Terang Langit, Merupakan Sumber Cahaya Alamiah yang Berlimpah Ruah

Meskipun pakar fisika bangunan berbeda pendapat tentang nilai kekuatan penerangan di ruang terbuka, tetap saja angka terkecil dari pendapat mereka 5000 lux merupakan nilai yang sangat kuat. Tidak ada lampu yang mampu menyamai kekuatan penerangan alamiah tersebut. Dalam perhitungan, pedoman yang dijadikan sumber cahaya adalah terang langit. Suatu keadaan langit bersih, biru tanpa awan, atau langit tertutup awan putih bersih. Rupanya 2 keadaan ini sebagai sumber cahaya alamiah yang bermanfaat bagi umat manusia di bumi. Subhanallah.

Lucu saja kalau ternyata ada yang menutup diri dari penerangan alamiah. Meminimalkan jendela sehingga ruang dalam bangunan menjadi gelap atau remang-2 di siang hari. Syarat kekuatan penerangan minimal 150 lux saja, padahal di luar sudah tersedia 5000 lux, tidak sampai 10% nya. Beda halnya dengan kondisi bangunan yang terhimpit di antara bangunan lain atau bangunan yang berdiri diatas kavling sempit, wajar jika mendapati problem pencahayaan alamiah. Itu pun masih bisa disiasati dengan memanfaatkan cahaya dari atas atap.

Ada tiga istilah seputar cahaya alamiah ini yang terkait dengan bangunan arsitektur yaitu skylight, atrium dan void. Bagi awam arsitektur perlu juga mengetahui definisinya. Skylight kalau diartikan secara harfiah artinya cahaya langit. Tapi makna dalam arsitektur adalah celah di tengah ruangan yang sengaja direncanakan untuk memasukkan cahaya alamiah atas masuk ke dalam bangunan.

Skylights artinya mirip dengan atrium. Namun atrium lebih mengarah kepada fungsi ruang dalam yang berfungsi sebagai hall menampung banyak pengguna. Bagian atasnya sengaja dipasang kaca agar cahaya dari atas bisa maksimal menembus ke dalam ruangan hingga ke lantai dasar. Terkadang atrium juga sebagai pengarah sirkulasi pengunjung di dalam fasilitas publik. Sepanjang sirkulasi yang berbentuk koridor, bagian atasnya juga demikian.

Void, artinya rongga. Yaitu lubang besar di dalam ruangan menerus ke atas hingga beberapa lantai. Dengan adanya void, orang yang berada di lantai dasar bisa melihat orang yang ada di lantai atas. Void lebih kepada fungsi view, dan tidak mutlak harus tersedia cahaya dari atas.

Cerdas Dalam Menghemat Energi (bagian ke-2)

Masih melanjutkan uraian tentang AC lanjutan dari tulisan bagian pertama.

  1. Aliran kalor yang turun dari atap terus terperangkap di plafond dan perlahan tapi pasti masuk ke dalam ruangan. Besarnya kalor tergantung jenis atapnya. Kalau atap metal menjadi sumber panas terbesar diantara bahan penutup atap lainnya. Kalau mau adem, pakai genteng tanah liat atau minimal genteng beton. Cuma ada problem karena beratnya. Jenis atap yang lumayan untuk meredam panas dan bunyi hujan seperti produk dari ondulin dan beberapa merk lain.
  2. Jenis penutup plafon pun dapat mempengaruhi kalor. Jika menggunakan jenis kalsiboard dan nusaboard lebih panas jika dibandingkan gybsum. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
  3. Sebagai media elektrik pengolah udara, AC perlu perawatan secara berkala. Udara segar yang diambil dari luar kemudian membuang udara dan kalor dari dalam menjadi tugas berat AC karena yang tersedot juga material padat tetapi halus, seperti debu dan partikel sejenisnya. Terlebih lagi jika musim asap di musim kemarau, tugas AC menjadi lebih berat lagi. Jika service berkala kondisi mesin AC menjadi ringan dan beban listrik pun menjadi berkurang. Di sisi lain AC bersih mempengaruhi pada kesehatan pernafasan. Ulasan ini bukanlah dukungan atau rekomendasi untuk menggunakan AC, tetapi sebagai saran bagi para pengguna untuk lebih cerdas dalam penggunaan dan perawatan.
  4. Terkait jenis AC, sekarang yang menjadi tren adalah AC tipe split. Mudah dan flesibel untuk meletakkan mesinnya, karena terpisah dengan diffusernya. Dinding pun tidak terlalu banyak yang harus dilubangi, berbeda dengan AC Windows. Pilihlah AC split yang menggunakan daya rendah.
  5. Kekuatan AC cukup beragam ½ pk, ¾ pk, 1 pk, 1,5 pk dan 2 pk. Pilihlah sesuai kebutuhan ruang. Maksudnya sesuai berapa volume ruangan yang ada. Misalnya ukuran kamar 3 x 4 dengan tinggi plafond sekitar 3 m bisa menggunakan AC ½ pk saja. Tetapi tergantung juga beban kalor di dalam ruang tersebut, jika ruang tersebut ada beberapa orang pengguna (misalnya di sebuah kantor) dan di dalamnya juga banyak perangkat komputer, maka perlu dipertimbangkan menggunakan AC ¾ pk atau lebih. Sebenarnya ada rumus untuk menghitung seberapa besar kekuatan AC yang ditunakan, tetapi bukan pada artikel di sini pembahasannya.

Lampu
Orang yang cerdas dalam menggunakan lampu berarti ia termasuk cerdas dalam menghemat energi. Bagaimana caranya?

  1. Tanamkan mindset anda bahwa lampu mestinya menyala di malam hari saja atau siang hari tetapi kondisi mendung yang gelap. Pemandangan yang lucu dan lugu jika masih saja ada bangunan menggunakan lampu di siang hari. Berarti ada yang salah dari bangunan itu.
  2. Saat ini kita sudah kebanjiran produk lampu SL (soft light) yang menghasilkan warna cahaya sejuk. Lampu ini cukup diminati karena mudah dalam pemasangan berbeda dengan tipe seniornya yaitu lampu TL (tube lamp) atau yang biasa disebut neon. varian dan merk lampu SL juga banyak, hingga membuat bingung orang yang akan membelinya.
  3. Saran dalam memilih lampu SL: 1) pilih yang berkualitas, berlabel SNI; 2) Jangan terpengaruh harga murah. Bisa jadi dalam 1 tahun anda harus ganti lampu 4 kali. Selain itu, lampu murah biasanya kualitas dan kekuatan cahayanya rendah. 3) lihat di kemasannya nilai lumen nya, jangan lihat nilai wattnya. Seperti philips mengeluarkan lampu dengan kemampuan 61 lumen/watt. Jika anda membeli lampu philips sebesar 15 watt berarti besarnya aliran cahayanya sebesar 61 x 15 = 915 lumen. Jika lampu ini menerangi bidang seluas 4 m2 maka kekuatan cahayanya adalah 915 lumen/6m2 = 152.50 lux. Nilai ini sudah cukup terang untuk ukuran kamar seluas 6 m2. Hanya dengan energi 15 watt, sudah mencukupi untuk penerangan di ruangan 6m2. Bisa dibandingkan dengan lampu pijar, untuk dapat mencapai aliran cahaya yang setara itu memerlukan energi sebesar 75 watt. Oleh karenanya wajarlah jika PLN menghimbau masyarakat tidak menggunakan lampu pijar lagi sebagai sumber penerangan rumah. Penggunaan lampu SL dapat menghemat energi 3 kali lipat.
  4. Selain cerdas memilih lampu, juga harus cerdas memilih cat dinding dan plafond ruangan. Cahaya lampu selain langsung dipancarkan ke obyek juga ada yang dipantulkan ke dinding dan plafond. Manfaatkanlah cahaya pantulan tersebut. Gunakanlah cat yang berwarna muda. Faktor refleksi (pantulan) cahaya warna muda memiliki nilai 70% dan yang agak gelap 30 %. Pemilihan warna tergantung selera pengguna, dan perlu disesuaikan bagaimana kebutuhan cahaya. Jika konsep penghematan energi, maka tidak ada pilihan lain, kecuali harus menggunakan warna muda, seperti putih, hijau muda, kuning muda, dst.
  5. Faktor susunan dan kedudukan lampu pun dapat berpengaruh pada kualitas penerangan. Hal tersebut disebut dengan sistem iluminasi. Pada umumnya masyarakat menggunakan sistem iluminasi langsung yaitu 90 – 100% cahaya langsung dipancarkan dari lampu. Kelemahannya adalah dapat menimbulkan bayangan dan bisa menyilaukan. Sebaliknya, ada sistem iluminasi tidak langsung, yaitu cahaya lampu dipantulkan 90-100% ke plafond atau dinding. Dari sistem ini cahaya yang menerangi ruangan merupakan cahaya pantulan. Sistem ini cocok untuk ruang kantor, studio gambar, dll. Sebenarnya ada lagi 3 sistem iluminasi, tetapi saya merasa tidak perlu menjabarkannya dalam kesempatan ini.
  6. Khusus lampu luar, seperti di teras, lampu taman atau lampu jalan, gunakan timer yang ditambahkan pada MCB (miniature circuit breaker). Anda cukup mengatur pada jam berapa lampu menyala dan kapan lampu mati. Misalnya anda inginkan lampu luar menyala pada pukul 6 sore dan mati secara otomatis pada pukul 6 pagi. Dengan sistem timer ini maka anda tidak perlu khawatir lupa mematikan lampu luar.

Barsambung lagi insyaAllah ke bagian 3