah dia hasilkan. Setelah membaca majalah tersebut, saya terus memikirkan keunikan arsitek tadi. Apa uniknya?

Mungkin profesi seperti dia ini sangat langka. Klien yang ingin order rancang bangun harus bersabar dengannya, karena agak lama dalam penyelesaian produk gambar dan pelaksanaan pembangunan. Hal ini sudah dia nyatakan dengan jelas kepada klien. Ternyata, klien tetap saja membutuhkan keahlian arsitek ini. Diantara perkara detil yang dimaksud : skoneng dari kusen, alur air pada dinding, sudut siku pertemuan bidang (bahasa Banjar : benangan), nat keramik, sistem perpipaan, dll.

Keberhasilan dalam menyelesaikan perkara detil telah menjadikan arsitek ini semakin mumpuni wawasan dan pengalamannya. Klien pun puas dengan hasil kerjanya.

Bagaimana dengan anda wahai calon arsitek? Sudahkan siap dengan unsur detil?

Tentu, harus bisa. Semasa kuliah mahasiswa arsitek sudah digembleng dengan unsur detil. Di semester awal sudah diminta membuat garis lurus vertikal dan horizontal yang harus sejajar satu sama lain, tanpa bantuan penggaris. Kehati-hatian dalam urusan detil pada tugas kuliah membawa tradisi yang bagus pada praktek arsitek di dunia nyata.

Emergency Exit, Bagian Dari Design yang Tidak Boleh Diabaikan

Emergency exit (EE) atau jalur evakuasi penyelamatan manusia dari bahaya sangat penting diperhatikan dalam prtangga emergency 1oses desain. Desain tidak hanya sebatas pada bangunan saja melainkan juga meliputi kawasan yang luas, seperti kawasan wisata, kawasan permukiman dan lain-lain.
Pada bangunan bertingkat, EE biasanya berada pada core bangunan. Jika terjadi kebakaran penghuni bangunan harus bisa mencapai core tersebut dengan mudah. Pengguna bangunan harus mengetahui ke mana harus bergerak cepat agar selamat dari bahaya kebakaran tadi. Demikian juga di kawasan tertentu yang diperuntukkan untuk publik, saat kondisi emergency pengunjung kawasan harus memiliki pengetahuan tentang jalur evakuasi.
Tragedi di Mina yang baru saja terjadi yang telah menewaskan 700 lebih jama’ah haji yang ingin melaksanakan proses melempar jumrah, merupakan contoh betapa berbahayanya keadaan yang ada. Meninggalnya jama’ah tersebut karena terinjak-injak oleh sekian banyak jama’ah lainnya. Mereka berada di sebuah jalur sirkulasi yang padat menuju titik yang sama. Pemicunya, diantara mereka ada yang berhenti sehingga menimbulkan tumbukan dari jama’ah belakangnya yang terus bergerak maju, sehingga terjadilah aksi saling berdesakan. Keadaan diperparah dengan adanya sekelompok jama’ah yang berjalan berbalik arah. Dalam keadaan ini, mereka yang lemah secara fisik akan menjadi korban. Meskipun kecepatan berjalan tidak seperti kendaraan, tetapi karena ribuan orang berjalan bersamaan menghasilkan tumbukan yang luar biasa, seakan tidak bisa dihentikan gerakannya. Banyak masalah yang melatarbelakangi kejadian Mina tersebut. Namun, secara arsitektural ini termasuk problem sirkulasi.
Sirkulasi terbagi dua, yaitu searah dan berlawanan arah. Pada sirkulasi kendaraan, model sirkulasi berlawanan arah lebih rawan terjadi kecelakaan dibandingkan sirkulasi searah. Pada sirkulasi searah, yang menubruk adalah kendaraan yang di belakang. Demikian juga pada jalur pejalan kaki, yang menubruk adalah pejalan kaki yang di belakang. Biasanya pada jalur sirkulasi yang panjang ditempatkan zona istirahat, sehingga arus kendaraan atau pejalan kaki tidak terganggu. Zona istirahat ini dapat difungsikan sekaligus sebagai jalur EE. Zona EE ini dapat dipermisalkan dari sebuah tangga. Sesuai standar, setelah menaiki 11 anak tangga diperlukan area istirahat yang disebut bordes, kemudian lanjut lagi naik hingga anak tangga ke 22.
Jalur EE, sesuai standar keselamatan, harus terpisah dengan jalur umum. EE ini menyangkut nyawa manusia. Fisik orang yang celaka harus segera mendapatkan pertolongan. Pada rumah sederhana sekalipun, pintu akses keluar mestinya ada dua buah. Tidak cukup hanya satu buah pintu yang ada di depan saja, tetapi bagian belakangpun harus tersedia. Gunanya, saat ada emergency mudah untuk menyelamatkan diri. Di setiap kamar hotel atau apartment, pintu penyelamatan pun tersedia dipinggir-2 bangunan. Bahkan, balkon kamar dapat dijadikan sebagai jalur EE.
koridor 3Bagian dari bangunan yang merupakan area sirkulasi dikenal dengan istilah selasar dan koridor. Selasar mirip teras, sedangkan koridor mirip lorong. Problem sirkulasi sering terjadi di koridor. Koridor yang terlalu sempit cukup berbahaya kalau terjadi kondisi keadaan darurat. Koridor banyak ditemukan pada hotel atau apartment. Bentuk hotel yang memanjang, koridornya pun panjang. Kalau koridor yang panjang tidak disediakan area EE akan membahayakan pengguna bangunan jika ada keadaan darurat. Terlebih lagi koridor panjang dan sempit, para pengguna bangunan dalam keadaan darurat harus berdesakan dan berebut untuk selamat. Bisa jadi diantara mereka jatuh, pingsan dan kemudian tewas terinjak-injak di koridor itu. Tewas bukan karena faktor darurat tetapi justru karena terinjak-injak. Ini adalah kondisi yang ironis.
Pada keadaan yang lain, sebagus apa pun bangunan atau kawasan yang dirancang, tetap saja terbuka peluang kejadian darurat. Arsitek yang benar, telah memikirkan EE sejak proses design ia lakukan. Nah, kondisi lainnya menyangkut keadaan darurat adalah pengguna bangunan atau kawasan tidak memperdulikan posisi EE. Padahal bangunan atau kawasan itu memiliki EE yang telah memenuhi standar design. Pengguna jalan tol harus memperhatikan rambu lalu lintas jalan tol. Mereka harus mengetahui di mana letak rest area. Terkadang pengendara diserang kantuk atau ada masalah dari kendaraannya. Jika pengguna jalan tol tidak memperhatikan hal tersebut, bisa jadi akan mengalami masalah di tengah jalan, tiba-tiba berhenti di jalur yang tidak boleh berhenti. Sementara pengendara lain merasa pada jalur yang ia lewati adalah jalur cepat. Tabrakan sangat sulit untuk dihindari.
selasarJadi, ada dua pelaku yang harus memperhatikan EE yaitu arsitek dan pengguna bangunan atau kawasan. Kalau arsitek tidak memperhatikan EE ini sangat keterlaluan, bahkan tidak bisa disebut arsitek. Adapun jika pengguna tidak memperhatikan EE masih bisa dimaklumi, karena banyak sebab seperti tingkat pendidikan rendah, tidak faham, tidak peduli, kurang sosialisasi atau penjelasan tentang bangunan atau kawasan.
Seperti tragedi Mina, ada beberapa jama’ah Indonesia yang menjadi korban. Padahal, jalur yang dilewati bukan jalur yang digunakan jama’ah haji Indonesia. Petugas haji Indonesia terus mengingatkan jama’ah untuk mengikuti himbauan petugas. Termasuk waktu-waktu pelaksanaan lempar jumrah yang relatif aman. Ini adalah upaya sosialisasi. Adanya jama’ah haji Indonesia yang terikut ke jalur yang menjadi Tragedi Mina, disebabkan mereka tersesat atau terpisah dari rombongan jama’ah Indonesia.

Bencana Asap, Tantangan Baru Bagi Para Arsitek

Sebenarnya telah lama kita diserang oleh asap. Bencana asap telah menjadi menu rutin tahunan, saat musim kemarau tiba. Sorotan tajam pemberitaan media saat itu selalu mengarah ke 2 pulau Kalimantan dan Sumatera. Apa sebabnya? Dari 2 pulau inilah terdeteksi ribuan titik api. Akibat terbakarnya lahan, baik hutan maupun lahan rawa gambut. Jika sekedar pepohonan yang terbakar, setelah batang menjadi arang asap pun hilang. Namun, jika lawan rawa gambut yang terbakar, asap bertahan hingga waktu yang lama.

Tahun 2015 ini bencana asap datang kembali. Sebelum bencana asap ini muncul, beberapa ciri sudah terdeteksi seperti gelombang udara panas yang melanda Pakistan, India, Banglades, dan sebagian negara Timur Tengah, El Nino. Setelah itu berlanjut pada peningkatan suhu udara, kelembaban semakin turun, udara kering meningkat. BMKG pun telah menyampaikan informasi durasi panas tahun ini bakal lebih lama menimpa Indonesia. Informasi demi informasi telah disampaikan, termasuk himbauan untuk berhemat air. Selanjutnya muncul titik pas di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Dari hari ke hari titik panas ini semakin bertambah hingga mencapai angkar ribuan hotspot. Beberapa hutan terbakar, lahan pertanian terbakar, hutan galam terbakar, lahan gambut terbakar. Kebakaran demi kebakaran hutan dan rawa ini semakin tidak terkendali karena pengaruh el nino yang telah mengeringkan udara. Sampailah giliran berikutnya, asap mengepul di area hotspot, kemudian menyebar ke segala penjuru sesuai hembusan angin yang membawanya. Akumulasi asap pun tidak terkendali hingga merata di seluruh ruang udara kota-kota di Kalimantan dan Sumatera.

Rasa was-was bahaya asap menghantui masyarakat. Penyakit ISPA menjadi top trending di Kalimantan dan Sumatera. Ribuan orang telah terkena ISPA. Rumah sakit bahkan tidak sanggup menampung mereka karena melebih kapasitas yang tersedia. Sepertinya ISPA ini sepele, karena tidak ada data signifikan yang menunjukkan kematian akibat ISPA. Tetapi, penyakit pernafasan ini dapat membunuh manusia secara perlahan. Mulai dari batuk, hingga menjadi penyakit paru (TBC). Jika asap pekat terhirup, sama artinya menghirup zat beracun seperti CO ke dalam pernafasan, dan bahkan menyebabkan perut mual, muntah dan kepala pusing.

Asap telah menjadi bencana nasional tahunan. Bencana yang terus berulang. Ini menjadi tantangan baru bagi para arsitek. Bagaimana merencana dan merancang lingkungan binaan yang sehat? Ini menjadi pertanyaan bagi para arsitek. Variabel terbaru yang harus masuk ke dalam proses perencanaan dan perancangan adalah bencana asap. Asap bukan bagian dari iklim. Tetapi asap merupakan partikel yang mengisi udara menjadi udara yang tidak sehat. Mungkin ada saja yang nyeletuk:

“ngapaian asap diurusi dalam rancangan arsitektur? Toh nanti hilang juga saat musim hujan tiba”

Pernyataan ini perlu kita tanggapi. Prolog dari tulisan ini telah menyebutkan bahwa asap adalah musibah yang terus berulang-ulang mengiringi musim kemarau. Berarti pola kemunculannya mirip dengan munculnya musim panas dan musim hujan. Sama seperti banjir tahunan yang melanda Jakarta, toh nanti akan hilang kalau musim panas tiba. Tetapi banjir terus ada tiap musim hujan. Apakah tidak perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan perancangan? Nah, demikian juga dengan musibah asap karena terus berulang-ulang, maka harus dipertimbangkan.

Di Jepang misalnya, karena gempa terus berulang menggoyang negaranya, maka muncullah karya arsitek bangunan tahan gempa dan mereka (Jepang) benar-benar mewujudkannya. Maka, tidak lah salah jika arsitek Indonesia membuat karya bangunan tahan asap. Bagaimana maksudnya bangunan tahan asap? Inilah tantangannya. Mari kita berpikir mulai dari lingkup mikro. Di saat musim asap melanda ruang kota, khususnya kota-kota yang selalu menerima dampak asap, penghuni rumah menutup lubang udara (ventilasi) dengan berbagai bahan agar asap tidak masuk ke dalam rumah. Upaya ini agak merepotkan, tetapi harus dilakukan. Kalau keluar rumah harus pakai masker, demikian juga rumah kita juga harus memiliki masker pelindung asap. Masker bagi manusia menutup lubang pernafasan yaitu hidung dan mulut. Demikian juga rumah, memiliki lubang udara ibarat lubang pernafasan yang harus diberi masker. Sangat lucu jika penghuni rumah terus menerus pakai masker di dalam rumahnya. Berarti lubang udara (biasanya disebut ventilasi) menjadi vital perannya. Disinilah mestinya para arsitek memikirkan bagaimana ventilasi dapat memiliki fungsi yang optimal, sebagai lubang udara, lubang cahaya dan penangkal masuknya zat/gas di udara yang merusak kesehatan penghuninya.

“daripada repot, mendingan pasang AC saja”

Tampaknya pernyataan itu sangat gampang bagi yang berduit. Bagaimana dengan mereka yang secara ekonomi terbatas? Namun terlepas dari kaya atau miskin, AC saat ini masih tercatat sebagai perangkat elektrik yang boros listrik. Hasil penelitian menunjukkan 40% energi digunakan untuk AC. Rumah yang paling boros energy adalah rumah yang ber AC. Semakin dingin suhu ruang yang diinginkan semakin boros energy yang dikeluarkan. 2 derajat saja suhu AC diturunkan energy semakin besar harus dikeluarkan. Tentunya listrik semakin boros. Sesuai dengan fungsinya AC adalah perangkat untuk mengkondisikan suhu udara, bukan menstabilkan asap. Sistem AC bekerja mengolah udara dari luar kemudian memasukan hasil udara olahan yang lebih sehat dan nyaman ke dalam ruangan. Pertanyaannya : udara mana yang akan diolah AC?

Kondisi asap dapat juga dikurangi oleh pepohonan yang ada di sekitar rumah. Perlu kecerdasan memilih jenis pohon yang tepat untuk ditanam. Semakin beragam vegetasi makin bagus untuk iklim mikro sekitar rumah termasuk mengurangi dampat efek asap. Arsitek telah memiliki ilmu dalam perencanaan lanskap.

Selamat berkarya

Fungsi dan Kenyamanan Ruang Sebagai Faktor Utama Arsitektur

“rumah ini terasa panas karena tidak ada udara mengalir. Mestinya ada ventilasi di atas sana dan dinding seberangnya juga ada. Terlebih lagi rumah ini menghadap Barat….dst”

Itulah beberapa kalimat yang saya dengar langsung dari seorang ustadz yang kebetulan menginap di salah satu rumah kawan yang sengaja mengosongkan anggota keluarganya agar sang ustadz bisa istirahat. Ustadz tadi memang sengaja diundang untuk mengisi kajian Islam atau muhadharah. Beliau datang jauh dari luar pulau sana. Kebanyakan para ustadz tidak suka menginap di hotel atau penginapan dan lebih suka jika istirahat di ma’had atau pondok pesantren atau rumah biasa.

Kembali ke beberapa kalimat di atas tadi…

Saat beliau berbicara saya ada di hadapannya. Mungkin ustadz tadi tidak tau atau mungkin juga lupa kalau saya seorang arsitek. Bisa jadi seperti itu,… beliau tidak menyadari. Kalau pun sadar setidaknya akan melontarkan kalimat untuk mendapatkan dukungan dari saya. Tetapi saat itu tidak ada kalimat minta dukungan. Nggak masalah… saat itu saya cukup salut, seorang ustadz faham dengan masalah fisika bangunan yang terkait dengan masalah termal. Beliau juga faham bagaimana aliran udara bekerja yang dalam bahasa arsitek disebut cross ventilation atau ventilasi silang. Saya hanya bisa berkata di dalam hati, ustadz tersebut pintar dan perhatian terhadap kenyamanan ruang.

Saya mengenal beliau ini bukan sekali itu saja, sudah sering ketemu. Beliau seorang ustadz senior yang sarat dengan ilmu agama. Kegiatan beliau begitu padat, baik di pondok pesantren yang dikelola maupun harus memenuhi permintaan menjadi pembicara di berbagai daerah di Indonesia hingga negeri tetangga kita Malaysia dan Singapura. Jadwal padat, undangan banyak, masih perhatian dengan masalah kenyamanan ruang.

Kalimat beliau di atas tadi termasuk kritik arsitektur. Ini menjadi pesan bagi para arsitek. Penting untuk memperhatikan masalah kenyamanan ruang. Bagi saya, bangunan tidak penting berbentuk “wah” tetapi yang penting bagaimana bangunan itu berdiri dan digunakan hingga penggunanya merasa nyaman.

Perhatikan juga kalimat di bawah ini dalam konteks lain :

 “…yang membuat saya tidak tertarik adalah bentuk denah rumahnya terlalu sempit dan makin ke belakang makin sempit …”

Kalimat tersebut terlontar dari salah satu family saya yang awam tentang ilmu bangunan. Dia ingin membeli sebuah rumah di Kota Banjarbaru. Berawal membaca info rumah di jual di situs OLX.com kemudian langsung COD ke alamat rumah untuk survey langsung. Setelah melihat langsung keadaannya akhirnya terlontarlah kalimat di atas tadi. Apa maknanya dari sisi ilmu arsitektur?

Ruang sempit berdampak ketidaknyamanan karena terganggunya sirkulasi penghuni rumah. Padahal sirkulasi bagian penting pembentuk kenyamanan ruang. Merancang tidak bisa asal-asalan, perlu kejelian, penuh dengan intuisi yang visioner. Maksudnya, mampu memikirkan dampak dari bentuk desain kepada pengguna bangunan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Seorang klien pernah minta dirancangkan rumahnya, berikut kalimat yang saya ingat :

“… yang penting rumahku nyaman dan ruang keluarganya luas menjadi pusat ruang lain …”

Seorang arsitek harus mampu memahami dan menterjemahkan maksud dari kalimat klien tersebut. Jangan terlalu banyak bertanya-tanya kepadanya karena bisa jadi dia batal menggunakan jasa disain. Apa kira-kira konteksnya bagi arsitek? Tidak lain konteksnya menyangkut fungsi ruang agar penghuninya merasa nyaman. Sekali lagi ini penting menjadi faktor utama dalam desain … FUNGSI ….

Sampai Kapan Atap Beton Mampu Bertahan Melawan Alam Tropis?

 foto diatas, saya ambil dari salah satu rumah sakit di salahsatu kota di Propinsi Kalsel, pada tanggal 8 Agustus 2015. Kondisi atap beton yang seperti ini sering saya dapati di beragam tipe bangunan. Tiap kali saya melihat, terus terpikir, dan bertanya : seperti ini kah jadinya jika bangunan tidak sesuai kondisi iklim?

Alam tropis atau istilah lain iklim tropis merupakan nama yang menggambarkan bagaimana kondisi iklim pada daerah tertentu di muka bumi. Memiliki dua musim yaitu kemarau dan musim hujan. Sepanjang tahun dua musim ini bergantian menghiasi alam tropis. Udara panasnya disertai dengan kelembaban tinggi, saat hujan pun disertai angin yang kuat.

Generasi terdahulu, jaman nenek moyang dulu hidup dengan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap alam. Banyak pola yang mereka terapkan mengacu kepada perilaku dan model adopsi dari alam. Berbeda jauh keadaannya dengan kondisi modern sekarang. Adaptasi terhadap alam hampir dikesampingkan, yang dominan adalah bagaimana alam menyesuaikan dengan kebutuhan manusia. Istilah lainnya cuek dengan kondisi alam.

Generasi masa lalu memiliki satu prototip rumah yang mirip konsepnya meskipun daerahnya berbeda-beda. Konsep yang dimaksud sebegai bentuk adaptasi terhadap kondisi dua musim. Atap miring dan tritisan lebar. Dua bukti yang nyata pada rumah tradisional nusantara. Atap miring berfungsi mengalirkan air hujan dengan segera ke tanah. Atap tidak perlu berlama-lama menahan air hujan yang berlimpah dari langit. Segera disalurkan ke tanah, karena di tanahlah yang sangat membutuhkan air untuk kelangsungan kehidupan tanaman dan hewan. Tritisan lebar sebagai perisai dinding, agar tidak terkena air hujan dan juga agar tidak terpapar radiasi sinar matahari menyengat di musim kemarau. Tritisan yang lebar menghasilkan bayangan, sebagaimana pohon yang rindang dapat memberikan peneduh bagi orang yang berada di bawahnya.

Lain masa lalu, lain lagi masa sekarang. Hasil dari sikap cuek terhadap alam tercermin dari bentuk bangunan. Atap miring berganti dengan atap datar, tritisan lebar berganti dengan tritisan sempit bahkan hampir tanpa tritisan. Mengapa demikian? Banyak faktor penyebabnya.

Era globalisasi merupakan zaman keterbukaan. Negeri satu akan melihat keadaan negeri lain. Budaya negeri bercampur baur dengan budaya luar negeri. Bentuk bangunan yang belum pernah dilihat di negerinya terasa lebih bagus daripada bentuk asli negerinya. Seperti pepatah; rumput tetangga terasa lebih hijau dari pada rumput di halaman sendiri. Sampai-sampai kuda peliharaannya memakan rumput tetangganya walaupun badannya di halaman sendiri. Masuknya bentuk bangunan luar ke Indonesia melalui banyak jalan, bisa dari buku, majalah, maupun foto hasil jepretan langsung di luar negeri. Dengan perilaku serba ingin meniru dari luar negeri inilah yang kemudian terwujud bangunan dengan beragam bentuk di Indonesia. Ada bentuk romawi, spanyol, eropa, caribean, kubisme, dll. Bentuk-bentuk yang secara alam berbeda dengan alam tropis. Bentuk bangunan 4 musim berbeda dengan bangunan di 2 musim.

Dukungan kemajuan material pun turut mendukung terwujudnya bangunan aneh di Indonesia. Salah satu yang membuat heran adalah makin banyaknya bangunan dengan atap beton datar. Padahal Indonesia adalah negara beriklim tropis. Lantas, apakah mereka sadar bahwa terpaan hujan yang terus menerus akan mempengaruhi kualitas atap beton? Sementara pelajaran orang-orang terdahulu mengisyarakat air hujan agar segera turun ke tanah, sedangkan orang sekarang justru seperti ingin menahan air hujan agar nanti saja turun, biar bertahan dulu di atas? Apakah yang terjadi setelah lama waktu berlalu?

Sehebat apa pun beton yang diterapkan untuk atap, terpaan hujan terus menerus tetap akan merusaknya seiring dengan waktu. Mulai dari jamur tumbuh, sedikit demi sedikit. Lumut dan ganggang pun mulai menjadi warna penghias atap beton. Semula hanya bagian atas, lambat laut meresap dan masuk ke dalam bangunan. Munculah jamur di sebelah dalam sebagai penghias ruangan. Pemilik pun panik, bagaimana solusi menghilangkannya? Dicarilah cat anti jamur. Beberapa waktu setelah pengecatan, jamur kembali muncul di waktu lain. Akar permasalahannya bukan jamur yang muncul di dalam ruangan, tetapi bentuk atap beton datar yang seakan menantang alam.

Baru 1 poin masalah yaitu jamur. Masalah lain pun tidak kalah seriusnya. Atap datar ada saatnya berubah menjadi kolam di atas bangunan. Pipa penyalur air hujan dapat tersumbat karena berbagai sebab, entah buah yang dijatuhkan oleh burung atau kelelawar, atau kah kantongan plastik yang masuk ke dalam pipa atau kah tikus yang masuk dan terjebak di dalamnya. Jika sudah tersumbat otomatis air di atap tidak mengalir dan menjadi kolam.

Mengapa gedung MPR/DPR di Jakarta masih bertahan sampai sekarang? Padahal menggunakan atap beton. Coba perhatikan adakah bagian atap nya yang datar? Ada satu lagi yang mengherankan kita, Belanda yang cukup lama menjajah negeri kita, ternyata mereka tidak menerapkan model bangunan negeri asalnya. Justru yang kita saksikan bangunan yang disebut bangunan kolonial banyak didapati dengan bentuk tropis, atap miring dengan tritisan lebar. Kalau masuk ke dalamnya, plafond relatif tinggi, menjadikan volume ruang menjadi besar dan udara pun teras sejuk di dalamnya. Sekali lagi, heran. Belanda negara Eropah yang berada di negeri 4 musim, tetapi jika mereka di Indonesia, karya arsiteknya sesuai alam Indonesia.

CERDAS BUATAN MEMBAYANGI PENDIDIKAN ARSITEK

Dua istilah saling berlawanan alamiah dan buatan, merupakan 2 kutub yang menggambarkan saling bertolak belakang. Misalnya saja, hutan buatan dan hutan alamiah. Begitu membaca dua istilah ini persepsinya akan terbawa kepada keadaan yang saling bertolak belakang. Hutan buatan, merupakan kawasan yang sengaja direncanakan oleh manusia agar menjadi seperti hutan aslinya. Sementara, hutan alamiah, adalah hutan asli tanpa campur tangan manusia. Merupakan kawasan yang sudah diciptakan oleh Allah Maha Pencipta. Tidak ada yang mampu menyamai nya.

Demikian juga ada istilah hujan buatan, yang berbeda maknanya dengan hujan alamiah. Kayu buatan, batu buatan, dsb. Ada lagi istilah baru yaitu CERDAS BUATAN. Jika dikatakan sebagai sesuatu yang baru sebenarnya tidak, tetapi istilah ini baru saja muncul, karena potensinya saat ini sudah semakin nyata.

Cerdas buatan, tidak lain kemampuan dari peralatan yang dimiliki manusia yang fungsinya sengaja dirancang dapat menggantikan sebagian peran manusia. Telepon seluler (HP) tanpa disadari termasuk alat yang memiliki kecerdasan. Mampu menggatikan sebagian peran. Misalnya untuk menghitung, cukup menekan beberapa tombol sudah dapat menjawab hasil perhitungan. Untuk mengetahui suhu ruangan tidak perlu lagi mencari thermometer manual, cukup tekan beberapa tombol di telepon seluler sudah didapatkan hasilnya. Perlu lampu senter, lampu emergensi, alat konversi satuan, mencari dan melacak sesuatu, dll, dapat dilakukan di genggaman tangan manusia. Itulah mengapa kemudian diistilahkan dengan smartphone, telepon cerdas, yang tidak hanya sebagai alat komunikasi semata, tetapi juga sebagai alat hitung, alat konversi, alat analisa, alat deteksi, alat hiburan, alat edukasi, alat jual beli, dsb. Bahkan bisa saja pemilik HP kalah cerdas dibandingkan HP nya sendiri.

Komputer, mesin pintar dan robot juga alat yang memiliki kecerdasan buatan, yang perannya mampu menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Teknologi digital, teknologi komputerisasi, teknologi IT dan instrumentasi, bahasa-bahasa pemrograman telah menghasilkan sejumlah alat cerdas, yang dapat melebihi kecerdasan sebagian manusia.

Di dunia arsitektur, program AutoCAD yang dikenal kemampuannya untuk menggatikan meja gambar manual. Kecepatannya menghasilkan gambar pun jauh lebih tinggi dibandingkan gambar manual. Meja gambar dan alat gambar yang memakan ruang dan tempat, saat ini tinggal kenangan. Meja yang biasa dimiringkan untuk menggambar sekarang diratakan posisinya seperti meja biasa. Mesinnya ditinggalkan, dibuang dan ditimbang pemulung. AutoCAD telah merubah peradaban dunia grafis para arsitek. Kemudian berkembang lagi program 3DsMax, yang memungkinkan penyajian gambar 3 dimensi. Demikian juga SKETCH UP, software grafis yang cukup instan mampu menghasilkan gambar dengan cepat.

Melihat perkembangan sejumlah software grafis yang semakin canggih dan cerdas ini, seakan-akan telah menggatikan sebagian tugas para arsitek. Para arsitek yang dulunya telah berpikir keras bagaimana menggambar perspektif bangunan yang telah dirancangnya dalam 2 dimensi, sekarang tidak perlu lagi. Cukup menjalankan program, dalam waktu yang singkat dapat dihasilkan 3 dimensi bangunan atau perspektif bangunan yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Mau bird eyes view, man eyes view maupun vermes eyes view gampang diutak-atik, bahkan sudut pandang yang tidak ada namanya pun bisa diperlihatkan. Dulu para arsitek bekerja keras mencari kreatifitas rendring, dengan try and error. Harus melakukan uji coba berkali-kali agar design harmonis dengan kualitas rendringnya. Sekarang, alat digital telah menyediakan banyak contoh di gallery nya yang tidak diambil diaplikasikan pada gambar. Demikian juga perbendaharaan komponen penunjang design, seperti alat transportasi, jenis tanaman, jenis lampu, dll telah tersedia dengan beragam bentuk dan ukuran. Si-arsitek tidak pusing 7 keliling menguras imajinasinya.

Bagi para arsitek maupun mahasiswa arsitek, di abad ini telah dimudahkan design nya oleh alat yang cerdas. Sekali lagi bisa jadi alat atau software lebih CERDAS dibandingkan penggunanya. Pendidikan arsitek telah dibantu oleh alat yang cerdas dan juga sekaligus dibayangi oleh perkembangan alat cerdas. Kondisi ini pun mengingatkan kepada dunia anak. Anak masa lalu terus bereksperimen untuk menghasilkan sesuatu dari bahan dan alat yang sederhana. Mereka membuat mobil-mobilan dari sisa potongan kayu dan papan. Mereka menjadi bagian dari proses pembuatan. Setelah selesai mereka bermain dengan mobil-mobilan buatannya sendiri. Anak sekarang, tinggal membeli mobil-mobilan di toko mainan, dan langsung bermain. Mereka tidak terlibat di dalam proses pembuatan. Mana yang lebih bagus? Mana yang lebih cerdas?

Arsitek masa lalu penuh dengan eksperimen, try and error, menguras energinya untuk berkreatifitas, hingga menghasilkan karya. Mereka terlibat dalam proses menghasilkan sesuatu. Arsitek sekarang dihadapkan banyak pilihan, tetapi kecenderungannya memilih jalan pintas dan ringkas dengan alat cerdas digital dan sangat bergantung dengan software tersebut. Saat software tidak berfungsi karena terkena virus atau error atau listrik habis mereka pun seperti kehilangan energy untuk berkreatifitas. Seakan-akan ide dan gagasan kreatif juga mati tidak berfungsi. Padahal di saat itu mereka memiliki tangan untuk melakukan sketsa, memiliki penggaris untuk membantu menarik garis. Kondisi ini yang membayangi para arsitek masa kini. Mereka dibayangi oleh alat dengan kecerdasan yang semakin tinggi.

3 SISTEM KENYAMANAN RUANG

termometerRuangan yang nyaman di dalam bangunan menjadi sebab betahnya pengguna ruang di dalamnya. Satu keluarga betah di dalam rumahnya, karyawan betah bekerja di kantornya, para pelajar dan mahasiswa betah dalam belajarnya, para hobi baca betah berlama-lama di perpustakaannya, para pasien merasa betah opname di rumah sakitnya, dan masih banyak contoh lainnya. Implikasinya adalah meningkatnya produktivitas kerja karyawan-pegawai-pengajar-manager, meningkatnya kualitas pendidikan, kualitas hubungan keluarga, serta juga sangat membantu penyembuhan penyakit pasien di rumah sakit. Tentu ada aspek yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan ruangan yang nyaman.

Setidaknya ada 3 aspek yang mempengaruhi kenyamanan ruang, yaitu sistem kenyamanan termal, sistem akustik dan sistem pencahayaan. Sistem yang dimaksud disini adalah berjalannya fungsi beragam faktor untuk terwujudnya sesuatu. Pada sistem kenyamanan termal, ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi, diantaranya : 1] luas ruangan, 2] tinggi ruangan, 3] jenis material yang digunakan, 4] posisi jendela atau lubang angin, 5] lingkungan sekitarnya. Ke-5 faktor tersebut ini terkait satu sama lain. Demikian juga pada sistem akustik, juga ada beberapa faktor yang saling mempengaruhi, antara lain : 1] sumber bising, 2] jarak ke sumber bising, 3] material bangunan, 4] posisi bidang bangunan terhadap sumber bising serta 5] ruangan dalam bangunan yang berpotensi menimbulkan bising. Pada sistem pencahayaan, faktor yang mempengaruhi adalah 1] arah sumber cahaya, 2] ukuran jendela, 3] jenis cat ruangan, 4] jenis lampu yang digunakan, 5] keadaan lingkungan sekitar. Satu saja faktor tidalightmeterk mendukung mengakibatkan gagalnya sistem bangunan yang direncanakan.

Ketiga aspek yang telah dijabarkan di atas tadi memiliki penjelasan rinci. Para mahasiswa arsitektur mendapatkannya pada mata kuliah fisika bangunan dan mata kuliah lainnya yang berisi materi terkait. Telah menjadi tugas para arsitek untuk merancang bangunan yang bisa memberikan tingkat kenyamanan yang bagus kepada penggunanya. Oleh karenanya proses design bangunan yang ditangani oleh arsitek tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang tidak singkat. Perlu analisa dan sintesa tautan satu sama lain diantara aspek tadi. Continue reading “3 SISTEM KENYAMANAN RUANG”