One Airport Square di Ghana (2015)

One Airport Square adalah bangunan multifungsi di kawasan airport di Ghana yang dirancang olehKarya Mario Cucinella Bandara Di Ghana Mario Cucinella dari Italia. Pekerjaan ini ditangani oleh team work dari berbagai disiplin ilmu.
Memiliki area komersial yang terletak di ground floor dan di dalam blok 10 lantai. Jika dilihat dari arah gurun tampak sekali bangunan ini sangat kontras dengan keadaan lingkungan perkotaan. Total luasnya 17.000 m2. Elemen estetik dan design terinspirasi seni tradisional lokal dan bentuk dari daun pohon palm/kurma sekitarnya, sebagai respon kedekatan dengan lingkungan dan menjadi solusi problem iklim.

Selimut bangunan merupakan elemen penentu yang memperlihatkan keterpaduan antara bentuk, struktur dan lingkungan. Bangunan adalah bentuk yang kompak, terdiri dari sebuah hall yang cukup luas berfungsi sebagai penyediaan pencahayaan dan ventilasi alamiah di dalam ruangan.
Bangunan juga terdiri dari struktur beton masif, dengan tiang yang riqid, sekaligus sebagai unsur dekorasi.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana elemen bangunan

One airport square ini merupakan bangunan pertama di Ghana yang menerima penghargaan bintang 4 dalam bidang design oleh Building Council of South Africa (GBCSA).
Seluruh elemen pada bangunan ini bertujuan menjadi design yang terpadu, menyeimbangkan antara arsitektural dan pertimbangan teknis dalam kaitannya dengan bangunan hemat energi dan mengoptimalkan pencahayaan alamiah. Teknologi termodern telah disesuaikan dengan keadaan tradisi lokal, menjadikang design sangat efisien. Semuanya itu menimbulkan ide baru tentang keindahan bahwa ekologi adalah keindahan.

Perhatikanlah gambar arsitektur di bawah ini

Bentuk denah tampak sangat organik dan tidak simetris, tetapi masalah struktur konstruksi dapat terselesaikan dengan baik. Bentuk seperti ini merupakan hasil dari proses design yang cukup panjang. Dari gambar potongan di samping ini, ada perbedaan kontras antara bagian depan bangunan dan dengan bagian belakannya. Bagian belakang seperti standar bangunan biasa untuk bangunan bertingkat, namun bagian depan memiliki tampilan yang agak berbeda. Gambar axonometri ini menjelaskan bagaimana bangungan ini memiliki nilai penting dari aspek fisika bangunan yaitu terkait dengan pencahayaan dan penghawaan alami yang masuk melalui atrium bangunan.

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana denah

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana tampak

 

Karya Mario Cucinella Bandara Di Ghana sistem ventilasi

Green Building Ternyata Juga Disukai Oleh Negara 4 Musim

Semula ada persepsi bahwa green building hanya di negara tropis, yang hanya mengenal 2 musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Di daerah tropis seperti negara kita, justeru panasnya yang lebih panjang dari pada dinginnya. Jadi wajarlah kalau perlu penerapan green building di daerah tropis.

Ternyata fakta yang berkembang membalik persepsi tadi. Nun jauh di sana, di Perancis negara yang memiliki 4 musim justeru menerapkan green building. Green building di Indonesia diterapkan untuk mengurangi efek panas dan juga untuk melakukan penghematan energi, sedangkan di sana tujuan penerapan juga terkait iklim. Saat panas tiba, bangunan bisa mendinginkan, sebaliknya saat dingin tiba bangunan dapat menghangatkan. Perlindungan dari panas dan efek lainnya dari musim salju diantisipasi dengan menerapkan teras atau balkon di sekeliling bangunan. Bahkan, tangga turut serta menjadi komponen pelindung artistik sekaligus memiliki nilai shelter.

Perhatikan pada gambar bagaimana keberadaan tangga yang sengaja di ekspos di luar. Bukan berarti di dalam tidak ada tangga. Saat musim dingin dan salju tangga otomatis tidak terpakai, sehingga tangga di dalam yang berfungsi. Perhatikan juga vegetasi yang ada di antara bidang atap dan dinding, itu bukan sekedar hiasan, tetapi sebagai penjaga stabilitas iklim mikro. Vegetasi juga menjadi komponen view yang menyehatkan mata.

green building di perancis perspektif

green building di perancis

green building di perancis balkon

Sumber : www.archdaily.com

Kritik Terhadap Posisi Mesin AC

Sistem pengkondisian udara atau yang sering disebut AC, telah menjamur di mana-mana. Tampaknya penggunaan AC menjadi bentuk keharusan untuk negara tropis seperti di Indonesia. Sebagian besar kota di Indonesia memiliki kelembaban udara yang tinggi, sehingga selain panas juga keringat yang keluar dari kulit lambat menguap. Kondisi yang sangat tidak menyenangkan kebanyakan orang.

Apakah setelah terpasang AC selesai masalah? Tentu saja tidak. Akan ada masalah lain menyertainya. Bagi pengguna AC, mungkin terpenuhi keinginan berada pada ruangan dengan suhu normal atau sejuk. Namun, dalam hitungan energi terlalu banyak pemborosan terjadi akibat maraknya penggunaan AC. Panas mekanik yang ditimbulkan AC terakumulasi kuat di kota padat. Selain AC bangunan, AC mobil pun turut andil dalam peningkatan suhu perkotaan.

Dalam tulisan ini, saya ingin uraikan sedikit perihal yang tidak ada kaitan langsung dengan masalah termal, walaupun obyek nya AC. Sistem AC terbagi menjadi dua jenis yaitu AC window dan AC split. Jenis pertama sudah jadul dan mulai ditinggalkan karena tidak efektif dalam hal pemasangan. Adapun jenis kedua, banyak menjamur di rumah-rumah penduduk. Pada AC split, ada 2 bagian besar yang penting yaitu bagian diffuser nya yang biasa dipasang sebelah dalam dari ruangan. Bagian ini berisi kontrol elektrik pengaturan suhu, kelembaban dan kekuatan hembusan yang diinginkan. Selain itu juga dapat diatur timer, kontrol waktu kapan AC mati secara otomatis sesuai waktu yang diinginkan. Bagian yang kedua adalah mesin AC, berisi komponen mekanik dan elektrik yang mengolah udara menjadi dingin. Berfungsi sebagai refrigerator. Letaknya di luar ruangan.
Pada bagian kedua ini lah yang ingin saya uraikan lebih lanjut, karena disini ada permasalahan.

Mesin AC selalu dipasang di luar ruangan, tepat nya menempel di dinding bangunan. Pada bangunan publik, layout mesin AC ini sangat mengganggu tampilan bangunan. Mungkin para arsitek banyak yang lalai dan tidak memperhitungkan keberadaan AC ini. Di satu sisi mereka bersusah payah memikirkan bentuk dan fasade bangunan, ternyata di sisi lain pengguna bangunan memasang mesin AC sembarangan. Estetika bangunan akhirnya menjadi korban. Tengok saja apartmen atau rumah susun di Jakarta, perhatikan posisi mesin AC nya. Sungguh ini sangat mengganggu visual. Demikian juga di rumah sakit. Tidak terlihat sedikit pun perencanaan yang disiapkan sejak awal di mana posisi mesin AC. Akibatnya yang mengatur posisi AC adalah tukang AC. Pemilik atau pengguna bangunan hanya meninggalkan perintah untuk memasang.

Ironisnya, mesin AC dipasang di bawah jendela kaca. Kenapa ironis? Apa yang aneh?
Bagi yang faham akan membenarkan itu ironis, bagi yang tidak faham di sini penjelasan ringkasnya. AC, fungsinya di negara kita untuk mendinginkan ruangan agar terpenuhi suhu ruang yang nyaman antara 24-26 derajat celcius. Sementara jendela kaca adalah sumber kalor terbesar bagi ruangan, karena menyerap radiasi kalor dari sinar matahari. Saat mesin AC bekerja, panas mekaniknya terus meningkat dan tentu akan merambat lewat dinding, kemudian masuk ke dalam ruangan. Jadi AC bekerja keras untuk mendinginkan ruangan, sementara jendela kaca dan mesin AC mensuplai panas ke dalam ruangan. Boros nggak?

Masalah lain, hampir tidak pernah didapati atau jarang terlihat posisi mesin AC dipasang secara terpadu dan terencana. 2 ruangan yang saling bersebelahan persis, memiliki mesin AC yang dipasang tidak sama tinggi. Bagaimana kalau 10 ruangan berjejer dan ke 10 ruangan tersebut memiliki mesin AC yang dipasang tidak seimbang satu sama lain? Belum lagi masalah merk yang berbeda-beda. Ada sharp, ada LG, sebelahnya changong, sebelahnya lagi panasonic, di sananya polytron, entah merk apalagi nanti yang akan dipasang. Beda merk, tentu beda bentuk, bisa jadi beda ukuran.

Masalah lain lagi, bangunan tidak terencana secara tuntas bisa dilihat dari perencanaan sistem AC. Perhatikan bagaimana tampilan kabel dan selang AC. Sangat merusak pandangan mata. Gaya arsitektur utilitarian sekalipun tidak asal-asalan mengeskpose jaringan utilitas. Arsiteknya penuh kematangan dan kejelian dalam memperlihatkan jaringan utilitas termasuk jaringan AC.

Sebenarnya masalah AC ini dapat tertangani dengan baik dan tidak menimbulkan masalah kalau di awal design sang arsitek benar-benar menyelesaikan persoalan utilitas sampai tuntas. Arsitek tidak hanya mengedapan bentuk, tampilan, kekokohan struktur, tetapi juga sistem utilitas sebagai penyokong aktivitas mutlak diperhatikan. Tentu tidak terjadi mesin AC di pasang di bawah jendela. Tentu saja kalau sudah diprediksi akan banyak penggunaan AC, lebih baik menggunakan sistem AC sentral, sehingga tidak ada lagi pemandangan mesin AC menempel di dinding bagaikan pameran beragam merk. Dengan sistem AC sentral, distribusi udara dari mesin AC cukup melalui ducting di atas plafond dialirkan ke setiap ruangan. Kalaupun tidak sanggup dalam biaya pengadaan sistem AC sentral, masih ada solusi lain. Sediakan area tersembunyi sebagai zona penempatan mesin AC. Dalam 1 kluster ruangan ditempatkan 1 zona, demikian juga kluster lainnya.

Cerdas Dalam Menghemat Energi

Dari 4 kata pada judul artikel ini, 2 saja yang perlu dibahas, yaitu kata cerdas dan energi. Cerdas merupakan gambaran kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu [berfikir, bertindak, berbuat, berucap] dengan tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada atau kondisi yang akan datang. Hasil tindakan orang yang cerdas akan berdampak positif kepada orang lain. Cerdas atau tidaknya seseorang tidak tergantung dengan tingkat pendidikan. Belum tentu orang yang tidak sekolah atau tidak sampai belajar di sekolah tingkat tinggi kecerdasannya rendah. Bisa jadi yang sekolah tinggi kecerdasannya pas-pasan atau rendah. Perlu juga diketahui kecerdasan berbeda dengan kepintaran.

Kata yang kedua adalah energi. Meskipun hanya satu kata, energi mengandung bahasan yang luas, tergantung dengan kacamata disiplin ilmu siapa yang akan membahasnya. Dalam tulisan ini, energi yang dimaksud hanya seputar disiplin ilmu Arsitektur, seperti energi listrik, kalor, bunyi, cahaya. Itupun masih perlu dibatasi lagi dan pembahasannya tidak masuk ke dalam rumus-rumus yang memusingkan. Intinya energi adalah segala bentuk pengeluaran daya/tenaga untuk menjamin tetap berlangsungnya aktivitas di dalam bangunan arsitektur.

Setelah terurai dua hal tersebut di atas tadi, sekarang mulai masuk pada inti artikel ini. Makna judul mengandung ajakan untuk berhemat dalam penggunaan energi. Upaya penghematan energi itu harus diimbangi dengan kecerdasan. Subyek yang diharapkan cerdas adalah masyarakat secara luas. Masyarakat memerlukan pengetahuan wawasan tentang apa saja bentuk pengeluaran energi pada bangunan dan bagaimana cara menghematnya.

Bentuk energi yang dikeluarkan pada bangunan:

  1. Pra konstruksi
  2. Konstruksi
  3. Pasca huni

Rincian energi pasca huni:

  1. Perangkat elekrik dan mekanik [kulkas, strika, oven, kompor listrik, mixer, blender, mat listrik, dispenser, pompa air, peralatan kerja tukang, solder, mesin cuci, vacum cleaner, komputer/laptop, charger, tape, televisi, vcd, kipas angin, alat olah raga indoor]
  2. Sistem AC [AC split, windows]
  3. Sistem Cahaya [lampu pijar, lampu SL, TL, Halogen, LED)

Berdasarkan hasil penelitian, dari semua yang tersebut pada tiga kelompok tadi, yang terbesar pengeluaran energinya adalah sistem AC. Berarti kita harus perhatian terhadap obyek yang satu ini. Harus cerdas bagaimana menyiasatinya agar energi tidak boros. Bagaimanapun hebatnya atau mahalnya AC yang digunakan tetap saja masih terkait dengan jaringan listrik yang disediakan PLN. Padahal PLN saat ini dan dari tahun-tahun sebelumnya selalu mengalami krisis. Maksudnya ketersediaan energi listrik untuk bisa melayani masyarakat secara luas tidak seimbang dengan jumlah kebutuhan penggunanya. Byarfet, istilah sering padamnya listrik di perkotaan menggambarkan krisis listrik yang terjadi. Sekali lagi, AC adalah sumber pengeluaran terbesar dari energi listrik pada bangunan.

Pengalaman dari mereka yang terbiasa menggunakan AC di rumahnya, daya listrik 1300 watt saja tidak sanggup melayani kebutuhan rumah yang memiliki AC 2 buah. Setidaknya rumah tersebut memerlukan daya sebesar 2,200 watt. Rata-rata pengeluaran mereka 600-750 ribu per bulan. Sebab utamanya adalah adanya AC. Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk membayar listrik, tetap saja pemerintah melakukan himbauan untuk melakukan penghematan energi.

Selain AC, komponen lain yang mengeluarkan banyak energi adalah lampu. Meskipun kelihatannya tidak besar, tetapi akumulasi seluruh lampu yang digunakan tentunya daya menjadi besar. Lampu terus menerus menyala selama 13 jam lebih per harinya. Belum termasuk kalau lupa mematikannya. Berdasarkan letaknya lampu terbagi menjadi tiga :

  1. Lampu interior
  2. Lampu eksterior (teras depan, samping, selasar)
  3. Lampu taman

 

Anda bisa kalkulasi sendiri ada berapa jumlah lampu yang dimiliki. Kemudian tinggal dijumlahkan dengan nilai daya lampunya. Lampu itulah yang terus menyala setiap malam hari atau siang hari dengan mendung gelap atau justru menyala 24 jam karena ruangannya tidak memungkinkan cahaya luar secara maksimal masuk ke dalam ruangan.

2 hal yang telah diuraikan di atas tadi yaitu AC dan lampu menjadi obyek utama dalam penghematan energi.

Bagaimana caranya?

AC

  1. Jangan dibenamkan mindset anda bahwa ruangan harus ber-AC. Kalau mindsetnya sudah kuat harus ber-AC maka akan sulit untuk berhemat dari sisi ini. Terlebih lagi anak-anak, karena mengikuti pola orang tuanya selalu pakai AC, maka si-anak akan tumbuh besar pada situasi termal yang diolah oleh AC. Pada gilirannya jika anak tadi berada pada lingkungan termal yang berbeda maka akan sulit untuk beradaptasi dengan cepat. Anak sulit tidur, kemudian jatuh sakit.
  2. Gunakan AC pada saat kondisi termal rumah cukup panas saja. Iklim tropis di Indonesia, berselang-seling antara panas dan dingin. Pada musim panas pun biasanya ada kondisi termal yang nyaman. Untuk membantu menggantikan sementara peran AC cukup dengan kipas angin.
  3. Bagi yang berencana membangun rumah, perhatikanlah bagaimana sistem sirkulasi udara di dalam rumah. Anda cukup lihat denah rumah yang telah dirancang oleh arsitek. Perhatikan jendela dan ventilasinya; a) apakah ada jendela atau ventilasi yang saling berhadapan? b) apakah jendela ruangan berhadapan dengan ruang luar secara langsung? c) apakah ukuran jendela cukup besar? d) apakah jenis jendelanya kipas atau jungkit atau kaca mati? Ketahuilah bahwa setiap hari kalor terjebak di dalam rumah dimulai sekitar pukul 09.00 pagi dan akan berangsur hilang paling cepat sekitar pukul 21.00 (tergantung material dindingnya). Kalor tadi datang dari arah dinding, jendela, dan atap, sebagai efek radiasi sinar matahari. Kalor yang terjebak di dalam rumah harus bisa keluar dengan alamiah yaitu dengan sistem ventilasi silang. Maksudnya ada celah atau rongga pada dinding yang bisa menjamin keluar masuknya aliran udara atau hembusan angin. Kalor akan terbawa keluar oleh aliran angin, sehingga ruangan menjadi sejuk. Bagi yang menggunakan AC, kalor yang terjebak inilah yang dikeluarkan oleh sistem AC. Tetapi AC bukan penyelesaian alamiah, justru menyebabkan pemborosan energi.
  4. Bagi yang sudah memiliki rumah, maka perhatikanlah prinsip ke-3 di atas. Kalau memang tidak ada sistem ventilasi silang, sebaiknya mengalah sedikit untuk direhab. Jangan tergesa-gesa untuk membeli AC.
  5. Sekali lagi AC bukan solusi. Ada lagi upaya yang bisa menguatkan penghematan energi yaitu peran pohon dan vegetasi di halaman rumah. Tanaman memiliki peran menurunkan kalor, mematahkan efek radiasi sinar matahari, membentuk bayangan peneduh. Selain itu produksi oksigen dari resfirasi daun di siang hari akan menambah kesejukan iklim di sekitarnya. Tanaman di dalam rumah pun juga berperan memperbaiki iklim mikro.
  6. Model atap dan tritisan serta kanopi juga berperan sebagai pematah efek radiasi sinar matahari. Jika model atap yang ujungnya tidak melewati dinding berarti tidak ada perannya. Atap yang menjulur keluar dinding hingga 1 meter dari dinding menjadi pelindung utama dinding dan jendela dari pengaruh radiasi sinar matahari. Jenis atap inilah yang cocok untuk iklim tropis.
  7. Peredam radiasi matahari yang lain bisa dalam bentuk sun shading atau pun sun screen. Apapun istilahnya, maksudnya sama yaitu melindungi sisi bangunan terkena radiasi sinar matahari secara langsung.

Masih ada lanjutan dari pembahasan ini. InsyaAllah akan diterbitkan pada waktu dekat ini.

Arsitek Termalis

Judul artikel ini untuk mensifati sisi lain dari para arsitek. Kebanyakan khalayak memandang arsitek adalah profesi yang bergengsi, pakar bangunan, jago rancangan, dan beberapa jargon lainnya yang melekat. Pada alur lain arsitek ternyata juga memperhatikan pelajaran dari alam yang penuh dengan sumber inspirasi. Meskipun hanya sedikit yang berminat ke arah jalur ini. Salah satu topik pelajaran alam adalah aspek klimatologi. Iklim, suhu, udara, angin, merupakan aspek kehidupan yang telah berjalan dengan sendirinya tanpa diatur oleh manusia tetapi dikendalikan langsung oleh Penciptanya yaitu Allah Ta’alaa. Adanya atau tanpa adanya arsitek aspek klimatologi tetap berjalan dengan tatanan yang sudah ditetapkan.

Di masa lalu, suasana termal cukup menyenangkan. Udara yang dihirup cukup segar dan menyehatkan pernafasan. Berbeda jauh sekali dengan suasana sekarang, semakin meningkat penyakit pernafasan, semakin banyak manusia kepanasan. Dampaknya adalah muncul upaya beradaptasi dengan bantuan kecanggihan intelektual manusia. Jika udara panas solusinya pasang AC atau pasang kipas angin. Sebenarnya jika mau sedikit bersabar diluar sana terdapat solusi alamiah, hembusan angin masih berlimpah. Namun, sifat ketidaksabaran manusia terhadap udara panas didukung oleh teknologi pengkondisian udara.

Di ruang manakah yang panas? Tentu jawabnya di dalam bangunan. Di luar bangunan pun sebetulnya juga panas, tetapi masih banyak pohon pelindung dan angin berhembus sehingga efek udara panas diminimalisir oleh kedua faktor tersebut. Sangat disesalkan kondisi sekarang pepohonan pun semakin berkurang, ruang terbuka hijau semakin terdesak pembangunan, angin pun terhalang produk arsitektural yang menjulang. Ruang dalam dan ruang luar sekarang sudah semakin panas. Solusi instan sudah tampak di hadapan kita. AC, AC, AC ! Instan, cepat, praktis, murah, mudah didapatkan. Tidak usah terlalu muluk-2, tidak perlu pusing memikirkan solusi udara panas. Kata “mereka” time is money, buat apa habiskan waktu merancang bangunan agar sejuk di dalamnya kalau toh kondisi iklimnya sudah panas? Kata “mereka” lagi, udara panas akibat global warming, urusannya mendunia, kita tidak bisa mencarikan solusinya, berat!. Mendingan sibukkan dengan permainan bidang, tampilkan gaya arsitektur kekinian, puas dipandang mata, klien puas, anda senang dapat $$$ Rp. Natural? No way, no comment…

Continue reading “Arsitek Termalis”